Santo Nikolas dari Flue, Pengaku Iman | 25 September
Santo Nikolas dari Flue, Pengaku Iman – Santo Santa 25 September
Setiap tanggal 25 September, kita mengenang Santo Nikolas dari Flue, seorang pertapa, mistikus, pembawa damai, dan Pengaku Iman yang sangat dihormati terutama di Swiss. Ia dikenal pula dengan nama Niklaus von Flüe atau dengan sebutan akrab Bruder Klaus (Saudara Klaus).
Kisah hidup Santo Nikolas dari Flue sangat menarik karena kekudusan yang ditempuhnya tidak bermula dari kehidupan biara. Sebelum menjalani kehidupan sebagai pertapa, ia adalah seorang petani, suami, ayah, tentara, dan tokoh masyarakat. Di tengah tanggung jawab keluarga dan kehidupan sosial, ia berusaha mencari dan melaksanakan kehendak Allah.
Kemudian, setelah melalui pergumulan rohani yang mendalam dan dengan persetujuan istrinya, Nikolas meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjalani hidup sebagai pertapa. Dalam kesunyian ia semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, puasa, dan permenungan.
Namun, kesunyian tidak membuatnya terputus dari dunia. Justru dari tempat pertapaannya, banyak orang datang meminta nasihat. Bahkan ketika perselisihan politik mengancam persatuan Konfederasi Swiss, nasihatnya ikut berperan dalam mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
Karena itulah Santo Nikolas dari Flue menjadi teladan bahwa kehidupan kontemplatif dan kepedulian terhadap sesama bukanlah dua hal yang bertentangan. Kedekatan kepada Allah seharusnya menghasilkan kedamaian yang kemudian dibawa kepada keluarga, masyarakat, dan dunia.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santo Nikolas dari Flue?
Santo Nikolas dari Flue lahir pada tahun 1417 di Flüeli, dekat Sachseln, wilayah Obwalden, Swiss. Ia berasal dari keluarga petani dan tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang sederhana.
Sejak masa mudanya, Nikolas dikenal memiliki kecenderungan kuat terhadap kehidupan rohani. Ia senang berdoa dan merenungkan perkara-perkara ilahi. Namun, panggilan menuju kehidupan kontemplatif itu pada awalnya dijalani di tengah kehidupan sehari-hari.
Nikolas menikah dengan Dorothea Wyss. Dari perkawinan mereka lahirlah sepuluh anak. Dengan demikian, sebelum dikenal sebagai pertapa besar, ia terlebih dahulu menjalani panggilan sebagai seorang suami dan ayah.
Hal ini merupakan bagian penting dari kisah Santo Nikolas dari Flue. Kekudusan tidak hanya ditemukan di biara atau tempat pertapaan. Kehidupan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kepada masyarakat pun dapat menjadi jalan untuk bertumbuh dalam kasih kepada Allah.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Seorang Petani, Suami, dan Ayah
Nikolas bekerja sebagai petani dan menjalankan tanggung jawab terhadap keluarganya. Kehidupannya menunjukkan bahwa pekerjaan sehari-hari dapat menjadi tempat perjumpaan dengan Allah ketika dilakukan dengan kesetiaan, kejujuran, dan kasih.
Sebagai kepala keluarga, ia tidak hidup terpisah dari persoalan dunia. Ia mengenal kerja keras, tanggung jawab, keputusan-keputusan sulit, serta dinamika kehidupan bermasyarakat.
Kehidupan keluarga Santo Nikolas juga mengingatkan umat Katolik bahwa panggilan menuju kekudusan berlaku bagi semua orang. Seseorang tidak perlu menunggu sampai terbebas dari pekerjaan atau tanggung jawab keluarga untuk mulai hidup dekat dengan Tuhan.
Justru di dalam rutinitas sehari-hari, seseorang dapat belajar bersabar, mengampuni, melayani, berkorban, dan menyerahkan hidup kepada Allah.
Baca juga: Santo Pasifikus, Pengaku Iman – 24 September
Pengalaman sebagai Tentara
Pada zamannya, masyarakat Swiss mengalami berbagai konflik. Nikolas juga pernah menjalankan tugas sebagai tentara.
Tradisi mengenai kehidupannya menggambarkan dirinya sebagai seorang yang berusaha mempertahankan sikap manusiawi bahkan dalam situasi peperangan. Pengalaman melihat konflik dan kekerasan tampaknya ikut membentuk kerinduannya yang mendalam akan perdamaian.
