Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman 12 Oktober
Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman – Santo Santa 12 Oktober
Setiap tanggal 12 Oktober, kita mengenang salah satu tokoh penting dalam sejarah Gereja di Inggris, yaitu Santo Wilfridus, yang juga dikenal sebagai Saint Wilfrid of York. Ia adalah seorang uskup, misionaris, pemimpin biara, dan pengaku iman yang memainkan peranan besar dalam perkembangan kehidupan Gereja di Inggris pada abad ketujuh.
Santo Wilfridus dikenal sebagai pribadi yang memiliki keberanian luar biasa dalam mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran dan tata kehidupan Gereja. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Ia menghadapi perselisihan, kehilangan jabatan, pengasingan, bahkan pertentangan dengan sejumlah penguasa dan pemimpin Gereja pada zamannya. Namun, berbagai kesulitan tersebut tidak membuatnya meninggalkan panggilan. Sebaliknya, masa-masa sulit justru menjadi kesempatan baginya untuk melakukan karya misioner dan membawa Injil kepada masyarakat yang belum mengenal iman Kristiani.
Peringatan Santo Wilfridus pada 12 Oktober menjadi kesempatan bagi umat Kristiani untuk mengenang keteguhan seorang gembala yang berusaha tetap setia kepada Kristus di tengah berbagai perubahan, konflik, dan penderitaan. Kehidupannya menunjukkan bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak selalu berlangsung dalam keadaan yang nyaman. Sering kali justru melalui kesulitanlah iman dimurnikan dan kesetiaan seseorang semakin nyata.
Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik
Siapakah Santo Wilfridus?
Santo Wilfridus adalah seorang uskup Inggris pada abad ketujuh yang erat kaitannya dengan York dan Ripon. Ia diperkirakan lahir sekitar tahun 633–634 di Northumbria, wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Inggris utara. Pada masa itu, Inggris belum merupakan satu kerajaan seperti sekarang, melainkan terdiri atas beberapa kerajaan Anglo-Saxon dengan tradisi, kepentingan politik, dan perkembangan kehidupan Gereja yang berbeda-beda.
Sejak muda, Wilfridus telah menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan rohani. Ia memperoleh pendidikan awal di lingkungan Gereja Northumbria, termasuk di Lindisfarne. Keinginan untuk memahami kehidupan Gereja secara lebih luas kemudian membawanya melakukan perjalanan menuju benua Eropa dan Roma. Perjalanan tersebut sangat memengaruhi perkembangan rohani dan pemikirannya karena di sana ia mengenal lebih dekat tradisi Gereja Barat yang berpusat di Roma.
Ketika kembali ke Inggris, Wilfridus menjadi salah seorang pendukung utama penerapan tradisi Romawi di lingkungan Gereja Inggris bagian utara. Ia kemudian dipercaya menjadi abbas di Ripon dan pada tahap selanjutnya diangkat menjadi Uskup York. Akan tetapi, perjalanan pelayanannya tidak berjalan tanpa konflik. Perselisihan mengenai struktur keuskupan dan kewenangan gerejawi menyebabkan Wilfridus beberapa kali kehilangan kedudukannya dan harus menjalani pengasingan. Meskipun demikian, ia tidak berhenti berkarya sebagai pewarta Injil.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap
Masa Muda Santo Wilfridus
Wilfridus berasal dari Northumbria, salah satu kerajaan penting Anglo-Saxon pada masa itu. Kehidupan politik Inggris abad ketujuh sangat berbeda dengan Inggris modern. Berbagai kerajaan saling berhubungan sekaligus bersaing, sementara kekristenan sendiri sedang berkembang dan berakar semakin kuat di tengah masyarakat.
Dalam situasi seperti itulah Wilfridus bertumbuh. Sejak masih muda, ia memilih mendekatkan diri pada kehidupan Gereja. Pendidikan yang diterimanya membuka jalan bagi panggilan yang lebih besar. Ia tidak hanya ingin menjalani kehidupan religius secara pribadi, tetapi juga ingin memahami tradisi, disiplin, dan kehidupan Gereja secara lebih luas.
Perjalanan Menuju Roma
Salah satu pengalaman terpenting dalam kehidupan Wilfridus adalah perjalanannya menuju Roma. Pada abad ketujuh, perjalanan dari Inggris menuju Roma bukanlah perjalanan sederhana. Tidak tersedia sarana transportasi cepat sebagaimana zaman sekarang. Perjalanan darat dan laut dapat berlangsung sangat lama serta menghadirkan berbagai risiko, mulai dari cuaca buruk, penyakit, perampokan hingga ketidakpastian tempat tinggal.
