Santo Simon dan Yudas, Rasul – 28 Oktober
Santo Simon dan Yudas, Rasul – Santo Santa 28 Oktober
Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul adalah dua dari kedua belas rasul Yesus Kristus yang diperingati oleh Gereja Katolik setiap tanggal 28 Oktober. Meskipun kisah kehidupan mereka tidak banyak dicatat dalam Kitab Suci, keduanya menjadi teladan kesetiaan, keberanian dalam mewartakan Injil, dan ketekunan mengikuti Kristus hingga akhir hidup. Santo Simon dikenal sebagai Simon orang Zelot, sedangkan Santo Yudas, yang juga dikenal sebagai Yudas Tadeus, dihormati dalam tradisi Katolik sebagai santo yang dimohon perantaraannya dalam perkara-perkara sulit dan keadaan yang tampaknya tanpa harapan.
Baca juga: Doa Litani Santo Yudas Tadeus
Santo Simon dan Yudas, Rasul yang Diperingati 28 Oktober
Tanggal 28 Oktober memiliki tempat istimewa dalam kalender liturgi Gereja Katolik karena pada hari ini umat memperingati Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul. Mereka termasuk dalam kelompok dua belas rasul yang dipilih secara khusus oleh Yesus untuk menyertai-Nya, mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan karya-Nya, dan kemudian mewartakan Injil kepada dunia. Nama mereka mungkin tidak muncul sesering Santo Petrus, Santo Yohanes, atau Santo Paulus dalam berbagai kisah Perjanjian Baru. Namun, kedudukan mereka sebagai rasul menunjukkan bahwa mereka mempunyai peranan penting dalam kehidupan Gereja perdana.
Para rasul bukan sekadar pengikut biasa. Mereka dipanggil untuk menjadi saksi kehidupan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Melalui kesaksian para rasul inilah iman Kristiani diwariskan dari generasi ke generasi. Peringatan Santo Simon dan Yudas tanggal 28 Oktober mengingatkan umat Katolik bahwa kebesaran seorang murid Kristus tidak selalu diukur dari seberapa terkenal namanya. Kesetiaan kepada Tuhan, keberanian menjalankan panggilan, dan ketekunan dalam pewartaan Injil justru menjadi ukuran yang jauh lebih penting.
Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik
Siapakah Santo Simon Rasul?
Santo Simon merupakan salah seorang dari kedua belas rasul Yesus. Dalam daftar para rasul di dalam Perjanjian Baru, namanya disebut bersama para murid lainnya. Dalam Injil Lukas, ia disebut sebagai Simon yang disebut orang Zelot. Sebutan tersebut membantu membedakannya dari Simon Petrus. Nama Simon sendiri merupakan nama yang cukup umum pada zaman Yesus. Karena itu, Kitab Suci menggunakan sebutan tambahan untuk membedakan Simon ini dari Simon Petrus, salah seorang rasul yang paling menonjol dalam kisah Injil.
Baca juga: Simon Orang Zelot, Murid Yesus dan Rasul Kristus
Santo Simon Orang Zelot
Sebutan “orang Zelot” pada Santo Simon telah menjadi bahan pembahasan sepanjang sejarah. Istilah tersebut dapat menunjuk pada semangat atau gairah yang besar, khususnya semangat terhadap hukum dan iman Israel. Ada pula tradisi yang menghubungkannya dengan kelompok atau semangat kaum Zelot. Namun, informasi sejarah mengenai kehidupan Simon sebelum menjadi murid Yesus sangat terbatas sehingga tidak semua rincian mengenai latar belakangnya dapat dipastikan.
Yang jelas, setelah dipanggil oleh Kristus, identitas utama Simon bukan lagi berdasarkan latar belakang sosial atau kelompok tertentu, melainkan sebagai rasul Yesus Kristus. Di sinilah kita dapat menemukan pelajaran rohani yang penting. Kristus memanggil manusia dari berbagai latar belakang dan membentuk mereka menjadi satu komunitas murid. Para rasul memiliki kepribadian dan pengalaman yang berbeda, tetapi mereka dipersatukan oleh satu Tuhan dan satu tugas, yaitu mewartakan Kerajaan Allah.
Baca juga: Doa Novena Santo Yudas Tadeus
Panggilan Santo Simon Menjadi Rasul
Kitab Suci tidak memberikan kisah khusus mengenai saat pertama kali Santo Simon dipanggil oleh Yesus. Akan tetapi, namanya tercantum dalam daftar kedua belas rasul, yang menunjukkan bahwa Simon termasuk dalam kelompok yang dipilih Yesus untuk mengambil bagian secara khusus dalam karya-Nya. Menjadi rasul berarti meninggalkan banyak hal dan bersedia berjalan bersama Kristus. Para rasul mendengarkan pengajaran Yesus, menyaksikan mukjizat-Nya, melihat bagaimana Ia melayani orang sakit dan berdosa, serta mengalami sendiri tantangan dalam mengikuti-Nya.
Setelah kebangkitan Kristus, para rasul menerima tugas untuk meneruskan pewartaan Injil kepada segala bangsa. Santo Simon menjadi bagian dari misi besar tersebut. Walaupun catatan mengenai kehidupannya tidak sebanyak beberapa rasul lainnya, kehadirannya dalam daftar para rasul menegaskan bahwa setiap murid memiliki peranan dalam karya keselamatan yang dipercayakan Kristus kepada Gereja.
Baca juga: Tadeus atau Yudas Anak Yakobus, Murid Yesus
Siapakah Santo Yudas Rasul?