Kelak, ketika ia menjadi pertapa, Nikolas justru dikenang sebagai salah satu tokoh perdamaian terpenting dalam sejarah Swiss.
Perjalanan ini memberikan pesan yang kuat: manusia yang sungguh-sungguh menyerahkan hidup kepada Allah tidak dipanggil untuk menambah kebencian, melainkan menjadi pembawa damai.
Baca juga: Santo Sergius dari Radonezh, Abbas – 25 September
Pergumulan Rohani Santo Nikolas dari Flue
Di balik kehidupan keluarga dan aktivitas sosialnya, Nikolas mengalami kerinduan rohani yang semakin mendalam.
Ia merasa dipanggil untuk menyerahkan dirinya secara lebih total kepada Allah. Panggilan tersebut tidak terjadi secara sederhana. Ia mengalami pergumulan batin sebelum akhirnya memilih kehidupan pertapaan.
Keputusan ini tentu sangat besar karena ia telah memiliki istri dan anak-anak.
Menurut kisah hidupnya, keputusan Nikolas untuk menjalani kehidupan pertapa dilakukan dengan persetujuan istrinya, Dorothea. Karena itu, Dorothea memiliki tempat penting dalam kisah panggilan Nikolas.
Keputusan tersebut harus dipahami dalam konteks kehidupan rohani dan sosial abad ke-15. Bagi pembaca masa kini, kisah ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan tanggung jawab keluarga demi kehidupan rohani. Sebaliknya, hal yang patut diteladani adalah kesungguhan dalam mencari kehendak Allah serta keberanian menjalani panggilan dengan penuh tanggung jawab dan pertimbangan.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Jumat, 25 September 2026 Lukas 9:18-22
Meninggalkan Kehidupan Duniawi
Pada tahun 1467, ketika berusia sekitar 50 tahun, Nikolas meninggalkan rumahnya untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa.
Awalnya ia berniat pergi jauh. Namun, setelah melalui pengalaman dan pergumulan rohani, ia akhirnya menetap tidak jauh dari tempat kelahirannya, di sebuah lembah sunyi bernama Ranft.
Di sanalah ia menjalani sisa hidupnya sebagai seorang pertapa.
Tempat pertapaannya sederhana. Ia tidak mengejar kenyamanan, kekayaan, atau kehormatan. Hari-harinya dipenuhi doa dan permenungan akan Allah.
Menariknya, semakin Nikolas mencari kesunyian, semakin banyak orang yang datang kepadanya.
Kehidupan Pertapaan di Ranft
Ranft menjadi tempat yang tidak terpisahkan dari sejarah Santo Nikolas dari Flue. Di lembah yang sunyi itu, ia menghabiskan sekitar dua puluh tahun terakhir kehidupannya.
Kesunyian baginya bukanlah pelarian dari dunia.
Kesunyian adalah ruang untuk mendengarkan Allah.
Dalam kehidupan modern, manusia hampir selalu dikelilingi suara: telepon, media sosial, pekerjaan, berita, hiburan, dan berbagai tuntutan. Kehidupan Nikolas mengingatkan kita bahwa jiwa juga membutuhkan keheningan.
Tanpa keheningan, manusia dapat mengetahui banyak hal tetapi kehilangan kemampuan mendengarkan suara Tuhan di dalam hati.
Doa sebagai Pusat Kehidupan
Bagi Santo Nikolas dari Flue, doa bukan sekadar kegiatan tambahan. Doa menjadi pusat kehidupannya.
Dalam tradisi rohani yang dikaitkan dengannya terdapat sebuah doa yang sangat terkenal, yang intinya merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah: memohon agar Tuhan mengambil segala sesuatu yang menjauhkan dirinya dari-Nya, memberikan segala sesuatu yang mendekatkannya kepada-Nya, dan menerima seluruh dirinya agar ia sepenuhnya menjadi milik Tuhan.
Semangat doa tersebut menggambarkan inti kehidupan Nikolas.
Ia tidak mencari Tuhan sekadar untuk memperoleh berkat duniawi. Ia menginginkan Allah sendiri.
Inilah salah satu pelajaran rohani terbesar dari Santo Nikolas. Dalam doa, kita sering datang kepada Tuhan membawa berbagai permintaan. Hal itu tidak salah. Yesus sendiri mengajarkan kita untuk meminta kepada Bapa.
