Santo Fransiskus Borgia, Pengaku Iman – 3 Oktober
Santo Santa 3 Oktober: Santo Fransiskus Borgia, Pengaku Iman
Setiap tanggal 3 Oktober, umat Katolik mengenang Santo Fransiskus Borgia, seorang imam Yesuit dan Pengaku Iman yang memberikan kesaksian luar biasa tentang pertobatan, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Ia pernah berada di tengah kemewahan istana, memiliki kedudukan politik yang tinggi, berkeluarga, dan menyandang gelar bangsawan. Namun pada akhirnya, ia meninggalkan kehormatan duniawi untuk mengabdikan hidup sepenuhnya kepada Kristus.
Santo Fransiskus Borgia atau Francis Borgia hidup pada abad ke-16. Ia lahir pada tahun 1510 dan wafat pada tahun 1572. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah menjadi Adipati Gandía dan Wakil Raja Catalunya sebelum akhirnya bergabung dengan Serikat Yesus (Yesuit). Kelak ia bahkan terpilih sebagai Superior Jenderal ketiga Serikat Yesus.
Perjalanan tersebut menjadikan kehidupan Santo Fransiskus Borgia sangat menarik untuk direnungkan. Kekudusan baginya tidak berarti bahwa seseorang harus sejak kecil terpisah dari kehidupan dunia. Ia justru menemukan panggilan Tuhan ketika menjalani tanggung jawab sebagai suami, ayah, bangsawan, pejabat pemerintahan, dan akhirnya seorang religius.
Kehidupannya mengingatkan kita bahwa kekuasaan, kekayaan, jabatan, dan kehormatan bukan tujuan akhir manusia. Semua itu dapat berlalu. Yang tetap adalah hubungan manusia dengan Allah dan bagaimana segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita dipergunakan untuk melayani-Nya.
Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik
Siapa Santo Fransiskus Borgia?
Santo Fransiskus Borgia adalah bangsawan Spanyol yang kemudian menjadi imam dan salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Serikat Yesus. Ia lahir pada 28 Oktober 1510 di Gandía, Spanyol, dalam lingkungan keluarga bangsawan yang sangat berpengaruh.
Ia adalah putra sulung Adipati Gandía ketiga. Garis keluarganya berhubungan dengan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Eropa. Dari pihak ayah, salah satu leluhurnya adalah Paus Aleksander VI, sementara keluarga ibunya juga mempunyai hubungan dengan keluarga kerajaan Spanyol.
Karena berasal dari keluarga bangsawan, Fransiskus memperoleh pendidikan dan persiapan yang sesuai dengan kehidupan istana. Masa mudanya tidak berlangsung dalam biara atau pertapaan. Ia justru mengenal kehidupan politik, pemerintahan, keluarga kerajaan, tanggung jawab administratif, serta berbagai kehormatan duniawi.
Namun di balik semua itu, Tuhan perlahan-lahan membimbingnya menuju jalan yang berbeda.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap
Masa Muda dan Kehidupan di Istana
Seperti banyak anak bangsawan pada zamannya, Fransiskus dipersiapkan untuk menjalankan tugas di lingkungan kerajaan.
Pada tahun 1522, ia menjadi pelayan istana bagi Catherine, saudari Kaisar Charles V. Setelah menjalani studi filsafat selama beberapa tahun, ia kembali berhubungan dengan lingkungan istana kekaisaran.
Di sana Fransiskus memperoleh kepercayaan dan kehormatan.
Akan tetapi, kehidupan di istana tidak membuatnya melupakan kehidupan rohani. Benih iman yang ada dalam dirinya perlahan bertumbuh. Pengalaman-pengalaman hidup selanjutnya akan membuatnya semakin menyadari betapa singkatnya kejayaan dunia.
Baca juga: Santo Leger atau Lutgar, Martir – 2 Oktober
Menikah dengan Leonor de Castro
Pada tahun 1529, Fransiskus menikahi Leonor de Castro, seorang bangsawati Portugis yang menjadi salah satu pendamping Permaisuri Isabella.
Pernikahan mereka dikaruniai delapan orang anak. Dengan demikian, sebelum dikenal sebagai imam dan pemimpin Serikat Yesus, Fransiskus menjalani panggilan sebagai seorang suami dan ayah.
