Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober

Kedelapan Martir Kanada Santo Jean de Brébeuf dan Santo Isaac Jogues

Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober: Saksi Iman yang Setia hingga Mati

Ringkasan: Pesta Kedelapan Martir Kanada pada 19 Oktober mengenang Santo Jean de Brébeuf, Santo Isaac Jogues, Santo Gabriel Lalemant, Santo Antoine Daniel, Santo Charles Garnier, Santo Noël Chabanel, Santo René Goupil, dan Santo Jean de Lalande. Para Martir Amerika Utara ini dikenang karena kesetiaan mereka dalam karya pewartaan Injil pada abad ke-17. Teladan keberanian, pengorbanan, dan ketekunan mereka mengajak umat Katolik untuk tetap setia kepada Kristus serta berani menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap tanggal 19 Oktober, Gereja Katolik mengenang Kedelapan Martir Kanada, sekelompok misionaris dan rekan mereka yang menyerahkan hidup demi pewartaan Injil di Amerika Utara pada abad ke-17. Mereka juga dikenal sebagai Martir Amerika Utara (North American Martyrs). Keenam imam Yesuit dan dua rekan awam ini berkarya dalam keadaan yang sangat berat, menghadapi perjalanan panjang, penyakit, perbedaan bahasa dan budaya, konflik antarkelompok, serta ancaman terhadap keselamatan mereka.

Kedelapan martir tersebut adalah Santo Jean de Brébeuf, Santo Isaac Jogues, Santo Gabriel Lalemant, Santo Antoine Daniel, Santo Charles Garnier, Santo Noël Chabanel, Santo René Goupil, dan Santo Jean de Lalande. Kisah mereka menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus bukan hanya berarti menerima dan memahami ajaran-Nya, tetapi juga bersedia memberikan seluruh hidup dalam pelayanan. Karena itu, peringatan Kedelapan Martir Kanada menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk merenungkan kesetiaan, keberanian, pengorbanan, dan kasih dalam menjalankan panggilan hidup.

Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Kedelapan Martir Kanada?

Kedelapan Martir Kanada merupakan para misionaris Katolik yang berkarya di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Kanada dan Amerika Serikat pada abad ke-17. Enam di antara mereka adalah imam Serikat Yesus, sedangkan dua lainnya merupakan rekan awam yang membantu karya misi. Mereka terutama melayani masyarakat Huron-Wendat dan berusaha membangun hubungan melalui pembelajaran bahasa, pemahaman budaya, serta kehidupan bersama masyarakat setempat.

Karya misi tersebut berlangsung dalam situasi yang kompleks. Masyarakat pribumi menghadapi peperangan, perubahan hubungan politik, persaingan perdagangan, serta epidemi yang membawa dampak sangat besar. Para misionaris juga harus menghadapi kondisi alam yang keras dan perjalanan yang sulit. Dalam konteks sejarah seperti inilah mereka menjalankan tugas pewartaan Injil hingga akhirnya beberapa di antara mereka mengalami kemartiran.

Nama Kedelapan Martir Kanada

Kedelapan orang kudus yang diperingati bersama adalah:

  1. Santo Jean de Brébeuf

  2. Santo Isaac Jogues

  3. Santo Gabriel Lalemant

  4. Santo Antoine Daniel

  5. Santo Charles Garnier

  6. Santo Noël Chabanel

  7. Santo René Goupil

  8. Santo Jean de Lalande

Mereka memiliki pengalaman pelayanan yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh iman kepada Kristus dan kesediaan untuk melayani di tengah keadaan yang penuh risiko.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap

Santo Jean de Brébeuf

Santo Jean de Brébeuf merupakan salah satu tokoh paling dikenal dalam sejarah Martir Amerika Utara. Ia lahir di Normandia, Prancis, pada tahun 1593 dan kemudian bergabung dengan Serikat Yesus. Pada tahun 1620-an ia diutus ke Amerika Utara untuk menjalankan karya misi.