Namun Wilfridus tetap melakukan perjalanan tersebut. Ia juga menghabiskan waktu di wilayah Galia, termasuk Lyon, sebelum akhirnya memperoleh pengalaman langsung mengenai tradisi Gereja Roma. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin terhadap pentingnya hubungan dan kesatuan Gereja di Inggris dengan Gereja yang lebih luas.
Ketika kemudian kembali ke tanah kelahirannya, pengetahuan yang diperoleh selama perjalanan menjadi modal penting bagi pelayanan Wilfridus. Ia membawa pulang bukan hanya pengetahuan mengenai tata liturgi, tetapi juga pengalaman mengenai kehidupan monastik, disiplin gerejawi, dan kesatuan umat Kristiani.
Baca juga: Santo Yohanes XXIII, Santo Katolik 11 Oktober
Santo Wilfridus dan Biara Ripon
Sekitar pertengahan abad ketujuh, Wilfridus dipercaya memimpin komunitas biara di Ripon. Tempat tersebut kemudian menjadi salah satu pusat terpenting dalam perjalanan hidup dan karya pelayanannya. Dari komunitas inilah Wilfridus mengembangkan kehidupan monastik dan memperkenalkan berbagai praktik gerejawi yang dipengaruhi tradisi Roma.
Bagi Wilfridus, biara bukan hanya tempat seseorang mengasingkan diri dari dunia. Biara merupakan tempat pembentukan manusia dalam doa, disiplin, pembelajaran Kitab Suci, kehidupan persaudaraan, dan pelayanan kepada Gereja. Seorang rahib tidak meninggalkan dunia karena membencinya, melainkan berusaha semakin dekat kepada Allah agar mampu memberikan kesaksian yang lebih baik bagi sesama.
Karya Wilfridus di Ripon juga memperlihatkan salah satu karakter penting dalam dirinya. Ia bukan hanya seorang pemikir dan pewarta, tetapi juga seorang organisator yang mampu membangun komunitas serta mengarahkan orang lain untuk menjalani kehidupan yang berpusat kepada Kristus.
Baca juga: Santo Eduardus Raja Inggris – Santo 13 Oktober
Peran Santo Wilfridus dalam Sinode Whitby
Salah satu peristiwa sejarah yang paling sering dikaitkan dengan Santo Wilfridus adalah Sinode Whitby tahun 664. Pada masa tersebut terdapat beberapa perbedaan praktik gerejawi antara tradisi yang berkembang melalui komunitas-komunitas Keltik dan praktik yang digunakan Gereja Roma. Salah satu persoalan yang paling dikenal adalah perbedaan dalam cara menentukan tanggal perayaan Paskah.
Wilfridus menjadi salah satu tokoh yang mendukung penggunaan tradisi Roma. Dalam Sinode Whitby, pihak yang mendukung praktik Romawi akhirnya diterima oleh Raja Oswiu dari Northumbria. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu momen penting dalam perkembangan Gereja Anglo-Saxon dan membantu mendorong keseragaman yang lebih besar dalam kehidupan gerejawi di wilayah tersebut.
Namun makna rohani dari peristiwa itu tidak hanya terletak pada persoalan kalender. Kisah Wilfridus menunjukkan betapa pentingnya kesatuan bagi kehidupan Gereja. Perbedaan tradisi dapat muncul dalam perjalanan sejarah, tetapi umat Kristiani dipanggil untuk mencari persatuan tanpa kehilangan kasih persaudaraan.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Senin, 12 Oktober 2026 Lukas 11:29-32
Santo Wilfridus Menjadi Uskup York
Setelah Sinode Whitby, Wilfridus kemudian dipilih untuk menjadi Uskup York. Perjalanan menuju tugas tersebut ternyata tidak mudah karena berbagai persoalan gerejawi dan politik menyebabkan prosesnya mengalami hambatan. Meskipun demikian, ia akhirnya dapat menjalankan pelayanan sebagai seorang uskup.
Sebagai gembala, Wilfridus memperlihatkan semangat besar dalam membangun kehidupan Gereja. Ia mendukung kehidupan monastik, memperkuat pendidikan religius, memperhatikan pembangunan tempat ibadat, dan melakukan berbagai karya pastoral. Pengalaman luas yang diperolehnya selama perjalanan di Eropa turut memengaruhi cara ia mengembangkan kehidupan Gereja di wilayah pelayanannya.
Bagi Wilfridus, menjadi uskup bukanlah sekadar memiliki kedudukan terhormat. Seorang uskup pertama-tama adalah seorang gembala yang dipanggil untuk menjaga umat yang dipercayakan kepadanya, mengajarkan iman, memelihara kehidupan rohani, dan membawa Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus.
