Beato Contardo Ferrini, Pengaku Iman | 22 Oktober
Santo Santa 22 Oktober: Beato Contardo Ferrini, Pengaku Iman
Beato Contardo Ferrini adalah seorang awam Katolik, profesor, ahli hukum Romawi, dan anggota Ordo Ketiga Fransiskan yang menunjukkan bahwa kekudusan dapat dijalani di tengah kehidupan akademis dan profesi. Ia tidak menjadi imam atau biarawan, tetapi menghayati panggilan Kristiani melalui penelitian, mengajar, doa, pelayanan kepada sesama, dan kesetiaan terhadap iman Katolik. Kehidupannya menjadi bukti bahwa seseorang tidak harus meninggalkan dunia pendidikan dan pekerjaan profesional untuk mencari kekudusan. Justru melalui tanggung jawab sehari-hari, seseorang dapat menemukan jalan untuk semakin dekat kepada Tuhan.
Contardo Ferrini juga dikenal karena kemampuannya memadukan iman dan ilmu pengetahuan. Sebagai seorang ahli hukum Romawi yang memiliki reputasi akademis tinggi, ia tidak memandang ilmu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan iman. Sebaliknya, pencarian kebenaran melalui ilmu pengetahuan justru membawanya semakin menyadari kebesaran Tuhan. Karena itu, kisah Beato Contardo Ferrini, Pengaku Iman, sangat relevan bagi mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan semua umat Katolik yang ingin menjalankan profesinya sebagai bagian dari panggilan hidup Kristiani.
Catatan: Dalam status Gereja Katolik, Contardo Ferrini adalah Beato, bukan Santo. Ia wafat pada 17 Oktober 1902 dan dibeatifikasi oleh Paus Pius XII pada 1947. Peringatannya dapat ditemukan pada tanggal yang berbeda dalam kalender lokal, termasuk 22 Oktober dalam beberapa tradisi kalender.
Siapakah Beato Contardo Ferrini?
Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik
Contardo Ferrini lahir di Milan, Italia, pada tahun 1859 dalam keluarga Katolik yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan kehidupan iman. Ayahnya, Rinaldo Ferrini, adalah seorang akademisi sehingga sejak kecil Contardo berada dalam lingkungan yang menghargai ilmu pengetahuan. Namun pendidikan intelektual dalam keluarganya tidak dipisahkan dari pembentukan iman. Sejak muda, ia belajar bahwa kecerdasan merupakan karunia Tuhan yang harus digunakan secara bertanggung jawab.
Ferrini kemudian menempuh pendidikan hukum di Universitas Pavia. Ia menunjukkan kemampuan akademis yang luar biasa dan memberikan perhatian khusus kepada bidang hukum Romawi. Ketekunan dalam belajar membuatnya berkembang menjadi salah satu sarjana hukum Romawi yang dihormati pada zamannya. Ia kemudian memperluas studinya ke luar Italia dan menjalani masa akademis di Berlin, Jerman.
Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi perjalanan panjangnya sebagai profesor dan peneliti. Ferrini kemudian mengajar di beberapa universitas di Italia, antara lain Pavia, Messina, dan Modena. Meskipun memiliki prestasi akademis yang tinggi, ia tetap mempertahankan kehidupan doa, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap
Masa Muda dan Pendidikan Contardo Ferrini
Sejak masa kanak-kanak, Ferrini menunjukkan minat yang kuat terhadap pembelajaran. Ia tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memperlihatkan kesungguhan dalam kehidupan rohani. Doa, kehidupan sakramental, dan pendidikan iman menjadi bagian penting dalam pertumbuhannya.
Ketika memasuki masa remaja dan dewasa muda, kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan semakin berkembang. Ia mempelajari berbagai bidang yang mendukung pendidikan hukumnya dan kemudian memberikan perhatian khusus kepada hukum Romawi. Bagi Ferrini, mempelajari hukum bukan hanya soal memahami aturan masa lalu. Ia melihat hukum sebagai bagian dari sejarah manusia, keadilan, tanggung jawab, dan kehidupan masyarakat.