Brébeuf berusaha memahami kehidupan masyarakat Huron-Wendat secara mendalam. Ia mempelajari bahasa mereka dan berusaha menyampaikan iman dengan cara yang dapat dipahami oleh masyarakat setempat. Pengalaman tersebut tidak selalu mudah. Perjalanan dilakukan melewati hutan dan sungai, sementara musim dingin, kekurangan makanan, serta penyakit menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Meski mengalami berbagai kesulitan, Brébeuf tetap melanjutkan pelayanan. Pada tahun 1649, ketika situasi politik dan militer di wilayah Huron semakin memburuk, sebuah permukiman diserang. Brébeuf ditangkap dan mengalami penyiksaan berat sebelum meninggal sebagai martir pada 16 Maret 1649.

Bagi Gereja, kesaksiannya menjadi gambaran mengenai keteguhan seorang misionaris yang tetap bertahan dalam panggilan meskipun menghadapi penderitaan yang sangat berat.

Baca juga: Santo Lukas Pengarang Injil – Santo 18 Oktober

Santo Isaac Jogues

Santo Isaac Jogues lahir di Orléans, Prancis, pada tahun 1607. Ia menjadi imam Yesuit dan diutus ke Amerika Utara pada dekade 1630-an. Di wilayah misi, ia menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan di Eropa. Ia melakukan perjalanan panjang, melayani masyarakat pribumi, dan menghadapi kondisi alam serta keamanan yang tidak menentu.

Pada tahun 1642, Jogues dan beberapa rekannya ditangkap oleh kelompok Mohawk. Selama masa penahanan, ia mengalami penyiksaan yang menyebabkan luka berat dan kerusakan permanen pada tangannya. Setelah akhirnya memperoleh kebebasan dan kembali ke Prancis, Jogues memiliki alasan yang kuat untuk tidak kembali ke wilayah tersebut.

Namun, ia justru memilih kembali ke Amerika Utara. Pada tahun 1646, ia kembali memasuki wilayah Mohawk dalam sebuah misi yang berkaitan dengan pelayanan dan hubungan damai. Situasi kemudian memburuk dan Jogues dibunuh pada 18 Oktober 1646.

Kesediaannya untuk kembali setelah mengalami penderitaan menunjukkan betapa kuatnya komitmennya terhadap panggilan. Bagi umat Katolik, kisah Isaac Jogues menjadi teladan mengenai keberanian untuk tetap menjalankan tugas meskipun pengalaman masa lalu meninggalkan luka yang mendalam.

Baca juga: Santo Paulus dari Salib, Pengaku Iman – 19 Oktober

Santo René Goupil

Santo René Goupil adalah seorang awam yang membantu para misionaris Yesuit. Ia memiliki keterampilan dalam bidang medis dan menggunakan kemampuannya untuk membantu orang-orang yang dilayani dalam karya misi.

Goupil berada bersama Isaac Jogues ketika mereka ditangkap pada tahun 1642. Selama masa penahanan, ia mengalami perlakuan keras dan akhirnya dibunuh pada 29 September 1642. Ia dikenal sebagai salah satu martir pertama dari kelompok Martir Amerika Utara.

Kisah René Goupil mengingatkan bahwa panggilan menuju kekudusan tidak hanya berlaku bagi imam atau anggota hidup bakti. Seorang awam juga dapat memberikan kesaksian iman melalui pekerjaan, pelayanan, keberanian, dan kesediaan membantu sesama. Kemampuan yang dimiliki seseorang dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kasih Kristus kepada orang lain.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Seniin, 19 Oktober 2026 Lukas 12: 13-21

Santo Jean de Lalande

Santo Jean de Lalande merupakan seorang awam yang membantu karya para misionaris. Pada tahun 1646, ia mendampingi Isaac Jogues dalam perjalanan menuju wilayah Mohawk.

Perjalanan tersebut berlangsung dalam situasi yang berbahaya. Setelah Isaac Jogues dibunuh, Lalande juga kehilangan nyawanya tidak lama kemudian. Ia dikenang sebagai seseorang yang tetap menjalankan tugasnya meskipun mengetahui bahwa perjalanan tersebut memiliki risiko besar.