Bagian kehidupannya ini penting karena menunjukkan bahwa perjalanan menuju kekudusan dapat dimulai dan berkembang di tengah kehidupan keluarga.
Kesetiaan kepada pasangan, pendidikan anak, pekerjaan, tanggung jawab sosial, serta perjuangan sehari-hari dapat menjadi jalan untuk bertumbuh semakin dekat dengan Tuhan.
Baca juga: Santo Ewaldus Bersaudara, Martir – 3 Oktober
Kematian Permaisuri Isabella dan Titik Balik Kehidupan
Salah satu peristiwa yang paling terkenal dalam kisah hidup Santo Fransiskus Borgia terjadi pada tahun 1539.
Permaisuri Isabella meninggal pada 1 Mei 1539. Fransiskus mendapat tugas mendampingi iring-iringan jenazah menuju tempat pemakaman kerajaan di Granada.
Menurut riwayat yang dicatat oleh Serikat Yesus, ketika peti dibuka untuk memastikan identitas jenazah, Fransiskus melihat bahwa wajah sang permaisuri yang dahulu terkenal cantik telah berubah akibat kematian. Pengalaman itu mengguncang batinnya.
Peristiwa tersebut sering dikaitkan dengan keputusan batinnya untuk tidak menggantungkan hidup pada kemuliaan yang akan berakhir.
Pesan rohaninya sangat kuat: kemuliaan manusia bersifat sementara.
Kecantikan akan berlalu. Kekayaan dapat hilang. Kekuasaan dapat berpindah tangan. Jabatan suatu hari harus dilepaskan. Bahkan kehidupan manusia di dunia mempunyai batas.
Namun Allah kekal.
Pengalaman tersebut tidak langsung membuat Fransiskus meninggalkan seluruh tanggung jawabnya. Sebaliknya, ia tetap melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya sambil semakin memperdalam doa dan kehidupan rohaninya.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Sabtu, 3 Oktober 2026 Lukas 10:17-24
Menjadi Wakil Raja Catalunya
Pada Juni 1539, Fransiskus ditunjuk sebagai Wakil Raja Catalunya.
Jabatan tersebut menunjukkan betapa besar kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia bukan seorang bangsawan yang hidup tanpa tanggung jawab, melainkan seseorang yang mempunyai pengalaman nyata dalam pemerintahan dan kepemimpinan.
Pengalaman ini kemudian menjadi bekal yang sangat berguna ketika ia dipercaya memimpin Serikat Yesus.
Kehidupannya juga memberikan pelajaran bahwa kemampuan administratif, kepemimpinan, pendidikan, dan pengalaman profesional dapat dipergunakan Tuhan untuk pelayanan Gereja.
Tidak ada pengalaman baik yang harus dianggap sia-sia apabila akhirnya diarahkan kepada kemuliaan Allah.
Menjadi Adipati Gandía
Setelah ayahnya meninggal, Fransiskus menjadi Adipati Gandía keempat.
Ia kembali ke wilayah keluarganya dan bertanggung jawab mengelola berbagai urusan keluarga serta wilayah kekuasaannya.
Namun kehidupan Fransiskus semakin diarahkan kepada doa.
Ia telah mengenal para Yesuit dan mempunyai hubungan dengan Santo Petrus Faber, salah seorang sahabat awal Santo Ignatius Loyola. Ia juga mendukung karya pendidikan Serikat Yesus dengan mendirikan sebuah kolese di Gandía.
Perlahan-lahan panggilan Tuhan dalam dirinya semakin jelas.
Wafatnya Sang Istri dan Keputusan Menyerahkan Hidup kepada Tuhan
Perubahan besar berikutnya terjadi ketika istrinya, Leonor, meninggal pada 27 Maret 1546.
Setelah menjadi duda, Fransiskus memutuskan untuk mengabdikan sisa hidupnya secara lebih penuh kepada Tuhan.
Keputusan tersebut bukan tindakan spontan yang mengabaikan kewajibannya sebagai seorang ayah.
Ia masih mempunyai anak-anak dan berbagai tanggung jawab keluarga yang harus diselesaikan. Karena itu, masuknya Fransiskus ke Serikat Yesus dilakukan dengan penuh pertimbangan.