Baca juga: Santa Salome, Wanita Pelayan Yesus – 22 Oktober
Kecintaan terhadap Ilmu Pengetahuan
Ferrini memiliki kemampuan akademis yang sangat menonjol. Setelah menyelesaikan pendidikan hukumnya di Universitas Pavia, ia melanjutkan pendalaman studi ke Berlin. Di sana ia memperluas pengetahuannya tentang hukum Romawi dan sumber-sumber hukum kuno.
Penelitiannya kemudian membuat namanya dikenal dalam lingkungan akademis. Ia menghasilkan berbagai karya ilmiah dan memberikan kontribusi terhadap studi hukum Romawi. Namun pencapaian tersebut tidak membuatnya memandang ilmu sebagai sarana untuk memperoleh kebanggaan pribadi. Ia justru melihat kemampuan intelektual sebagai talenta yang harus dipersembahkan kepada Tuhan dan digunakan bagi kebaikan manusia.
Baca juga: Santo Filipos, Hermes dan Severus – 22 Oktober
Karier Akademis Beato Contardo Ferrini
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Contardo Ferrini menjalani karier sebagai pengajar dan peneliti. Ia mengajar hukum Romawi di sejumlah universitas Italia dan dikenal karena ketekunan serta kedalaman pengetahuannya. Dunia akademis menjadi tempat utama baginya untuk menjalankan panggilan hidup sebagai seorang awam Katolik.
Sebagai profesor, Ferrini tidak hanya berusaha menyampaikan pengetahuan kepada para mahasiswa. Ia juga berusaha memberikan kesaksian melalui integritas hidupnya. Ketelitian dalam penelitian, kejujuran dalam pekerjaan, kesungguhan dalam mengajar, serta penghargaan terhadap kebenaran menjadi bagian dari kesaksiannya.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 22 Oktober 2026 Lukas 12:49-53
Iman dan Ilmu Pengetahuan
Salah satu warisan terpenting dari kehidupan Beato Contardo Ferrini adalah keyakinannya bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat berjalan bersama. Ia tidak melihat penelitian ilmiah sebagai ancaman terhadap iman. Baginya, akal budi adalah anugerah Tuhan yang dapat digunakan manusia untuk mencari kebenaran.
Semakin seseorang memahami dunia dan kehidupan manusia, semakin besar pula kesempatan untuk menyadari keteraturan dan kebesaran ciptaan Tuhan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak harus membuat seseorang menjauh dari iman. Sebaliknya, ilmu dapat menjadi jalan yang membantu seseorang mengagumi kebijaksanaan Sang Pencipta.
Pandangan tersebut membuat Ferrini menjadi teladan yang sangat berharga bagi umat Katolik yang hidup di dunia pendidikan. Ia menunjukkan bahwa menjadi ilmuwan, akademisi, atau profesional tidak berarti harus meninggalkan iman. Iman justru dapat memberikan arah moral bagi penggunaan ilmu pengetahuan.
Kehidupan Doa Beato Contardo Ferrini
Di tengah kesibukan sebagai profesor dan peneliti, Ferrini tetap memelihara kehidupan rohaninya. Ia mengikuti kehidupan sakramental Gereja, berdoa secara teratur, membaca bacaan rohani, dan berusaha menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan. Kesibukan akademis tidak membuatnya menganggap doa sebagai sesuatu yang tidak penting.
Bagi Ferrini, doa bukanlah kegiatan yang terpisah dari pekerjaan. Doa memberikan arah bagi seluruh aktivitasnya. Melalui doa, ia berusaha menjaga agar kecerdasan, prestasi, dan pekerjaan tidak berubah menjadi sarana kesombongan. Ia menyadari bahwa semua kemampuan yang dimilikinya berasal dari Tuhan.