Teladan Jean de Lalande menunjukkan bahwa keberanian iman tidak selalu tampak dalam tindakan besar. Kadang-kadang keberanian diwujudkan melalui kesediaan menemani, membantu, dan tetap setia kepada tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

Santo Antoine Daniel

Santo Antoine Daniel lahir di Prancis pada tahun 1601 dan menjadi imam Yesuit. Ia berkarya bertahun-tahun di tengah masyarakat Huron-Wendat dan menjalankan pelayanan pastoral dalam kondisi yang tidak mudah.

Pada 4 Juli 1648, sebuah serangan terjadi di desa tempat Daniel melayani. Dalam keadaan berbahaya tersebut, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai imam dan berusaha melayani umat yang berada dalam situasi genting. Ia akhirnya terbunuh dalam serangan tersebut.

Kemartiran Antoine Daniel memperlihatkan sosok seorang gembala yang tidak meninggalkan orang-orang yang dipercayakan kepadanya ketika bahaya datang. Kesetiaannya mengingatkan bahwa pelayanan Kristiani bukan hanya tentang berada bersama orang lain ketika keadaan nyaman, tetapi juga tentang kesediaan hadir ketika mereka mengalami penderitaan.

Santo Gabriel Lalemant

Santo Gabriel Lalemant melanjutkan karya misi di Amerika Utara setelah menjalani pembinaan sebagai anggota Serikat Yesus. Ia bekerja bersama Jean de Brébeuf dalam pelayanan kepada masyarakat Huron-Wendat.

Pada tahun 1649, ketika situasi di wilayah tersebut semakin berbahaya, Lalemant ditangkap bersama Brébeuf. Ia mengalami penyiksaan dan akhirnya meninggal sebagai martir pada 17 Maret 1649, sehari setelah kematian Brébeuf.

Masa pelayanan Lalemant di wilayah tersebut tidak sepanjang beberapa rekannya. Namun kisahnya memperlihatkan bahwa nilai sebuah pelayanan tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya seseorang berkarya. Kesediaan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dan melayani dengan setia merupakan bagian penting dari panggilan menuju kekudusan.

Santo Charles Garnier

Santo Charles Garnier lahir pada tahun 1606 di Prancis. Ia berasal dari keluarga terpandang, tetapi memilih meninggalkan kenyamanan hidup untuk menjadi imam dan misionaris.

Garnier berkarya selama bertahun-tahun di antara masyarakat Huron-Wendat. Ia dikenal memiliki perhatian terhadap orang-orang yang dilayaninya dan tetap bertahan meskipun situasi keamanan semakin memburuk.

Pada Desember 1649, komunitas tempat ia berkarya mengalami serangan. Garnier terbunuh ketika sedang berusaha melayani orang-orang yang terluka. Kematiannya menunjukkan keberanian seorang pelayan yang memilih tetap hadir di tengah penderitaan.

Teladan Charles Garnier dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelayanan Kristiani menuntut kesediaan untuk melihat kebutuhan orang lain dan tidak segera menjauh ketika keadaan menjadi sulit.

Santo Noël Chabanel

Santo Noël Chabanel memiliki pengalaman misi yang agak berbeda. Ia menghadapi kesulitan besar dalam mempelajari bahasa dan menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat tempat ia melayani. Tidak seperti beberapa rekannya yang relatif lebih mudah beradaptasi, Chabanel harus berjuang keras untuk menjalankan tugasnya.

Namun kesulitan tersebut tidak membuatnya meninggalkan panggilannya. Ia bahkan menyatakan tekad untuk tetap bertahan dalam karya misi meskipun pelayanan itu terasa berat.

Chabanel meninggal pada Desember 1649. Kisahnya memberikan pelajaran penting mengenai arti kesetiaan. Dalam kehidupan iman, tidak semua pelayanan menghasilkan keberhasilan yang langsung terlihat. Ada kalanya seseorang harus terus melakukan yang baik meskipun merasa kurang mampu, tidak dihargai, atau belum melihat hasil dari jerih payahnya.