Santo Ignatius Loyola menerima keinginannya bergabung dengan Serikat Yesus, tetapi menganjurkannya untuk terlebih dahulu menyelesaikan urusan keluarga dan melanjutkan studi teologi.
Di sini kita melihat sebuah prinsip penting dalam kehidupan Kristiani.
Panggilan Tuhan tidak menghapus tanggung jawab.
Panggilan sejati justru mendorong seseorang menyelesaikan kewajibannya dengan benar.
Santo Fransiskus Borgia Bergabung dengan Serikat Yesus
Fransiskus mengucapkan kaul sebagai seorang Yesuit pada 1 Februari 1548, meskipun pada tahap awal hal tersebut belum diumumkan secara terbuka.
Ia kemudian melanjutkan studi teologi dan memperoleh gelar doktor teologi pada tahun 1550 dari universitas yang didirikannya sendiri di Gandía.
Pada Tahun Suci 1550, Fransiskus pergi ke Roma untuk bertemu dengan Santo Ignatius Loyola dan mengatur proses masuknya secara terbuka ke dalam Serikat Yesus.
Di Roma, ia memilih tinggal bersama komunitas Yesuit daripada menikmati fasilitas yang sesuai dengan kedudukan bangsawannya.
Setelah kembali ke Spanyol, ia secara resmi menyerahkan gelar kebangsawanannya kepada putranya, Carlos.
Seorang adipati kini memilih kehidupan seorang religius.
Seseorang yang dahulu dikelilingi penghormatan kini ingin belajar ketaatan.
Inilah salah satu aspek paling mengagumkan dalam kehidupan Santo Fransiskus Borgia.
Ia tidak sekadar meninggalkan kekayaan secara lahiriah. Ia berusaha meninggalkan keterikatan terhadap kehormatan dan status dirinya.
Ditahbiskan Menjadi Imam
Fransiskus kemudian ditahbiskan menjadi imam pada 23 Mei 1551.
Setelah bertahun-tahun berada di lingkungan istana dan pemerintahan, ia memasuki kehidupan pelayanan pastoral.
Untuk beberapa waktu ia menjalankan pelayanan yang relatif sederhana sebagai imam, termasuk berkhotbah dan melayani umat.
Perubahan ini memperlihatkan kerendahan hatinya.
Ia telah terbiasa memerintah, tetapi kini harus belajar melayani.
Ia pernah menerima penghormatan karena gelar bangsawan, tetapi kini ia ingin dikenal terutama sebagai pelayan Kristus.
Dari Kekuasaan Menuju Pelayanan
Tema ini menjadi salah satu warisan spiritual yang sangat relevan dari Santo Fransiskus Borgia.
Superior Jenderal Serikat Yesus, Pater Arturo Sosa, pernah menggambarkan kehidupannya sebagai perjalanan dari kekuasaan untuk mendominasi menuju kekuasaan untuk melayani.
Pandangan tersebut sangat relevan sampai sekarang.
Kekuasaan pada dirinya sendiri bukan selalu sesuatu yang jahat. Yang menentukan adalah bagaimana kekuasaan digunakan.
Seorang pemimpin dapat menggunakan jabatan untuk memperbesar dirinya sendiri atau untuk melayani.
Seorang atasan dapat menggunakan kewenangan untuk menindas atau membantu bawahannya berkembang.
Orang tua mempunyai otoritas dalam keluarga, tetapi otoritas tersebut seharusnya diwujudkan dalam kasih dan tanggung jawab.
Santo Fransiskus Borgia menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristiani bukan terutama soal berada di atas orang lain, melainkan bersedia bertanggung jawab demi kebaikan mereka.
Pemimpin Yesuit di Spanyol
Kemampuan Fransiskus dalam kepemimpinan segera terlihat.
Pada tahun 1554, ia ditunjuk sebagai Komisaris Jenderal bagi karya Yesuit di Spanyol dengan tanggung jawab yang juga berkaitan dengan Portugal.
Dalam masa pelayanannya, ia membantu mendirikan novisiat dan lebih dari dua puluh sekolah.
Perhatian terhadap pendidikan ini sangat penting.