Menemukan Tuhan dalam Pekerjaan
Kehidupan Ferrini memberikan pelajaran penting bahwa kekudusan tidak hanya ditemukan dalam biara atau dalam kegiatan keagamaan. Seorang profesor dapat menjadi kudus melalui cara mengajar. Seorang mahasiswa dapat bertumbuh dalam kekudusan melalui cara belajar. Seorang pekerja dapat memuliakan Tuhan melalui kejujuran dan tanggung jawab dalam pekerjaannya.
Dengan demikian, meja kerja, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, kantor, dan rumah dapat menjadi tempat seseorang menjalankan panggilan Kristiani. Yang menentukan bukan semata-mata tempat seseorang berada, melainkan bagaimana ia menjalankan tanggung jawab tersebut di hadapan Tuhan.
Contardo Ferrini dan Ordo Ketiga Santo Fransiskus
Ferrini juga bergabung dengan Ordo Ketiga Santo Fransiskus, yang kini dikenal sebagai Ordo Fransiskan Sekular. Keputusannya menunjukkan keinginannya untuk menghayati semangat Santo Fransiskus dari Assisi sebagai seorang awam tanpa meninggalkan kehidupan akademisnya.
Spiritualitas Fransiskan menekankan kesederhanaan, kerendahan hati, doa, kasih kepada sesama, dan penghargaan terhadap ciptaan. Nilai-nilai tersebut sangat sesuai dengan cara Ferrini menjalani kehidupan. Walaupun memiliki kedudukan akademis yang tinggi, ia tidak menjadikan prestasi intelektual sebagai alasan untuk meninggikan dirinya.
Justru semakin banyak pengetahuan yang diperolehnya, semakin besar kesadarannya bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan. Dalam terang iman, kecerdasan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Pelayanan kepada Orang Miskin
Kehidupan Ferrini juga memperlihatkan bahwa iman tidak berhenti pada doa dan kegiatan akademis. Ia terlibat dalam pelayanan sosial dan memberikan perhatian kepada orang miskin serta mereka yang mengalami kesulitan. Ia berhubungan dengan karya Konferensi Santo Vincentius de Paul, yang memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan.
Hal ini menunjukkan keseimbangan dalam spiritualitasnya. Ferrini mencintai buku, penelitian, dan dunia akademis, tetapi tidak membiarkan dirinya terkurung dalam kehidupan intelektual. Ia menyadari bahwa manusia yang menderita membutuhkan perhatian nyata.
Iman yang Menjadi Perbuatan
Teladan Ferrini mengingatkan bahwa iman Kristiani harus diwujudkan dalam kasih. Pengetahuan tentang Tuhan dan ajaran Gereja akan menjadi kurang berarti apabila tidak menghasilkan kepedulian terhadap sesama.
Bagi Ferrini, kemampuan intelektual bukan hanya milik pribadi. Pendidikan dan pengetahuan membawa tanggung jawab sosial. Karena itu, seorang terpelajar dipanggil untuk menggunakan kemampuannya bagi kebaikan bersama, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
Keterlibatan dalam Kehidupan Masyarakat
Ferrini juga tidak menjauh dari kehidupan masyarakat. Ia pernah terlibat dalam kehidupan publik sebagai anggota dewan kota Milan. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa seorang awam Katolik dapat menghadirkan nilai-nilai Kristiani melalui tanggung jawab sosial.
Iman tidak berarti menarik diri dari masyarakat. Sebaliknya, umat Katolik dipanggil untuk memberikan kontribusi terhadap kehidupan bersama melalui pekerjaan, pelayanan, pendidikan, dan tindakan yang mendukung martabat manusia.
Ferrini berusaha menjalankan tanggung jawab tersebut dengan integritas. Ia menunjukkan bahwa kehidupan publik dapat menjadi bagian dari panggilan Kristiani apabila dijalankan dengan kejujuran dan perhatian terhadap kepentingan masyarakat.
