Santo Lukas Pengarang Injil – Santo 18 Oktober
Santo Lukas, Pengarang Injil dan Pewarta Belas Kasih Kristus – Santo Santa 18 Oktober
Setiap tanggal 18 Oktober, Gereja Katolik merayakan Pesta Santo Lukas, Pengarang Injil, salah seorang tokoh penting dalam Gereja perdana. Namanya dikenal terutama sebagai penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, dua kitab Perjanjian Baru yang memberikan kesaksian penting tentang kehidupan Yesus Kristus, karya Roh Kudus, perjalanan para rasul, serta pertumbuhan Gereja pada masa awal. Meskipun Santo Lukas bukan termasuk dua belas rasul yang dipilih langsung oleh Yesus, ia mempunyai peranan besar dalam meneruskan kesaksian iman Gereja perdana melalui tulisan dan pelayanannya.
Santo Lukas juga dikenal dalam tradisi Gereja sebagai seorang tabib dan rekan perjalanan Santo Paulus. Dalam Surat kepada Jemaat di Kolose, Paulus menyebutnya sebagai “tabib yang terkasih” (Kolose 4:14). Kedekatannya dengan Paulus menunjukkan bahwa Lukas bukan hanya seorang penulis yang bekerja dari kejauhan, tetapi juga seorang pelayan yang terlibat dalam kehidupan dan misi Gereja perdana. Dalam 2 Timotius 4:11, Paulus bahkan menyebut bahwa Lukas tetap bersamanya ketika banyak orang lain telah pergi. Kesetiaan tersebut menjadi salah satu kesaksian penting mengenai karakter Santo Lukas.
Injil yang dikaitkan dengan namanya memiliki ciri khas yang sangat kuat. Lukas memberikan perhatian besar kepada belas kasih Allah, doa, karya Roh Kudus, kaum miskin, orang berdosa, perempuan, orang sakit, serta mereka yang tersisih dari masyarakat. Beberapa kisah terkenal yang hanya ditemukan dalam Injil Lukas antara lain perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, Anak yang Hilang, orang kaya dan Lazarus, serta kisah Zakheus. Karena kekayaan tema tersebut, Santo Lukas tidak hanya dikenang sebagai pengarang Injil, tetapi juga sebagai pewarta wajah Allah yang penuh kerahiman.
Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik
Siapakah Santo Lukas?
Informasi mengenai kehidupan Santo Lukas tidak sebanyak informasi mengenai Santo Petrus atau Santo Paulus. Namun, beberapa petunjuk dari Kitab Suci dan tradisi Gereja membantu kita mengenal sosoknya. Ia bukan salah seorang dari dua belas rasul, tetapi termasuk dalam generasi umat Kristen yang menerima dan meneruskan kesaksian para rasul. Dalam pembukaan Injilnya, Lukas menjelaskan bahwa banyak orang telah berusaha menyusun kisah tentang berbagai peristiwa yang terjadi di tengah umat Allah. Ia sendiri kemudian berusaha menyelidiki semuanya dengan saksama dan menyusunnya secara teratur supaya pembacanya dapat mengetahui kebenaran mengenai ajaran yang telah diterimanya.
Cara Lukas memperkenalkan Injilnya memperlihatkan bahwa pewartaan iman membutuhkan tanggung jawab. Ia tidak sekadar menyampaikan cerita tanpa dasar, melainkan berusaha menyusun kesaksian yang telah diterimanya dari mereka yang sejak awal menjadi saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, tulisan Santo Lukas mempunyai tempat penting dalam warisan Gereja.
Baca juga: Pesta Kedelapan Martir Kanada 19 Oktober
Santo Lukas dan Santo Paulus
Hubungan Santo Lukas dengan Santo Paulus merupakan bagian penting dari kisah hidupnya. Dalam beberapa bagian Kisah Para Rasul, penulis menggunakan kata ganti “kami” ketika menceritakan perjalanan misioner Paulus. Tradisi Gereja memahami bagian-bagian tersebut sebagai petunjuk bahwa penulis ikut mengalami sebagian perjalanan yang diceritakannya.