Konflik dan Pengasingan Santo Wilfridus
Pelayanan Wilfridus kemudian memasuki periode yang jauh lebih sulit. Keuskupannya mengalami perubahan struktur pada masa kepemimpinan Theodore dari Canterbury. Wilfridus menentang keputusan mengenai pembagian wilayah keuskupannya dan membawa persoalan tersebut kepada otoritas Gereja di Roma. Konflik itu akhirnya membuatnya harus meninggalkan wilayah pelayanannya.
Bagi seorang uskup, kehilangan keuskupan tentu merupakan pengalaman yang sangat berat. Wilfridus dapat saja memandang pengasingannya sebagai akhir dari seluruh pelayanannya. Namun ia memilih jalan yang berbeda. Ia tetap memberitakan Injil dan berusaha menggunakan keadaan baru yang dihadapinya sebagai kesempatan untuk melayani.
Inilah salah satu bagian paling menarik dari kehidupan Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman. Ketika satu pintu pelayanan tertutup, ia tidak berhenti menjalankan panggilannya. Ia mencari tempat lain di mana Injil dapat diberitakan dan kehidupan manusia dapat disentuh oleh kasih Kristus.
Santo Wilfridus sebagai Misionaris
Dalam perjalanan pengasingannya, Wilfridus melakukan karya misioner di berbagai wilayah. Ia pernah berkarya di Friesland dan kemudian melakukan pelayanan penting di antara masyarakat Saxon Selatan atau South Saxons. Karya misionernya memperlihatkan bahwa penderitaan pribadi tidak harus menghentikan pelayanan seseorang.
Wilfridus kehilangan tempat yang sebelumnya menjadi pusat pelayanannya, tetapi ia tidak kehilangan alasan untuk melayani. Ia tetap membawa Kristus kepada orang lain. Bahkan keadaan yang semula tampak sebagai kegagalan justru membuka kesempatan baginya untuk menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum menjadi pusat pelayanannya.
Pengasingan Menjadi Kesempatan Pewartaan
Pengalaman Santo Wilfridus memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan umat Kristiani. Kita sering memiliki rencana tertentu. Kita berharap pekerjaan berjalan dengan baik, pelayanan berkembang sesuai harapan, keluarga hidup tanpa persoalan, dan usaha yang dilakukan menghasilkan sesuatu seperti yang direncanakan. Namun kenyataan tidak selalu demikian.
Kadang-kadang sebuah pintu tertutup. Rencana gagal, kesempatan hilang, atau keadaan berubah tanpa kita kehendaki. Wilfridus menunjukkan bahwa tertutupnya satu pintu tidak selalu berarti berakhirnya panggilan Tuhan. Dalam pengasingan, ia menemukan ladang pelayanan baru. Sesuatu yang dari sudut pandang manusia tampak sebagai kegagalan dapat berubah menjadi kesempatan bagi karya Allah.
Perjuangan Mempertahankan Pelayanan
Konflik yang dihadapi Wilfridus berlangsung cukup panjang. Ia beberapa kali mengajukan persoalannya kepada otoritas Gereja di Roma dan mengalami masa pengasingan lebih dari sekali. Pada akhirnya sebagian kedudukan dan tanggung jawab gerejawinya dipulihkan, meskipun perjalanan menuju penyelesaian tidak berlangsung sederhana.
Hal tersebut menunjukkan keteguhan karakter Wilfridus. Ia adalah seseorang yang memiliki keyakinan kuat dan tidak mudah menyerah. Namun dalam membaca kisah hidupnya, penting untuk memahami bahwa konflik gerejawi abad ketujuh berlangsung dalam konteks sejarah, politik, dan struktur Gereja yang berbeda dari zaman sekarang.
Karena itu, kehidupan Wilfridus tidak perlu dibaca hanya sebagai cerita tentang siapa yang menang atau kalah dalam sebuah perselisihan. Hal yang lebih penting adalah melihat bagaimana ia terus berusaha menjalankan panggilannya dan melayani Tuhan di tengah situasi yang tidak ideal.
Santo Wilfridus sebagai Pengaku Iman
Gelar Pengaku Iman atau Confessor dalam tradisi Gereja digunakan untuk seorang kudus yang memberikan kesaksian iman melalui kehidupannya tetapi tidak meninggal sebagai martir karena dibunuh akibat iman. Santo Wilfridus tidak dikenang terutama karena kematian sebagai martir, melainkan karena keteguhannya dalam menjalani panggilan di tengah berbagai pencobaan.