Profesor yang Menjadi Teladan
Sebagai seorang profesor, Ferrini bukan hanya dikenal karena kecerdasannya. Ia juga memberikan kesaksian melalui kehidupan pribadi. Dalam dunia akademis yang menuntut ketelitian dan persaingan, ia berusaha tetap hidup sederhana dan rendah hati.
Ia tidak menyembunyikan imannya, tetapi juga tidak menjadikan iman sebagai alasan untuk merendahkan orang yang memiliki pandangan berbeda. Kesaksiannya terutama terlihat melalui integritas hidup, kemampuan akademis, kedisiplinan, dan kasih kepada sesama.
Karena itu, Ferrini menjadi teladan yang sangat relevan bagi para pendidik. Guru dan dosen tidak hanya mendidik melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui sikap, kejujuran, cara memperlakukan mahasiswa, dan tanggung jawab dalam menjalankan profesi.
Wafatnya Beato Contardo Ferrini
Setelah bertahun-tahun menjalankan kegiatan akademis dan pelayanan sosial, kesehatan Ferrini mulai menurun. Ia kemudian terserang demam tifoid dan meninggal dunia pada 17 Oktober 1902 di Suna, dekat Lago Maggiore. Saat wafat, usianya baru sekitar 43 tahun.
Kematian pada usia relatif muda mengakhiri perjalanan akademis yang sebenarnya masih sangat panjang. Namun kesaksian hidupnya terus dikenang. Orang-orang yang mengenalnya tidak hanya mengingat Ferrini sebagai profesor dan ahli hukum, tetapi juga sebagai seorang Katolik yang berusaha menjalani iman dengan sungguh-sungguh.
Setelah kematiannya, reputasi kesuciannya semakin berkembang. Gereja kemudian melakukan penyelidikan terhadap kehidupan dan kebajikannya hingga akhirnya ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XII pada 13 April 1947.
Beatifikasi Contardo Ferrini
Beatifikasi Contardo Ferrini menjadi penting karena memperlihatkan bahwa Gereja mengakui jalan kekudusan seorang awam yang hidup di tengah dunia akademis. Ferrini tidak menjalani kehidupan religius sebagai biarawan atau imam. Ia tetap menjadi seorang profesor, peneliti, dan warga masyarakat.
Dalam kesempatan sekitar beatifikasinya, Paus Pius XII menyoroti kesaksian Ferrini mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan dan iman. Kehidupannya menunjukkan bahwa kecerdasan manusia tidak harus menjauhkan seseorang dari Tuhan.
Justru ketika ilmu pengetahuan diarahkan kepada pencarian kebenaran dan pelayanan, ilmu dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kehidupan manusia sekaligus membawa seseorang semakin dekat kepada Sang Kebenaran.
Mengapa Contardo Ferrini Disebut Pengaku Iman?
Dalam tradisi Gereja, gelar Pengaku Iman atau confessor digunakan untuk orang kudus atau beato yang memberikan kesaksian iman melalui kehidupan Kristiani yang heroik dan tidak wafat sebagai martir karena penganiayaan iman.
Contardo Ferrini tidak meninggal sebagai martir. Kesaksiannya diberikan melalui seluruh kehidupannya. Ia mengakui Kristus melalui cara bekerja, belajar, mengajar, berdoa, melayani orang miskin, dan menjalankan tanggung jawab sebagai seorang warga masyarakat.
Hal ini menjadikan Ferrini sebagai teladan khusus bagi umat awam. Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi imam, biarawan, biarawati, atau martir. Namun setiap orang dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Kristus melalui kehidupan sehari-hari.
Teladan Beato Contardo Ferrini bagi Umat Katolik
1. Kekudusan Dapat Dijalani dalam Profesi
Ferrini menunjukkan bahwa pekerjaan profesional bukan penghalang menuju kekudusan. Dokter, guru, dosen, pegawai, pengusaha, peneliti, mahasiswa, maupun pekerja dalam berbagai bidang dapat menjadikan profesinya sebagai sarana pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
Kekudusan tidak hanya ditemukan di dalam biara atau tempat-tempat khusus. Kekudusan juga dapat tumbuh di ruang kuliah, kantor, laboratorium, perpustakaan, rumah, dan lingkungan masyarakat ketika seseorang menjalankan pekerjaannya dengan jujur dan penuh kasih.