Kesetiaan seperti itulah yang menjadi salah satu pesan penting dari kehidupan Noël Chabanel.

Tantangan Misi di Amerika Utara

Untuk memahami kisah Kedelapan Martir Kanada, kita perlu melihat kondisi sejarah tempat mereka berkarya. Amerika Utara pada abad ke-17 sangat berbeda dari Eropa. Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki, menggunakan kano, atau melewati hutan dan sungai dalam kondisi yang berat. Musim dingin dapat berlangsung panjang dan persediaan makanan tidak selalu mencukupi.

Selain kondisi alam, para misionaris hidup dalam situasi konflik yang kompleks. Peperangan antarkelompok pribumi, persaingan perdagangan, serta kepentingan kolonial Eropa ikut memengaruhi kehidupan masyarakat. Epidemi juga membawa dampak yang sangat besar bagi komunitas pribumi yang tidak memiliki kekebalan terhadap sejumlah penyakit yang datang dari Dunia Lama.

Karena itu, kisah para martir perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas. Mereka dapat dikenang sebagai saksi iman, tetapi sejarah karya misi mereka juga tidak dapat dipisahkan dari perjumpaan budaya, kolonisasi, peperangan, epidemi, dan perubahan besar yang dialami masyarakat pribumi Amerika Utara.

Pendekatan historis semacam ini membantu umat membaca kisah para martir secara lebih utuh, sekaligus menghormati pengalaman masyarakat yang mereka jumpai.

Mengapa Mereka Disebut Martir?

Dalam tradisi Katolik, martir adalah seseorang yang memberikan kesaksian iman dengan tetap setia kepada Kristus hingga menghadapi kematian. Istilah martir berasal dari bahasa Yunani martys, yang berarti “saksi”.

Kemartiran bukan sekadar kematian yang tragis. Intinya adalah kesetiaan terhadap iman dalam menghadapi ancaman dan penderitaan. Kedelapan Martir Kanada dikenang karena mereka tetap menjalankan panggilan misioner dalam situasi yang sangat berbahaya.

Mereka tidak mencari kematian. Namun ketika menghadapi risiko, mereka tidak meninggalkan panggilan untuk melayani. Kesediaan tersebut menjadi bagian penting dari kesaksian iman yang kemudian dikenang oleh Gereja.

Kanonisasi Kedelapan Martir Kanada

Penghormatan terhadap para Martir Amerika Utara berkembang dalam Gereja selama berabad-abad. Kedelapan martir tersebut dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada tahun 1925.

Kemudian pada 29 Juni 1930, Paus Pius XI mengkanonisasi mereka sebagai santo. Sejak saat itu, penghormatan kepada para Martir Amerika Utara semakin berkembang, khususnya di Kanada dan Amerika Serikat.

Dalam kalender liturgi, tanggal peringatan dapat berbeda menurut wilayah. Di Amerika Serikat, para Martir Amerika Utara diperingati pada 19 Oktober, sedangkan di Kanada peringatan mereka ditempatkan pada 26 September.

Karena itu, penyebutan Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober berkaitan dengan kalender liturgi yang menggunakan tanggal 19 Oktober untuk mengenang kelompok martir tersebut.

Spiritualitas Kedelapan Martir Kanada

Kisah para martir bukan hanya bagian dari sejarah Gereja. Kehidupan mereka juga menawarkan sejumlah nilai rohani yang dapat diterapkan oleh umat Katolik masa kini.

1. Kesetiaan kepada Panggilan

Para martir menghadapi berbagai hambatan, mulai dari bahasa, budaya, kesehatan, keamanan, hingga kondisi alam. Namun mereka tetap berusaha menjalankan tugas yang dipercayakan kepada mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesetiaan semacam itu dapat diwujudkan melalui tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, pelayanan Gereja, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat. Kekudusan tidak selalu lahir dari tindakan besar. Sering kali kekudusan bertumbuh melalui kesetiaan terhadap tugas-tugas sederhana yang dilakukan dengan kasih.