Serikat Yesus pada masa itu masih merupakan tarekat yang relatif muda. Pendidikan kemudian berkembang menjadi salah satu bidang kerasulan penting Yesuit di berbagai negara. Fransiskus termasuk tokoh yang membantu perkembangan tersebut pada masa awal Serikat.
Superior Jenderal Ketiga Serikat Yesus
Setelah wafatnya Diego Laínez, Fransiskus Borgia terpilih sebagai Superior Jenderal ketiga Serikat Yesus pada tahun 1565.
Ia memimpin Serikat Yesus selama sekitar tujuh tahun, hingga wafatnya pada tahun 1572.
Sebagai Superior Jenderal, tanggung jawabnya sangat besar.
Serikat Yesus sedang berkembang pesat. Para Yesuit menjalankan karya pendidikan, pewartaan, pelayanan pastoral, dan misi di berbagai wilayah.
Fransiskus membantu memperkuat tata kehidupan Serikat, mengembangkan karya pendidikan, serta mendukung perkembangan misi Yesuit di India dan benua Amerika.
Pengalaman sebagai bangsawan dan pejabat pemerintahan yang dahulu dimilikinya kini digunakan untuk melayani Gereja.
Inilah cara rahmat bekerja.
Tuhan tidak selalu membuang masa lalu seseorang. Ia dapat memurnikan pengalaman masa lalu dan menggunakannya untuk suatu tujuan yang lebih besar.
Spiritualitas Santo Fransiskus Borgia
Di balik aktivitas kepemimpinannya, Santo Fransiskus Borgia dikenal sebagai pribadi dengan kehidupan rohani yang mendalam.
Perjalanan hidupnya sangat dipengaruhi oleh spiritualitas Ignatian, khususnya pencarian kehendak Allah dalam segala sesuatu.
1. Menyadari bahwa dunia bersifat sementara
Kematian Permaisuri Isabella meninggalkan kesan mendalam dalam kehidupannya.
Fransiskus semakin memahami bahwa tidak ada kejayaan dunia yang dapat bertahan selamanya.
Kesadaran tersebut bukan berarti membenci dunia. Sebaliknya, seorang Kristiani dipanggil untuk menggunakan hal-hal duniawi dengan benar tanpa menjadikannya sebagai tujuan akhir.
2. Menemukan Tuhan di tengah tanggung jawab
Fransiskus tidak menjadi kudus hanya setelah menjadi imam.
Sebelumnya ia telah menjalani kehidupan sebagai suami, ayah, pejabat, dan bangsawan.
Hal ini memberikan pengharapan kepada umat awam.
Kekudusan dapat diperjuangkan di rumah, kantor, sekolah, tempat usaha, pemerintahan, dan di tengah masyarakat.
3. Kerendahan hati
Meninggalkan gelar seorang adipati untuk menjadi anggota tarekat religius membutuhkan kerendahan hati yang besar.
Kerendahan hati Kristiani bukan berarti merasa diri tidak berharga. Kerendahan hati berarti mengetahui bahwa segala kemampuan, jabatan, dan keberhasilan merupakan karunia yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
4. Ketaatan terhadap kehendak Allah
Fransiskus tidak memaksakan rencana pribadinya.
Ketika Santo Ignatius memintanya menyelesaikan tanggung jawab keluarga terlebih dahulu, ia menaatinya.
Ketaatan tersebut menunjukkan bahwa panggilan kepada kekudusan harus dijalani dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab.
Mengapa Santo Fransiskus Borgia Disebut Pengaku Iman?
Dalam tradisi Gereja, istilah Pengaku Iman atau Confessor digunakan bagi orang kudus yang memberikan kesaksian iman secara heroik melalui kehidupannya, tetapi tidak wafat sebagai martir karena penganiayaan iman.
Santo Fransiskus Borgia tidak dikenal sebagai martir.
Kesaksian utamanya diberikan melalui pertobatan hidup, pengorbanan, doa, pelayanan sebagai imam, kepemimpinan dalam Serikat Yesus, dan kesetiaannya kepada Kristus.
Karena itulah ia dikenang sebagai seorang Pengaku Iman.
Wafatnya Santo Fransiskus Borgia
Pada masa akhir kehidupannya, kesehatan Fransiskus semakin melemah.