Namun, kehidupan rohani yang semakin dewasa membawa seseorang pada doa yang lebih dalam:
“Tuhan, bukan hanya berikanlah apa yang kuinginkan, tetapi bentuklah aku agar mampu menginginkan apa yang Engkau kehendaki.”
Tradisi Puasa Santo Nikolas
Salah satu hal yang paling terkenal dalam riwayat Santo Nikolas dari Flue adalah tradisi bahwa selama bertahun-tahun kehidupannya sebagai pertapa ia hidup tanpa makanan biasa, dengan Ekaristi sebagai santapan rohaninya.
Kesaksian mengenai hal ini telah menjadi bagian penting dari tradisi hidup Bruder Klaus. Namun, kisah tersebut sebaiknya dipahami secara hati-hati dan tidak dijadikan inti utama penghormatan kepadanya.
Iman Katolik tidak mengajak umat untuk meniru praktik puasa ekstrem yang dapat membahayakan kesehatan.
Yang jauh lebih penting adalah makna rohaninya: kerinduan Santo Nikolas untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Ekaristi mempunyai tempat istimewa dalam kehidupan rohaninya. Bagi umat Katolik, hal ini mengingatkan bahwa Kristus yang hadir dalam Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani.
Santo Nikolas dari Flue sebagai Pembawa Damai
Walaupun hidup sebagai pertapa, Nikolas tidak menjadi orang yang acuh terhadap keadaan masyarakat.
Banyak orang datang ke Ranft untuk meminta nasihat kepadanya. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Reputasinya sebagai seorang yang bijaksana dan dekat dengan Allah semakin dikenal.
Salah satu peristiwa paling penting terjadi pada tahun 1481.
Ketika itu terjadi ketegangan serius di antara anggota Konfederasi Swiss. Perselisihan tersebut berpotensi menimbulkan perpecahan bahkan konflik bersenjata.
Dalam keadaan genting itu, nasihat Nikolas disampaikan kepada para pihak yang sedang berunding di Stans.
Nasihatnya membantu membuka jalan menuju kompromi. Kesepakatan yang kemudian tercapai dikenal dalam sejarah berkaitan dengan Perjanjian Stans (Stanser Verkommnis).
Karena perannya tersebut, Santo Nikolas dari Flue kemudian dikenang sebagai seorang pembawa damai dan salah satu pelindung spiritual bangsa Swiss.
Perdamaian Berawal dari Hati
Apa yang membuat seorang pertapa memiliki pengaruh sedemikian besar?
Nikolas tidak mempunyai pasukan. Ia tidak memegang jabatan politik tinggi. Ia tidak menguasai kekayaan besar.
Kekuatan moralnya lahir dari integritas kehidupan.
Orang mendengarkannya karena melihat bahwa ia tidak sedang mengejar kepentingan pribadi. Ia berbicara sebagai seseorang yang telah berusaha membebaskan dirinya dari ambisi duniawi dan mencari kehendak Allah.
Dari sini kita belajar bahwa perdamaian sejati tidak hanya lahir dari perjanjian politik.
Perdamaian harus dimulai dari hati manusia.
Orang yang hatinya dipenuhi iri hati, dendam, kesombongan, dan kepentingan diri akan sulit menjadi pembawa damai. Sebaliknya, orang yang membiarkan Allah membersihkan hatinya dapat menjadi jembatan ketika orang lain saling bermusuhan.
Wafatnya Santo Nikolas dari Flue
Santo Nikolas dari Flue meninggal pada 21 Maret 1487, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-70.
Ia meninggalkan warisan spiritual yang sangat kuat, terutama bagi masyarakat Swiss.
Tempat pertapaannya di Ranft kemudian menjadi tujuan peziarahan. Banyak orang datang untuk mengenang kehidupan Bruder Klaus dan mencari inspirasi dari kehidupan doa serta semangat perdamaiannya.
Penghormatan terhadap Nikolas terus berkembang selama berabad-abad.
Ia dibeatifikasi pada tahun 1649, sedangkan kanonisasinya dilakukan oleh Paus Pius XII pada 15 Mei 1947.
Santo Nikolas dari Flue kemudian dikenal secara luas sebagai santo pelindung Swiss.