2. Keberanian Menghadapi Kesulitan

Keberanian Kristiani bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut. Keberanian berarti tetap memilih yang benar dan tetap percaya kepada Tuhan meskipun jalan yang ditempuh tidak mudah.

Umat Katolik masa kini mungkin tidak menghadapi ancaman kemartiran seperti para misionaris tersebut. Namun kita tetap menghadapi berbagai situasi yang menguji iman: mempertahankan kejujuran, mengampuni orang lain, menolak ketidakadilan, menjaga kesetiaan dalam keluarga, atau tetap melakukan kebaikan ketika tidak memperoleh penghargaan.

3. Pengorbanan dalam Pelayanan

Kedelapan Martir Kanada meninggalkan tanah kelahiran, kenyamanan, dan keamanan untuk menjalankan misi. Pengorbanan mereka mengingatkan bahwa pelayanan sejati selalu membutuhkan pemberian diri.

Orang tua memberikan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya. Guru mendampingi murid-muridnya. Pelayan Gereja memberikan waktu untuk komunitas. Relawan membantu orang yang membutuhkan. Semua itu dapat menjadi bentuk pelayanan apabila dilakukan dengan kasih dan ketulusan.

4. Tetap Setia Ketika Hasil Belum Terlihat

Karya para misionaris tidak selalu menghasilkan keberhasilan yang segera tampak. Mereka menghadapi penolakan, kesalahpahaman, kesulitan bahasa, dan berbagai kegagalan.

Pengalaman Noël Chabanel menjadi contoh bahwa seseorang dapat tetap setia meskipun merasa kurang berhasil. Dalam kehidupan rohani, tugas kita bukan selalu memastikan hasil, melainkan menanam kebaikan dan menyerahkan buahnya kepada Tuhan.

Teladan Martir Kanada bagi Umat Katolik Masa Kini

Dunia modern tentu sangat berbeda dengan Amerika Utara abad ke-17. Namun nilai yang ditunjukkan para martir tetap relevan. Kita hidup di tengah perubahan teknologi, tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, konflik sosial, dan berbagai tuntutan kehidupan yang dapat membuat perhatian terhadap kehidupan rohani semakin berkurang.

Kisah Santo Jean de Brébeuf dan kawan-kawan mengajak kita kembali bertanya tentang apa yang menjadi pusat kehidupan. Mereka berusaha menjadikan Kristus dan panggilan pelayanan sebagai dasar hidup mereka.

Umat Katolik masa kini tidak dipanggil untuk mencari penderitaan. Sebaliknya, kita dipanggil menjalankan tanggung jawab dengan setia, mencintai sesama, mempertahankan kebenaran, dan tetap berpegang pada iman ketika menghadapi kesulitan.

Kesetiaan kecil yang dilakukan setiap hari dapat menjadi jalan menuju kekudusan.

Belajar Menghormati Budaya dalam Pewartaan

Kisah misi di Amerika Utara juga mengingatkan pentingnya sikap menghormati budaya. Jean de Brébeuf, misalnya, berusaha mempelajari bahasa dan memahami kehidupan masyarakat Huron-Wendat agar dapat berkomunikasi dengan mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa pewartaan iman membutuhkan lebih dari sekadar berbicara. Seorang pewarta juga perlu mendengarkan, memahami, membangun hubungan, dan menghargai martabat orang yang ditemuinya.

Pada saat yang sama, karya misi abad ke-17 berlangsung dalam konteks kolonial yang kompleks. Karena itu, kisah tersebut perlu dibaca dengan kesadaran terhadap pengalaman dan penderitaan masyarakat pribumi.

Mengenang para martir tidak berarti mengabaikan pengalaman masyarakat pribumi. Justru melalui pembacaan sejarah yang jujur, umat dapat belajar semakin menghargai martabat manusia, keberagaman budaya, serta pentingnya perjumpaan yang dilandasi penghormatan dan kasih.