Salah satu tugas terakhirnya adalah mendampingi Kardinal Michele Bonelli dalam sebuah perjalanan diplomatik yang membawanya ke beberapa wilayah Eropa. Perjalanan tersebut sangat menguras kondisi fisiknya.
Santo Fransiskus Borgia akhirnya wafat di Roma pada 30 September 1572.
Warisan kehidupannya terus hidup dalam Serikat Yesus dan Gereja.
Serikat Yesus sendiri memperingati pestanya pada 3 Oktober. Santo Fransiskus Borgia juga menjadi pelindung Kuria Jenderal Serikat Yesus, dan kapel utama di sana didedikasikan kepadanya.
Teladan Santo Fransiskus Borgia bagi Umat Katolik
Kisah Santo Fransiskus Borgia bukan sekadar cerita tentang seorang bangsawan yang menjadi imam.
Kehidupannya menyimpan beberapa pelajaran penting bagi umat Katolik zaman sekarang.
Jangan menjadikan kesuksesan dunia sebagai tujuan akhir
Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, mempunyai karier, memperoleh penghasilan, atau memegang jabatan.
Namun semuanya harus ditempatkan pada posisi yang benar.
Yesus mengingatkan manusia untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah. Karena itu, keberhasilan duniawi seharusnya membantu kita melakukan lebih banyak kebaikan, bukan membuat kita semakin jauh dari Tuhan.
Jabatan adalah kesempatan untuk melayani
Santo Fransiskus pernah mempunyai kekuasaan politik dan kemudian memperoleh kekuasaan dalam kepemimpinan religius.
Pengalamannya mengajarkan bahwa kekuasaan harus diarahkan kepada pelayanan.
Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk memperhatikan kebaikan orang lain.
Tuhan dapat memanggil pada setiap tahap kehidupan
Fransiskus pernah menjadi anak bangsawan, suami, ayah, pejabat, duda, religius, imam, dan pemimpin tarekat.
Setiap tahap kehidupannya mempunyai panggilan tersendiri.
Karena itu kita tidak boleh berpikir bahwa sudah terlambat untuk berubah.
Tuhan dapat membuka jalan baru dalam kehidupan seseorang pada usia dan keadaan apa pun.
Kematian mengingatkan kita pada tujuan hidup
Pengalaman Fransiskus ketika berhadapan dengan kematian menjadi titik penting dalam pertobatannya.
Dalam iman Katolik, mengingat kematian bukanlah sikap pesimis.
Sebaliknya, kesadaran bahwa kehidupan dunia ini terbatas membantu manusia menentukan prioritas.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang berhasil saya kumpulkan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana saya menggunakan hidup yang Tuhan percayakan kepada saya?”
Refleksi Santo Santa 3 Oktober
Peringatan Santo Fransiskus Borgia pada 3 Oktober mengajak kita melihat kembali apa yang sedang menjadi pusat kehidupan kita.
Mungkin kita mengejar pekerjaan, uang, jabatan, pengakuan, jumlah pengikut, prestasi, atau penghargaan orang lain.
Semua itu dapat mempunyai tempat dalam kehidupan.
Namun tidak satu pun mampu menggantikan Tuhan.
Santo Fransiskus Borgia pernah memiliki banyak hal yang biasanya dianggap sebagai tanda keberhasilan: keluarga terpandang, kekayaan, kekuasaan, kedudukan, dan hubungan dengan lingkungan kerajaan.
Ia akhirnya menyadari bahwa semuanya harus ditempatkan di bawah satu tujuan yang lebih tinggi: mencintai dan melayani Allah.
Kita mungkin tidak dipanggil meninggalkan pekerjaan atau harta seperti dirinya.
Namun setiap orang dipanggil meninggalkan keterikatan yang menjauhkan dirinya dari Tuhan.
Ada orang yang harus meninggalkan kesombongan.
Ada yang harus melepaskan dendam.
Ada yang perlu berhenti mengejar pengakuan manusia.
Ada pula yang dipanggil menggunakan kekayaan, keahlian, atau kedudukannya untuk membantu sesama.
Pertobatan tidak selalu berarti mengubah seluruh keadaan hidup.