2. Iman dan Ilmu Tidak Harus Dipertentangkan
Kehidupan Ferrini menjadi contoh bahwa iman dan ilmu dapat berjalan bersama. Sebagai seorang ahli hukum Romawi, ia menggunakan akal budi untuk mencari kebenaran, tetapi pada saat yang sama tetap memelihara iman kepada Tuhan.
Bagi kaum muda Katolik, teladan ini sangat penting. Pendidikan tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi iman. Sebaliknya, pendidikan dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan dan menggunakannya bagi kebaikan manusia.
3. Kecerdasan Harus Disertai Kerendahan Hati
Prestasi akademis dapat dengan mudah membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ferrini menunjukkan sikap yang berbeda. Pengetahuan justru seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya tetap terbatas di hadapan kebesaran Tuhan.
Kecerdasan yang disertai kerendahan hati akan menjadi kekuatan untuk melayani. Sebaliknya, kecerdasan tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan dan menjauhkan seseorang dari tujuan sebenarnya dari ilmu pengetahuan.
4. Doa Memberi Arah bagi Pekerjaan
Ferrini tidak membiarkan kesibukan akademis mengambil seluruh hidupnya. Ia tetap memberikan ruang bagi doa dan kehidupan sakramental. Teladan ini mengingatkan umat Katolik bahwa kesibukan bukan alasan untuk melupakan Tuhan.
Doa membantu manusia mengingat untuk apa ia bekerja, belajar, dan menggunakan kemampuannya. Dengan doa, pekerjaan tidak hanya menjadi sarana memperoleh penghasilan atau prestasi, tetapi dapat menjadi bentuk pelayanan.
5. Pengetahuan Harus Menghasilkan Pelayanan
Ferrini menggunakan kemampuan dan kedudukannya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Ia tidak memandang pendidikan sebagai jalan untuk memperoleh status pribadi semata.
Pengetahuan membawa tanggung jawab. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula kesempatan untuk membantu orang lain. Inilah semangat yang dapat dipelajari dari kehidupan Ferrini.
Teladan Ferrini bagi Mahasiswa
Kehidupan Beato Contardo Ferrini memiliki pesan khusus bagi mahasiswa. Dunia pendidikan sering kali dipenuhi tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi, meraih gelar, membangun karier, dan mencapai keberhasilan.
Semua itu penting, tetapi Ferrini mengingatkan bahwa pendidikan memiliki tujuan yang lebih besar. Belajar bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan atau status sosial. Pendidikan seharusnya membantu seseorang menjadi manusia yang semakin matang, bertanggung jawab, mencintai kebenaran, dan siap melayani.
Mahasiswa Katolik dapat meneladani Ferrini dengan belajar secara sungguh-sungguh sekaligus menjaga kehidupan doa. Ketekunan belajar dapat menjadi bentuk tanggung jawab terhadap talenta yang diberikan Tuhan.
Teladan Ferrini bagi Guru dan Dosen
Bagi guru dan dosen, Ferrini memberikan teladan mengenai pentingnya menggabungkan kompetensi dengan integritas. Seorang pendidik bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk manusia.
Cara memperlakukan mahasiswa, memberikan penilaian secara adil, mempersiapkan materi, melakukan penelitian dengan jujur, serta menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh merupakan bagian dari kesaksian seorang pendidik.
Pendidik Kristiani tidak perlu memaksakan iman kepada orang lain. Kesaksian dapat diberikan melalui kehidupan yang jujur, rendah hati, adil, penuh kasih, dan menghargai martabat setiap manusia.