Renungan Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober

Kedelapan Martir Kanada mengajak kita mengajukan pertanyaan sederhana: seberapa jauh kita bersedia setia kepada Kristus ketika kesetiaan itu menjadi sulit?

Mudah untuk percaya ketika kehidupan berjalan sesuai harapan. Namun iman diuji ketika doa belum terjawab, pelayanan tidak dihargai, kebaikan disalahpahami, atau hasil yang diharapkan tidak kunjung terlihat.

Para martir tidak mengetahui bagaimana sejarah akan mengenang mereka. Mereka hanya berusaha menjalankan tugas yang dipercayakan kepada mereka pada saat itu. Di sinilah terdapat pelajaran rohani yang penting: kekudusan sering kali dibangun bukan melalui satu tindakan besar, melainkan melalui banyak keputusan kecil untuk tetap setia.

Kita mungkin tidak dipanggil memberikan nyawa secara harfiah. Namun kita tetap dipanggil memberikan hidup kepada Tuhan melalui waktu, kemampuan, perhatian, kesabaran, pekerjaan, doa, dan kasih kepada sesama.

Dengan demikian, semangat kemartiran dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita memilih mengampuni daripada membalas, melayani daripada mencari pujian, berkata benar daripada berbohong, dan tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat, kita sedang belajar menjadi saksi Kristus.

Doa kepada Kedelapan Martir Kanada

Ya Allah yang Mahakuasa dan penuh kasih, Engkau menguatkan Santo Jean de Brébeuf, Santo Isaac Jogues, dan rekan-rekan mereka untuk tetap setia dalam mewartakan Injil di tengah kesulitan dan penderitaan.

Melalui teladan mereka, ajarlah kami untuk memiliki iman yang teguh, pengharapan yang tidak mudah menyerah, dan kasih yang tulus kepada sesama. Berilah kami keberanian untuk menjalankan panggilan kami setiap hari, terutama ketika jalan yang kami tempuh terasa sulit.

Semoga teladan Kedelapan Martir Kanada menolong kami menjadi saksi Kristus melalui perkataan, tindakan, pelayanan, dan kehidupan kami. Semoga kami mampu menggunakan setiap kesempatan untuk menghadirkan kasih, pengampunan, kebenaran, dan pengharapan di tengah dunia.

Santo Jean de Brébeuf dan kawan-kawan martir, doakanlah kami.

Amin.

Penutup

Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober mengajak umat Katolik mengenang delapan orang yang memberikan hidup mereka dalam karya pewartaan Injil: Santo Jean de Brébeuf, Santo Isaac Jogues, Santo Gabriel Lalemant, Santo Antoine Daniel, Santo Charles Garnier, Santo Noël Chabanel, Santo René Goupil, dan Santo Jean de Lalande.

Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dan menjalani pengalaman misi yang berbeda pula. Namun mereka dipersatukan oleh iman kepada Kristus dan kesediaan untuk melayani dalam keadaan yang penuh tantangan.

Kisah Kedelapan Martir Kanada bukan sekadar catatan sejarah tentang para misionaris yang meninggal pada abad ke-17. Bagi umat Katolik, kisah mereka merupakan undangan untuk memahami kembali arti menjadi saksi Kristus. Kesaksian tersebut tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan luar biasa. Dalam kehidupan sehari-hari, kesetiaan terhadap keluarga, pekerjaan, pelayanan, doa, kebenaran, dan kasih kepada sesama juga dapat menjadi kesaksian iman.

Kita mungkin tidak diminta menghadapi kemartiran seperti mereka. Namun kita dipanggil kepada kesetiaan yang sama: berani melakukan kebaikan, melayani sesama, menghormati martabat setiap manusia, bertahan dalam kesulitan, serta menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan.

Semoga peringatan Santo Jean de Brébeuf dan kawan-kawan Martir pada 19 Oktober membantu kita bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih, sehingga kehidupan kita pun dapat menjadi kesaksian sederhana tentang kasih Kristus di tengah dunia.

Demikianlah Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url