Mengapa Disebut Pengaku Iman?
Dalam tradisi Gereja Katolik, gelar Pengaku Iman atau Confessor diberikan kepada orang kudus yang memberikan kesaksian luar biasa mengenai iman Kristiani melalui kehidupan mereka, tetapi tidak wafat sebagai martir karena dibunuh demi iman.
Santo Nikolas tidak menumpahkan darah sebagai martir.
Namun, seluruh kehidupannya menjadi sebuah “pengakuan” akan imannya kepada Kristus.
Ia memberikan kesaksian melalui doa, kesederhanaan, pertobatan, pengorbanan, kebijaksanaan, dan pelayanan terhadap perdamaian.
Karena itulah gelar Santo Nikolas dari Flue, Pengaku Iman sangat tepat menggambarkan perjalanan hidupnya.
Teladan Santo Nikolas dari Flue bagi Umat Katolik
Kisah seorang pertapa abad ke-15 mungkin tampak sangat jauh dari kehidupan kita. Namun, jika direnungkan lebih dalam, teladan Santo Nikolas justru sangat relevan.
1. Mencari Kehendak Allah dalam Setiap Panggilan
Nikolas pernah menjadi petani, suami, ayah, tentara, tokoh masyarakat, dan akhirnya pertapa.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan rohani adalah sebuah perjalanan.
Tuhan dapat membimbing seseorang melalui berbagai tahap kehidupan. Yang penting adalah menjaga hati agar tetap terbuka terhadap kehendak-Nya.
Kita pun dapat bertanya:
“Tuhan, apa yang Engkau kehendaki dariku hari ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita menjalani pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan berbagai keputusan hidup.
2. Menyediakan Waktu untuk Keheningan
Kehidupan di Ranft mengajarkan pentingnya keheningan.
Kita mungkin tidak dipanggil menjadi pertapa. Namun, setiap orang membutuhkan “Ranft” dalam kehidupan sehari-hari: sebuah ruang dan waktu untuk berhenti dari kesibukan dan berada bersama Tuhan.
Lima belas menit tanpa telepon genggam untuk berdoa dapat menjadi awal.
Membaca Kitab Suci dalam keheningan, melakukan adorasi Ekaristi, berdoa Rosario, atau sekadar duduk di hadapan Tuhan dapat membantu kita kembali menemukan arah hidup.
3. Menjadi Pembawa Damai
Dunia saat ini mudah terpecah oleh perbedaan politik, ekonomi, budaya, bahkan perbedaan pendapat di media sosial.
Keluarga pun dapat terluka karena konflik kecil yang dibiarkan berlarut-larut.
Teladan Santo Nikolas mengajak kita bertanya:
Apakah kehadiran kita membawa perdamaian atau justru memperbesar pertengkaran?
Menjadi pembawa damai bukan berarti selalu menghindari masalah. Kadang-kadang perdamaian membutuhkan keberanian untuk mengatakan kebenaran.
Namun, kebenaran harus disampaikan dalam kasih.
Sebagaimana sabda Kristus:
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9)
4. Hidup Sederhana
Nikolas meninggalkan kenyamanan untuk menjalani kehidupan yang sangat sederhana.
Kita tidak harus meniru cara hidup pertapaannya secara harfiah. Namun, kita dapat meniru kebebasannya terhadap harta benda.
Budaya modern sering mengajarkan bahwa kebahagiaan ditemukan dengan memiliki lebih banyak.
Injil justru mengingatkan bahwa hati manusia tidak akan pernah benar-benar dipuaskan oleh benda.
Kesederhanaan membantu kita membedakan antara apa yang benar-benar kita butuhkan dan apa yang hanya kita inginkan.
5. Mengutamakan Allah
Inilah pusat seluruh kehidupan Santo Nikolas dari Flue.
Allah bukan sekadar salah satu bagian kehidupannya.
Allah adalah pusatnya.
Bagi umat Katolik, teladan ini merupakan ajakan untuk memeriksa kembali prioritas hidup.
Apakah Tuhan hanya kita cari ketika mengalami kesulitan?
Ataukah Tuhan sungguh menjadi pusat dari pekerjaan, keluarga, keputusan, waktu, dan masa depan kita?
Renungan Santo Santa 25 September
Kita mungkin tidak akan pernah hidup sebagai pertapa di lembah sunyi seperti Santo Nikolas dari Flue.