Spiritualitas Beato Contardo Ferrini
Spiritualitas Ferrini dapat dirangkum dalam tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu doa, ilmu, dan kasih. Doa mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Ilmu mendorongnya mencari kebenaran. Kasih membuat pengetahuan dan kemampuannya menjadi pelayanan bagi sesama.
Ketiga unsur tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Ferrini tidak memisahkan kehidupan akademis dari kehidupan rohani. Ia juga tidak memisahkan doa dari tanggung jawab sosial. Justru seluruh aspek kehidupan dipersatukan dalam pencarian akan Tuhan dan kebaikan sesama.
Renungan dari Kehidupan Beato Contardo Ferrini
Kita hidup dalam zaman ketika informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Teknologi memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan dalam hitungan detik. Namun banyaknya informasi belum tentu membuat seseorang menjadi bijaksana.
Kehidupan Beato Contardo Ferrini mengajak kita bertanya: untuk apa pengetahuan yang kita miliki digunakan? Apakah kecerdasan membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin sombong? Apakah pendidikan hanya digunakan untuk mengejar keuntungan pribadi atau juga untuk membantu sesama? Apakah pekerjaan membuat kita semakin jauh dari Tuhan atau justru menjadi tempat untuk melayani-Nya?
Ferrini memberikan jawabannya melalui kehidupan nyata. Ia belajar dengan tekun, bekerja secara profesional, menjaga kehidupan doa, dan memperhatikan orang yang membutuhkan. Dengan demikian, ia menunjukkan bahwa kekudusan dapat bertumbuh melalui kehidupan yang tampaknya biasa, asalkan seluruhnya diarahkan kepada Tuhan.
Doa melalui Perantaraan Beato Contardo Ferrini
Ya Allah, sumber segala kebijaksanaan dan kebenaran, Engkau telah menganugerahkan kepada Beato Contardo Ferrini kecintaan kepada ilmu pengetahuan serta iman yang teguh kepada-Mu.
Ajarlah kami menggunakan akal budi dan kemampuan yang Engkau berikan untuk mencari kebenaran dan melayani sesama. Semoga melalui teladan Beato Contardo Ferrini, kami mampu menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari dengan jujur, tekun, rendah hati, dan penuh kasih.
Bimbinglah para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan semua orang yang bekerja dalam dunia pendidikan agar ilmu pengetahuan selalu digunakan untuk membangun kehidupan manusia dan memuliakan nama-Mu.
Semoga kami tidak mengejar pengetahuan hanya demi kebanggaan pribadi, tetapi menjadikannya sarana untuk mengenal kebenaran, mengembangkan kehidupan, dan melayani mereka yang membutuhkan.
Melalui Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Penutup
Kisah Beato Contardo Ferrini menunjukkan bahwa jalan menuju kekudusan dapat ditemukan di tengah kehidupan sehari-hari. Bagi Ferrini, tempat itu adalah universitas, perpustakaan, ruang kuliah, meja penelitian, kehidupan masyarakat, pelayanan kepada orang miskin, dan kehidupan doa.
Ia tidak perlu meninggalkan dunia akademis untuk mencari Tuhan. Ia justru menemukan Tuhan melalui kesetiaan menjalankan panggilannya sebagai seorang awam, profesor, peneliti, dan anggota masyarakat. Kehidupannya memperlihatkan bahwa pekerjaan dapat menjadi jalan kekudusan ketika dijalankan dengan iman, kejujuran, dan kasih.
Warisan rohaninya tetap relevan hingga sekarang: iman tidak mematikan akal, ilmu tidak harus menjauhkan manusia dari Tuhan, dan pekerjaan dapat menjadi jalan menuju kekudusan. Bagi siapa pun yang sedang belajar, mengajar, melakukan penelitian, atau menjalankan profesi intelektual, Beato Contardo Ferrini memberikan teladan yang sederhana tetapi kuat: carilah kebenaran dengan pikiran yang jernih, gunakan pengetahuan untuk melayani, jalankan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, dan arahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan.
Demikianlah Beato Contardo Ferrini, Pengaku Iman | 22 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