Kehadiran Lukas bersama Paulus juga memperlihatkan bahwa pelayanan pewartaan Injil pada masa Gereja perdana menuntut pengorbanan dan kesetiaan. Para pewarta harus menghadapi perjalanan panjang, penolakan, penderitaan, dan berbagai kesulitan. Dalam keadaan seperti itu, kehadiran seorang sahabat yang tetap setia mempunyai nilai yang sangat besar. Ketika Paulus berada dalam keadaan sulit, ia menulis, “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2 Timotius 4:11). Kalimat singkat tersebut memberikan gambaran mengenai kesetiaan Lukas kepada sahabat dan rekan pelayanannya.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap
Santo Lukas sebagai Pengarang Injil
Tradisi Gereja sejak masa awal menghubungkan Santo Lukas dengan Injil Lukas, Injil ketiga dalam Perjanjian Baru. Injil ini mempunyai gaya dan penekanan yang khas. Lukas menyusun kisah tentang Yesus secara teratur dan memberikan perhatian besar kepada karya keselamatan Allah yang ditujukan kepada semua manusia.
Salah satu tema utama Injil Lukas adalah kerahiman Allah. Yesus digambarkan sebagai Juruselamat yang datang mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Orang berdosa tidak digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki harapan, tetapi sebagai pribadi yang selalu memiliki kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Dengan demikian, Injil Lukas menghadirkan kabar pengharapan bagi manusia yang menyadari kelemahan dan dosanya.
Baca juga: Santo Ignasius dari Antiokia, Uskup dan Martir
Injil tentang Belas Kasih Allah
Kekayaan Injil Lukas tampak jelas dalam berbagai perumpamaan mengenai belas kasih. Dalam Lukas 15, misalnya, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Ketiganya menggambarkan sukacita ketika sesuatu yang hilang ditemukan kembali. Puncak gambaran tersebut terdapat dalam kisah seorang ayah yang menerima kembali anaknya dengan penuh kasih setelah anak itu meninggalkan rumah dan menghamburkan hartanya.
Perumpamaan Anak yang Hilang menjadi salah satu gambaran paling kuat tentang kerahiman Allah. Sang ayah tidak menunggu anaknya menjadi sempurna terlebih dahulu. Ketika melihat anaknya kembali, ia berlari menyambutnya. Pesan tersebut mengingatkan umat beriman bahwa pertobatan selalu membuka jalan menuju pemulihan hubungan dengan Allah.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Minggu, 18 Oktober 2026 Matius 22:15-21
Orang Samaria yang Baik Hati
Salah satu kisah yang sangat terkenal dalam Injil Lukas adalah perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan dirampok dan ditinggalkan dalam keadaan terluka. Beberapa orang melewatinya tanpa memberikan pertolongan. Namun seorang Samaria berhenti, merawat luka-lukanya, membawanya ke tempat penginapan, dan menanggung biaya perawatannya.
Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh kelompok, latar belakang, status sosial, atau perbedaan lainnya. Sesama bukan hanya orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Sesama adalah manusia yang membutuhkan kasih dan pertolongan. Pesan tersebut membuat Injil Lukas tetap sangat relevan bagi kehidupan masyarakat modern yang sering menghadapi berbagai bentuk perpecahan dan ketidakpedulian.
Perhatian Santo Lukas kepada Kaum Miskin
Tema lain yang menonjol dalam Injil Lukas adalah perhatian kepada kaum miskin dan mereka yang mengalami keterbatasan. Dalam Sabda Bahagia, Lukas mencatat perkataan Yesus: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Lukas 6:20). Ia juga mencatat perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus yang mengingatkan tentang bahaya hidup hanya untuk diri sendiri tanpa memedulikan penderitaan orang lain.
Perhatian terhadap kaum miskin tidak berarti bahwa kemiskinan itu sendiri merupakan tujuan hidup. Pesan Injil justru mengajak manusia menggunakan harta, kesempatan, dan kemampuan yang dimilikinya dengan tanggung jawab. Kekayaan menjadi persoalan rohani ketika seseorang membiarkannya membuat dirinya tidak peka terhadap kebutuhan sesama. Karena itu, Injil Lukas menghubungkan iman dengan tindakan kasih yang nyata.