Namun, kita menghadapi tantangan yang serupa dalam bentuk yang berbeda.
Kita hidup di dunia yang penuh suara, sementara jiwa membutuhkan keheningan.
Kita hidup di tengah masyarakat yang mudah terpecah, sementara Kristus memanggil kita menjadi pembawa damai.
Kita hidup dalam budaya yang mendorong kita untuk terus memiliki lebih banyak, sementara Injil mengajak kita menemukan kebebasan dalam kesederhanaan.
Kita mempunyai begitu banyak pilihan, tetapi sering kesulitan mengetahui kehendak Allah.
Di sinilah kehidupan Santo Nikolas dari Flue, Pengaku Iman menjadi relevan.
Ia menunjukkan bahwa sebelum seseorang mampu membawa perdamaian kepada orang lain, ia perlu membiarkan Allah bekerja di dalam dirinya.
Sebelum memberi nasihat kepada dunia, ia belajar mendengarkan Tuhan.
Sebelum menjadi pembawa damai bagi bangsanya, ia terlebih dahulu mencari damai yang berasal dari Allah.
Kekudusan semacam inilah yang juga dibutuhkan dunia sekarang.
Mungkin kita tidak dapat menghentikan perang antarbangsa.
Namun, kita dapat menghentikan pertengkaran dalam keluarga.
Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan konflik politik.
Namun, kita dapat memilih untuk tidak menyebarkan kebencian.
Mungkin kita tidak dapat mengubah seluruh dunia.
Namun, kita dapat membiarkan Tuhan mengubah hati kita.
Dan perubahan dunia selalu dimulai dari hati manusia.
Doa melalui Perantaraan Santo Nikolas dari Flue
Ya Allah, Bapa yang Mahabaik,
Engkau memanggil Santo Nikolas dari Flue
untuk mencari kehendak-Mu dalam doa,
keheningan, kesederhanaan, dan pelayanan bagi perdamaian.
Ajarlah kami untuk menempatkan Engkau
sebagai pusat kehidupan kami.
Bebaskanlah hati kami
dari segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu,
dan berikanlah kepada kami
segala sesuatu yang menuntun kami semakin dekat kepada-Mu.
Ketika terjadi perselisihan,
jadikanlah kami pembawa damai.
Ketika hati kami dipenuhi kegelisahan,
ajarlah kami mencari ketenangan di dalam Engkau.
Ketika kami harus mengambil keputusan,
berilah kami kebijaksanaan untuk mencari kehendak-Mu
lebih daripada kehendak kami sendiri.
Semoga melalui teladan dan perantaraan
Santo Nikolas dari Flue,
kami semakin setia mengikuti Yesus Kristus
dan menjadi saksi kasih serta perdamaian-Mu
di tengah keluarga, masyarakat, dan dunia.
Demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Penutup
Santo Nikolas dari Flue menunjukkan bahwa orang yang hidup dekat dengan Allah dapat membawa pengaruh besar bagi dunia tanpa harus mengejar kekuasaan atau kedudukan.
Ia pernah menjadi seorang petani, suami, ayah, tentara, dan anggota masyarakat. Kemudian ia menjalani kehidupan pertapaan dalam doa dan keheningan. Namun justru dari kesunyian Ranft, kebijaksanaannya menjangkau banyak orang dan ikut membantu menjaga perdamaian bangsanya.
Pada peringatan Santo Santa 25 September, marilah kita memohon kepada Tuhan agar teladan Santo Nikolas dari Flue menolong kita menjadi pribadi yang lebih tekun dalam doa, sederhana dalam hidup, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan berani menjadi pembawa damai.
Kita mungkin tidak dipanggil untuk tinggal di sebuah pertapaan. Namun, kita semua dipanggil untuk menyediakan ruang bagi Tuhan di dalam hati.
Dan dari hati yang dipenuhi Tuhan, damai dapat mengalir kepada orang lain.
🙏 Artikel tentang Santo Nikolas dari Flue ini bermanfaat bagi Anda?
Bagikan kepada keluarga, sahabat, dan komunitas Anda. Mungkin melalui satu kali berbagi, Anda dapat menjadi jalan Tuhan untuk mengenalkan teladan kekudusan dan menguatkan seseorang agar tetap setia berjalan bersama Kristus.
Demikianlah Santo Nikolas dari Flue, Pengaku Iman | 25 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