Pengasingan, konflik, perjalanan panjang, ketidakpastian, dan kehilangan kedudukan menjadi bagian dari salib kehidupannya. Namun ia terus mempertahankan kehidupan iman dan pelayanannya. Karena itulah kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi umat Kristiani yang sedang mengalami masa sulit.
Kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu berarti hidup tanpa masalah. Kadang-kadang justru kesetiaan diuji melalui kemampuan seseorang untuk tetap berdoa, mengasihi, melayani, dan melakukan kebaikan ketika keadaan tidak berjalan seperti yang diinginkannya.
Keutamaan Santo Wilfridus yang Dapat Diteladani
Keberanian Mempertahankan Keyakinan
Santo Wilfridus dikenal sebagai pribadi yang teguh. Ia memiliki keyakinan yang kuat terhadap arah kehidupan Gereja yang diperjuangkannya. Bahkan ketika harus menghadapi konsekuensi besar, ia tidak dengan mudah meninggalkan apa yang diyakininya.
Bagi umat Kristiani zaman sekarang, keberanian seperti ini tetap diperlukan. Namun keberanian iman bukan berarti keras terhadap orang lain. Keberanian Kristiani harus selalu berjalan bersama kasih, kerendahan hati, kebijaksanaan, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Kesetiaan dalam Kesulitan
Hidup Wilfridus mengalami banyak perubahan. Ia pernah berada dalam posisi yang berpengaruh, tetapi juga pernah berada dalam pengasingan. Perubahan keadaan tersebut tidak menghentikan pelayanannya.
Kita pun dapat mengalami keadaan serupa dalam bentuk yang berbeda. Ada masa ketika kehidupan berjalan sesuai harapan, tetapi ada pula masa ketika kita menghadapi penolakan, kegagalan, kesalahpahaman, atau kehilangan. Kesetiaan justru menjadi paling bermakna ketika dipertahankan dalam keadaan sulit.
Semangat Misioner
Santo Wilfridus tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia memiliki semangat membawa Injil kepada orang lain. Ketika berada jauh dari wilayah asalnya, ia tetap mencari kesempatan untuk mewartakan Kristus.
Semangat misioner seperti ini tidak berarti bahwa setiap orang harus pergi ke negeri yang jauh. Keluarga dapat menjadi tempat misi. Tempat kerja dapat menjadi tempat misi. Sekolah, lingkungan masyarakat, paroki, komunitas, bahkan dunia digital dapat menjadi tempat bagi umat Kristiani untuk memberikan kesaksian tentang kasih, kejujuran, pengampunan, dan nilai-nilai Injil.
Cinta terhadap Kesatuan Gereja
Perjalanan Wilfridus menuju Roma dan keterlibatannya dalam persoalan Gereja Inggris menunjukkan perhatian yang besar terhadap kesatuan Gereja. Kesatuan menjadi salah satu tema penting yang dapat direnungkan dari kehidupannya.
Di zaman sekarang, perbedaan pendapat bahkan di antara sesama umat beriman dapat dengan cepat berubah menjadi pertengkaran, terutama melalui media sosial. Teladan Santo Wilfridus mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya berbicara tentang mempertahankan apa yang diyakini, tetapi juga tentang terus mencari persatuan dalam Kristus.
Akhir Kehidupan Santo Wilfridus
Menjelang akhir kehidupannya, perjalanan panjang Wilfridus mulai memasuki masa yang lebih tenang. Ia tetap memiliki hubungan erat dengan komunitas-komunitas religius yang telah dibangunnya. Ripon menjadi salah satu tempat yang sangat erat dengan warisannya.
Sumber-sumber sejarah memberikan sedikit variasi mengenai tahun tepat wafatnya, tetapi umumnya menempatkan kematiannya sekitar tahun 709 atau 710. Perbedaan kecil dalam kronologi tersebut tidak mengurangi arti warisan kehidupannya. Ia telah melewati perjalanan panjang sebagai rahib, abbas, uskup, misionaris, orang buangan, dan akhirnya seorang kudus yang dikenang selama berabad-abad.
Peringatan Santo Wilfridus 12 Oktober
Santo Wilfridus diperingati pada tanggal 12 Oktober dalam tradisi yang mengenangnya pada tanggal tersebut. Bagi umat beriman, peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang bukan hanya perjalanan historis seorang uskup dari Inggris, tetapi terutama semangat kesetiaan yang ditunjukkannya.
Kehidupannya mengajarkan bahwa pelayanan kepada Tuhan dapat melalui jalan yang tidak terduga. Kadang Tuhan berkarya melalui keberhasilan, tetapi pada waktu lain Ia mengizinkan kita melewati kegagalan, penolakan, atau perubahan rencana. Kadang Tuhan memberikan kesempatan melalui tempat yang kita inginkan, tetapi pada waktu lain justru sebuah “pengasingan” dapat menjadi ladang pelayanan yang baru.