Santo Lukas dan Perempuan dalam Kisah Keselamatan
Injil Lukas juga memberikan perhatian yang cukup menonjol kepada perempuan dalam sejarah keselamatan. Pada bagian awal Injil, pembaca bertemu dengan Elisabet dan Santa Perawan Maria. Kisah Kabar Sukacita kepada Maria, kunjungan Maria kepada Elisabet, serta kelahiran Yesus di Betlehem disampaikan dengan sangat indah.
Dari Injil Lukas pula Gereja menerima Magnificat, nyanyian pujian Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Maria digambarkan sebagai seorang yang menerima kehendak Allah dengan iman, lalu menyimpan dan merenungkan berbagai peristiwa dalam hatinya. Selain Maria, Lukas juga mencatat sejumlah perempuan yang mengikuti dan mendukung pelayanan Yesus.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah melibatkan berbagai macam manusia. Dalam pewartaan Injil, perempuan dan laki-laki sama-sama mempunyai martabat sebagai pribadi yang dipanggil untuk menerima dan memberikan kesaksian mengenai karya Allah.
Santo Lukas dan Santa Perawan Maria
Tradisi Gereja memberikan perhatian khusus terhadap hubungan Santo Lukas dengan Santa Perawan Maria karena Injilnya memuat banyak kisah tentang Maria dan masa awal kehidupan Yesus. Kabar Sukacita, kunjungan Maria kepada Elisabet, Magnificat, kelahiran Yesus, kunjungan para gembala, persembahan Yesus di Bait Allah, serta kisah Yesus ketika berusia dua belas tahun semuanya terdapat dalam Injil Lukas.
Tradisi kemudian juga menghubungkan Santo Lukas dengan seni ikon dan menggambarkannya sebagai seorang pelukis yang membuat gambar Santa Perawan Maria. Namun, kisah bahwa Lukas secara langsung melukis ikon Maria merupakan tradisi Gereja yang tidak dapat dipastikan secara historis. Karena itu, hal tersebut sebaiknya dibedakan dari informasi yang secara langsung didukung oleh Kitab Suci.
Meskipun demikian, secara simbolis tradisi tersebut menarik. Lukas memang “melukiskan” Maria melalui tulisannya dengan memberikan gambaran yang sangat indah mengenai iman, kerendahan hati, dan ketaatannya kepada Allah. Karena hubungan tradisional tersebut, Santo Lukas kemudian dihormati sebagai salah satu pelindung para seniman dan pelukis.
Santo Lukas sebagai Pengarang Kisah Para Rasul
Warisan Santo Lukas tidak berhenti pada Injil. Tradisi Gereja juga menghubungkannya dengan Kisah Para Rasul, kitab yang melanjutkan kisah dari Injil Lukas. Jika Injil Lukas terutama berpusat pada kehidupan, pelayanan, wafat, dan kebangkitan Yesus, Kisah Para Rasul memperlihatkan bagaimana para rasul meneruskan pewartaan setelah kenaikan Kristus.
Kisah Para Rasul menceritakan Pentakosta, pewartaan Santo Petrus, pertumbuhan komunitas Kristen pertama, pertobatan Santo Paulus, perjalanan misionernya, serta perkembangan Gereja hingga mencapai berbagai wilayah di luar Palestina. Dengan demikian, kedua kitab tersebut dapat dipandang sebagai satu rangkaian kesaksian tentang karya keselamatan Allah: karya Kristus dilanjutkan melalui kesaksian para rasul dan bimbingan Roh Kudus.
Roh Kudus dalam Tulisan Santo Lukas
Salah satu tema yang sangat kuat dalam tulisan Lukas adalah Roh Kudus. Dalam Injilnya, Roh Kudus hadir dalam berbagai peristiwa penting yang berkaitan dengan kelahiran dan pelayanan Yesus. Tema tersebut kemudian berkembang lebih kuat dalam Kisah Para Rasul.
Peristiwa Pentakosta menjadi titik penting ketika Roh Kudus turun atas para rasul dan memberikan keberanian kepada mereka untuk mewartakan Injil. Para murid yang sebelumnya takut kemudian tampil sebagai saksi Kristus di hadapan banyak orang. Bagi Lukas, pertumbuhan Gereja bukan hanya hasil kemampuan manusia, melainkan bagian dari karya Allah melalui Roh Kudus.