Kadang-kadang pertobatan berarti tetap berada di tempat yang sama tetapi mulai menjalani kehidupan tersebut dengan tujuan yang berbeda: bukan lagi untuk memuliakan diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan.
Doa melalui Teladan Santo Fransiskus Borgia
Ya Allah yang Mahabaik,
Engkau telah membimbing Santo Fransiskus Borgia
untuk menemukan bahwa hanya Engkaulah
harta yang tidak pernah berlalu.
Ajarlah kami agar tidak diperbudak
oleh kekayaan, jabatan, kehormatan,
dan pujian dunia.
Berilah kami hati yang rendah hati
agar setiap karunia yang kami terima
dapat kami gunakan untuk melayani sesama
dan memuliakan nama-Mu.
Semoga melalui teladan
dan dengan memohon perantaraan Santo Fransiskus Borgia,
kami semakin mampu mencari kehendak-Mu
dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan,
dan seluruh perjalanan hidup kami.
Teguhkanlah kami untuk setia mengikuti Kristus
dalam suka maupun duka
hingga akhirnya kami boleh bersatu dengan-Mu
dalam kehidupan kekal.
Demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Santo Fransiskus Borgia, doakanlah kami.
Pertanyaan Umum tentang Santo Fransiskus Borgia
Kapan Santo Fransiskus Borgia diperingati?
Santo Fransiskus Borgia diperingati pada 3 Oktober, termasuk dalam tradisi Serikat Yesus. Ia wafat pada 30 September 1572.
Siapa Santo Fransiskus Borgia?
Santo Fransiskus Borgia adalah seorang bangsawan Spanyol, mantan Adipati Gandía dan Wakil Raja Catalunya yang kemudian meninggalkan kedudukannya untuk bergabung dengan Serikat Yesus. Ia menjadi imam dan kemudian terpilih sebagai Superior Jenderal ketiga Serikat Yesus.
Apakah Santo Fransiskus Borgia sudah menikah?
Ya. Ia menikah dengan Leonor de Castro pada tahun 1529 dan mereka mempunyai delapan anak. Setelah istrinya wafat pada tahun 1546 dan setelah menyelesaikan tanggung jawab terhadap keluarganya, Fransiskus menjalani panggilan religius secara penuh.
Apakah Santo Fransiskus Borgia seorang Yesuit?
Ya. Santo Fransiskus Borgia adalah anggota Serikat Yesus (SJ) dan kemudian menjadi Superior Jenderal ketiga tarekat tersebut pada tahun 1565.
Apa teladan utama Santo Fransiskus Borgia?
Teladan utamanya adalah pertobatan, kerendahan hati, pelepasan dari keterikatan duniawi, tanggung jawab terhadap keluarga, serta penggunaan kekuasaan untuk pelayanan.
Mengapa Santo Fransiskus Borgia disebut Pengaku Iman?
Ia disebut Pengaku Iman karena memberikan kesaksian iman yang kuat melalui kehidupan dan pelayanannya tanpa wafat sebagai martir karena penganiayaan.
Penutup
Kehidupan Santo Fransiskus Borgia, Pengaku Iman, menunjukkan bahwa rahmat Allah dapat mengubah arah kehidupan seseorang secara mendalam.
Dari istana menuju kehidupan religius, dari seorang adipati menjadi imam, dan dari kekuasaan duniawi menuju pelayanan Gereja, Fransiskus belajar bahwa kebesaran sejati tidak ditemukan ketika seseorang semakin banyak dilayani, tetapi ketika ia semakin bersedia melayani.
Peringatan Santo Fransiskus Borgia setiap 3 Oktober mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah pekerjaan, harta, jabatan, kemampuan, dan waktu yang kita miliki sudah membawa kita semakin dekat kepada Tuhan?
Kita tidak harus memiliki perjalanan hidup yang sama dengannya.
Namun kita dapat meneladan arah hidupnya: semakin sedikit mencari kemuliaan diri dan semakin sungguh mencari kemuliaan Allah.
Semoga melalui teladan dan perantaraan Santo Fransiskus Borgia, kita diberi keberanian untuk menggunakan seluruh hidup sebagai sarana untuk mencintai Tuhan dan melayani sesama.
Demikianlah Santo Fransiskus Borgia, Pengaku Iman – 3 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