Renungan dari Kehidupan Santo Wilfridus
Kisah Santo Wilfridus mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita tetap setia ketika rencana hidup berubah? Tidak sulit untuk bersyukur ketika semuanya berjalan dengan baik. Tantangan yang sesungguhnya muncul ketika doa belum memperoleh jawaban seperti yang diharapkan, pekerjaan menghadapi kegagalan, pelayanan tidak dihargai, atau usaha baik justru disalahpahami.
Santo Wilfridus mengalami banyak situasi yang dapat membuat seseorang menyerah, tetapi ia terus berjalan. Ketika tidak dapat melayani di satu tempat, ia melayani di tempat lain. Ketika menghadapi perselisihan, ia berusaha mencari penyelesaian. Ketika berada dalam pengasingan, ia menjadikannya kesempatan untuk mewartakan Injil.
Pesan yang dapat kita tarik dari kehidupannya sederhana tetapi mendalam: jangan berhenti melakukan kebaikan hanya karena keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur hanya dari keberhasilan yang terlihat. Sering kali kesetiaan justru terlihat dalam langkah-langkah kecil yang terus dilakukan ketika hasilnya belum tampak.
Kita mungkin tidak dipanggil menjadi uskup atau misionaris seperti Santo Wilfridus, tetapi setiap orang memiliki medan pelayanannya sendiri. Orang tua dipanggil menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga. Para pekerja dipanggil menghadirkan kejujuran dan tanggung jawab. Kaum muda dipanggil menjadi saksi Kristus dalam pergaulan. Mereka yang sedang mengalami kegagalan pun tetap dapat menjadi berkat melalui kesabaran, pengampunan, dan ketekunan.
Doa melalui Teladan dan Syafaat Santo Wilfridus
Ya Allah yang Mahabaik, Engkau telah memanggil Santo Wilfridus untuk melayani umat-Mu sebagai gembala dan pewarta Injil. Engkau meneguhkan dirinya untuk tetap melayani sekalipun harus menghadapi kesulitan, penolakan, dan pengasingan.
Berilah kami keberanian untuk tetap setia kepada-Mu ketika menghadapi kesulitan. Ajarlah kami untuk tidak mudah menyerah ketika rencana kami berubah dan harapan kami tidak terpenuhi. Semoga melalui teladan Santo Wilfridus kami semakin mencintai persatuan, tekun dalam doa, berani memberikan kesaksian iman, dan selalu siap membawa kasih Kristus kepada sesama.
Kami juga memohon, melalui syafaat Santo Wilfridus, teguhkanlah para uskup, imam, diakon, biarawan-biarawati, para misionaris, dan seluruh umat-Mu agar tetap setia dalam pelayanan. Semoga dalam segala keadaan hidup kami mampu mencari kehendak-Mu, menjalankan panggilan kami dengan tekun, dan akhirnya memperoleh kebahagiaan kekal bersama para kudus di surga.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
Penutup
Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Gereja di Inggris. Perjalanannya dari Northumbria menuju Roma, pelayanannya sebagai Abbas Ripon dan Uskup York, keterlibatannya dalam Sinode Whitby, berbagai masa pengasingan, serta karya misionernya menunjukkan kehidupan yang penuh dinamika.
Ia tidak menjalani jalan kekudusan yang mudah. Justru melalui berbagai konflik, perubahan, kehilangan, dan tantangan itulah keteguhan imannya semakin terlihat. Santo Wilfridus memperlihatkan bahwa panggilan seseorang tidak berakhir hanya karena keadaan berubah. Selama masih ada kesempatan untuk mengasihi, melayani, dan mewartakan Kristus, di sanalah panggilan itu dapat terus dijalankan.
Peringatan Santo Wilfridus pada 12 Oktober mengajak umat Katolik untuk kembali memahami bahwa kekudusan bukan berarti kehidupan yang bebas dari kesulitan. Kekudusan berarti terus mencari Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dalam keadaan apa pun. Ketika jalan yang kita rencanakan tertutup, kita dapat belajar dari Santo Wilfridus untuk bertanya: “Di manakah Tuhan menghendaki aku melayani sekarang?”
Semoga teladan Santo Wilfridus membantu kita memiliki keberanian untuk bertahan dalam iman, kerendahan hati untuk terus belajar, semangat untuk mewartakan Injil, serta kesetiaan kepada Kristus sampai akhir kehidupan.
Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman, doakanlah kami.
Demikianlah Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman 12 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