Pesan ini tetap penting bagi Gereja masa kini. Pelayanan tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan, organisasi, teknologi, atau strategi manusia. Semua usaha evangelisasi perlu berakar pada doa dan keterbukaan terhadap karya Roh Kudus.
Santo Lukas dan Kehidupan Doa
Injil Lukas memberikan perhatian khusus kepada kehidupan doa Yesus. Dalam berbagai peristiwa penting, Yesus digambarkan sedang berdoa. Ia berdoa sebelum memilih kedua belas rasul, berdoa dalam perjalanan pelayanan-Nya, serta mengajarkan murid-murid agar tekun berdoa.
Salah satu pesan penting dari gambaran tersebut adalah bahwa doa bukan sekadar kegiatan tambahan dalam kehidupan orang beriman. Doa merupakan bagian mendasar dari hubungan manusia dengan Allah. Kesibukan, pekerjaan, pelayanan, dan tanggung jawab sehari-hari tidak boleh membuat manusia kehilangan waktu untuk berhenti sejenak dan menyadari kehadiran Tuhan.
Teladan Yesus yang dicatat Lukas mengajak umat Katolik untuk membangun kehidupan doa yang sederhana tetapi setia. Membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, berdoa secara pribadi, bersyukur, memohon pengampunan, serta menyerahkan persoalan hidup kepada Allah merupakan bentuk-bentuk konkret yang dapat menumbuhkan hubungan dengan Tuhan.
Santo Lukas, Sahabat Setia Santo Paulus
Kisah Santo Lukas bersama Santo Paulus memberikan pelajaran penting mengenai kesetiaan dalam persahabatan dan pelayanan. Dalam pewartaan Injil, seseorang tidak selalu menghadapi keadaan yang mudah. Ada saat-saat penuh sukacita, tetapi ada pula masa ketika seseorang menghadapi penolakan, penderitaan, bahkan penganiayaan.
Lukas menunjukkan bahwa menjadi rekan pelayanan berarti bersedia hadir bukan hanya ketika semuanya berjalan dengan baik. Kesetiaan justru terlihat ketika seseorang tetap menemani sahabatnya dalam keadaan sulit. Pernyataan Paulus bahwa hanya Lukas yang tinggal bersamanya memberikan gambaran sederhana tetapi kuat mengenai nilai kehadiran dan persahabatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun dapat menjadi seperti Lukas. Tidak selalu diperlukan kata-kata yang panjang untuk membantu seseorang. Kadang-kadang kehadiran, kesediaan mendengarkan, dan keteguhan untuk tidak meninggalkan seseorang dalam penderitaan sudah menjadi bentuk kasih Kristiani.
Lambang Santo Lukas: Lembu Bersayap
Dalam seni Kristen, keempat penginjil mempunyai lambang masing-masing. Santo Matius biasanya dilambangkan dengan manusia atau malaikat, Santo Markus dengan singa, Santo Yohanes dengan rajawali, sedangkan Santo Lukas dilambangkan dengan lembu atau lembu bersayap.
Simbol tersebut secara tradisional dihubungkan dengan awal Injil Lukas yang menceritakan pelayanan imam Zakharia di Bait Allah. Lembu merupakan salah satu hewan yang digunakan dalam tradisi kurban Israel. Karena itu, simbol tersebut kemudian dikaitkan dengan tema pengorbanan dan karya keselamatan Kristus.
Lambang lembu bersayap menjadi salah satu cara mudah untuk mengenali Santo Lukas dalam lukisan, patung, ikon, maupun karya seni gerejawi. Simbol tersebut juga memperlihatkan bagaimana Gereja menggunakan bahasa visual untuk membantu umat memahami dan mengingat kisah iman.
Santo Pelindung Dokter dan Seniman
Karena Paulus menyebutnya sebagai “tabib yang terkasih”, Santo Lukas secara tradisional dihormati sebagai pelindung para dokter dan tenaga medis. Hubungannya dengan tradisi seni juga membuatnya dikenal sebagai pelindung para pelukis dan seniman.
Namun, teladan Santo Lukas tidak terbatas pada profesi dokter atau seniman. Kehidupannya menunjukkan bahwa setiap kemampuan manusia dapat dipersembahkan untuk melayani Allah dan sesama. Seorang dokter dapat menghadirkan belas kasih melalui pelayanan kepada pasien. Seorang guru dapat mewartakan kebenaran melalui pendidikan. Seorang penulis dapat menggunakan kata-kata untuk menyampaikan pengharapan. Seorang seniman dapat menghadirkan keindahan yang mengarahkan hati manusia kepada Tuhan.
Dengan demikian, peringatan Santo Lukas mengajak setiap orang bertanya: bagaimana kemampuan yang saya miliki dapat menjadi sarana untuk melayani sesama dan mewartakan Injil?
Teladan Santo Lukas bagi Umat Katolik
Menjadi Pewarta Kabar Baik
Tidak semua orang dipanggil untuk menulis kitab suci seperti Santo Lukas. Namun setiap orang yang telah menerima iman dipanggil untuk memberikan kesaksian mengenai Kristus. Pewartaan dapat dilakukan melalui perkataan, tindakan, pekerjaan, keluarga, pelayanan sosial, maupun penggunaan media digital.
Kesaksian Kristen tidak hanya terlihat dari apa yang kita katakan tentang Tuhan, tetapi juga dari cara kita memperlakukan orang lain. Kesabaran, kejujuran, pengampunan, kepedulian, dan kesediaan menolong dapat menjadi bentuk pewartaan Injil yang nyata.
Memiliki Hati yang Peka terhadap Orang Lemah
Tulisan Lukas memperlihatkan perhatian besar kepada orang miskin, sakit, tersisih, dan berdosa. Karena itu, iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama. Mengikuti Kristus berarti belajar melihat orang lain dengan mata belas kasih.
Kepedulian tersebut tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Mendengarkan orang yang kesepian, mengunjungi orang sakit, membantu seseorang yang mengalami kesulitan, atau memberikan perhatian kepada orang yang sering diabaikan merupakan bentuk sederhana dari kasih Kristiani.
Mencintai Kitab Suci
Sebagai pengarang Injil, Santo Lukas mengingatkan umat untuk semakin mencintai Kitab Suci. Alkitab bukan hanya buku yang dibaca ketika berada di gereja, melainkan sumber makanan rohani yang membantu umat mengenal Kristus.
Membaca beberapa ayat Injil setiap hari, merenungkannya, lalu berusaha menerapkannya dalam kehidupan merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memperdalam iman. Dengan cara tersebut, Sabda Allah tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pedoman hidup.
Setia dalam Persahabatan
Kesetiaan Lukas kepada Paulus juga menjadi teladan bagi kehidupan sehari-hari. Persahabatan mudah dijalani ketika semuanya menyenangkan, tetapi kualitas persahabatan terlihat ketika salah satu pihak mengalami kesulitan.
Seorang Kristen dipanggil untuk menjadi sahabat yang dapat dipercaya. Kehadiran yang setia, doa bagi mereka yang sedang menderita, dan kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi merupakan bentuk nyata kasih yang dapat kita pelajari dari teladan Santo Lukas.
Tekun dalam Doa
Lukas menunjukkan kepada kita Yesus yang berdoa. Karena itu, kehidupan doa tidak boleh dianggap sebagai aktivitas tambahan yang hanya dilakukan ketika menghadapi masalah. Doa merupakan hubungan yang terus-menerus dengan Allah.
Di tengah kesibukan kehidupan modern, umat Katolik perlu menyediakan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Dalam keheningan itu, manusia dapat bersyukur, memohon ampun, menyerahkan kekhawatiran, serta mendengarkan kehendak Allah.
Santo Lukas dan Evangelisasi di Zaman Digital
Teladan Santo Lukas mempunyai relevansi yang kuat dalam kehidupan digital. Lukas menggunakan kemampuan menulis untuk menyampaikan kesaksian tentang Kristus kepada orang lain. Pada masa sekarang, teknologi memungkinkan pesan disebarkan kepada banyak orang dalam waktu singkat.
Website, media sosial, video, podcast, dan berbagai bentuk komunikasi digital dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan Injil. Namun, teladan Lukas juga mengingatkan bahwa pewartaan membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab.
Dalam pembukaan Injilnya, Lukas menunjukkan keinginannya untuk menyusun kisah secara teratur berdasarkan kesaksian yang telah diterimanya. Prinsip tersebut sangat penting pada zaman ketika informasi dapat tersebar dengan cepat tanpa selalu melalui pemeriksaan yang memadai.
Karena itu, seorang pewarta Kristiani di dunia digital tidak cukup hanya membuat konten yang menarik. Ia juga dipanggil untuk mencintai kebenaran, ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab. Pewartaan Injil hendaknya membawa terang, bukan menambah kebingungan atau menyebarkan informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Makna Pesta Santo Lukas 18 Oktober
Gereja merayakan Pesta Santo Lukas setiap tanggal 18 Oktober sebagai kesempatan untuk mengenang seorang penginjil yang memberikan kontribusi besar bagi kehidupan Gereja. Melalui Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, umat Kristen menerima kesaksian yang sangat berharga mengenai Yesus Kristus, para rasul, karya Roh Kudus, dan perkembangan Gereja perdana.
Perayaan ini sekaligus mengingatkan bahwa setiap generasi menerima iman dari generasi sebelumnya dan mempunyai tanggung jawab untuk meneruskannya. Santo Lukas menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk menjaga dan menyampaikan kesaksian tentang Kristus. Kita pun dipanggil menggunakan kemampuan masing-masing untuk melakukan hal yang sama sesuai dengan keadaan hidup kita.
Pertanyaan yang dapat kita renungkan pada pesta Santo Lukas adalah: Apakah hidup saya sudah menjadi kesaksian tentang kasih Kristus? Apakah perkataan dan tindakan saya membantu orang lain semakin mengenal kebaikan Tuhan?
Doa kepada Santo Lukas Penginjil
Ya Allah yang Mahabaik, kami bersyukur atas teladan Santo Lukas Penginjil yang dengan setia mewartakan kehidupan dan kasih Putra-Mu, Yesus Kristus. Melalui teladan Santo Lukas, ajarilah kami mencintai Sabda-Mu, tekun dalam doa, peka terhadap orang miskin dan menderita, serta setia menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga setiap kemampuan yang Engkau berikan kepada kami dapat kami gunakan untuk melayani sesama dan memuliakan nama-Mu. Berkatilah para dokter, tenaga medis, penulis, seniman, pewarta, guru, dan semua orang yang menggunakan keahliannya untuk membantu sesama.
Dengan perantaraan Santo Lukas, teguhkanlah iman kami agar kami semakin mengenal Kristus, mengasihi-Nya dengan tulus, dan berani mewartakan kasih-Nya kepada dunia. Semoga hidup kami menjadi kesaksian sederhana tentang belas kasih-Mu.
Amin.
Penutup
Santo Lukas, Pengarang Injil yang diperingati setiap 18 Oktober, meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi Gereja. Melalui Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, umat menerima kesaksian mengenai Yesus Kristus, karya Roh Kudus, Santa Perawan Maria, para rasul, serta perkembangan Gereja perdana.
Namun warisan Santo Lukas tidak berhenti pada tulisan. Ia juga memberikan teladan tentang ketelitian dalam mencari kebenaran, kesetiaan kepada sahabat, perhatian kepada mereka yang menderita, kecintaan terhadap doa, serta keberanian menggunakan kemampuan pribadi untuk melayani Tuhan dan sesama.
Di tengah kehidupan modern, teladan tersebut tetap relevan. Kita mungkin tidak dipanggil untuk menulis sebuah Injil seperti Santo Lukas, tetapi melalui perkataan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, tulisan, dan kehidupan digital, kita dapat ikut mewartakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus.
Semoga peringatan Santo Lukas tanggal 18 Oktober mendorong kita untuk semakin mencintai Kitab Suci, mengenal Kristus lebih dalam, memiliki hati yang penuh belas kasih, serta membawa pengharapan kepada orang-orang yang kita jumpai.
Santo Lukas Penginjil, doakanlah kami.
Demikianlah Santo Lukas Pengarang Injil – Santo 18 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