Selain Santo Simon, Gereja Katolik pada tanggal 28 Oktober juga memperingati Santo Yudas Rasul. Nama Yudas terkadang menimbulkan kebingungan karena ada lebih dari satu tokoh bernama Yudas dalam Perjanjian Baru. Santo Yudas yang diperingati bersama Santo Simon bukanlah Yudas Iskariot, murid yang mengkhianati Yesus. Dalam tradisi Kristiani, Santo Yudas Rasul juga dikenal sebagai Yudas Tadeus atau Santo Yudas Tadeus. Pembedaan ini sangat penting agar umat tidak menyamakan kedua tokoh tersebut.
Baca juga: Doa untuk Kasus Yang Tidak Terselesaikan : Santo Yudas Tadeus
Santo Yudas Tadeus dalam Kitab Suci
Dalam daftar kedua belas rasul terdapat seorang Yudas selain Yudas Iskariot. Injil Yohanes juga mencatat seorang murid bernama Yudas, dengan penjelasan bahwa ia bukan Yudas Iskariot, yang bertanya kepada Yesus mengenai bagaimana Ia akan menyatakan diri kepada para murid tetapi tidak kepada dunia. Pertanyaan tersebut memperlihatkan keinginan seorang murid untuk memahami lebih dalam rencana Tuhan. Jawaban Yesus kemudian mengarahkan perhatian kepada kasih dan ketaatan kepada firman-Nya.
Dengan demikian, Santo Yudas mengingatkan umat bahwa menjadi murid Kristus bukan berarti memahami segala sesuatu dengan segera. Seorang murid juga harus berani bertanya, mendengarkan, dan terus bertumbuh dalam iman. Kehidupan rohani merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan keterbukaan hati, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus belajar dari Tuhan.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap
Santo Yudas dan Surat Yudas
Perjanjian Baru memiliki sebuah tulisan pendek yang dikenal sebagai Surat Yudas. Secara tradisional, surat ini dikaitkan dengan Yudas yang memperkenalkan dirinya sebagai hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus. Namun, identifikasi persis penulis Surat Yudas dengan Rasul Yudas Tadeus telah menjadi bahan pembahasan dalam kajian Kitab Suci. Karena itu, hubungan tersebut sebaiknya disampaikan dengan hati-hati dan tidak dianggap sebagai fakta sejarah yang sepenuhnya pasti.
Terlepas dari persoalan identitas penulisnya, Surat Yudas menyampaikan pesan penting mengenai perlunya mempertahankan iman dan hidup setia kepada Tuhan di tengah berbagai tantangan. Pesan tersebut selaras dengan teladan para rasul yang mempertahankan iman kepada Kristus meskipun harus menghadapi penderitaan. Bagi umat Katolik masa kini, pesan itu menjadi pengingat bahwa iman perlu dijaga dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan kesulitan, godaan, dan perubahan zaman.
Baca juga: Santo Frumentius, Uskup – Santo 27 Oktober
Mengapa Santo Simon dan Yudas Diperingati Bersama?
Gereja Katolik merayakan pesta Santo Simon dan Yudas pada tanggal 28 Oktober. Tradisi menghubungkan kedua rasul ini dalam karya pewartaan Injil. Berbagai tradisi kuno menceritakan perjalanan misioner mereka ke wilayah Timur, meskipun rincian perjalanan tersebut tidak semuanya dapat diverifikasi secara historis. Tradisi juga mengenang keduanya sebagai martir yang menyerahkan hidup karena iman kepada Kristus. Karena keterbatasan sumber sejarah awal, tempat, waktu, dan cara kemartiran mereka memiliki beberapa versi.
Hal terpenting dari tradisi tersebut bukanlah rincian dramatis mengenai kematian mereka, melainkan kesaksian bahwa para rasul bersedia mempertahankan iman dan melaksanakan perutusan yang dipercayakan Kristus. Peringatan bersama ini mengajak umat untuk melihat bahwa pelayanan dalam Gereja merupakan karya bersama. Setiap orang mempunyai tugas dan kemampuan yang berbeda, tetapi semuanya dapat diarahkan untuk mewartakan kasih Tuhan.
Baca juga: Santo Narcissus dari Yerusalem, Uskup | 29 Oktober
Santo Simon dan Yudas dalam Pewartaan Injil
Setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus, para rasul memiliki tanggung jawab untuk meneruskan karya Kristus. Mereka tidak lagi hanya menjadi pendengar, tetapi juga harus menjadi pewarta. Perintah Kristus untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya menjadi dasar kehidupan misioner Gereja. Tradisi Gereja kemudian menghubungkan Santo Simon dan Yudas dengan pewartaan Injil di berbagai wilayah di luar Palestina. Walaupun catatan historis mengenai perjalanan mereka terbatas, penghormatan terhadap keduanya telah berkembang sejak masa awal Kekristenan.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Selasa, 28 Oktober 2026 Lukas 13:18-21
Kesetiaan Sampai Akhir
Salah satu tema terbesar dalam kehidupan Santo Simon dan Yudas Rasul adalah kesetiaan. Mengikuti Yesus tidak selalu berarti memperoleh kenyamanan. Para rasul justru menghadapi penolakan, ancaman, perjalanan panjang, perbedaan budaya, dan berbagai kesulitan. Namun, mereka tetap mewartakan Kristus dan menjalankan tugas yang dipercayakan kepada mereka.
Kesetiaan seperti inilah yang menjadi inspirasi bagi umat Katolik masa kini. Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke negeri yang jauh sebagai misionaris, tetapi setiap orang Kristiani dipanggil menjadi saksi Kristus melalui kehidupan sehari-hari. Kesetiaan dapat diwujudkan dengan menjalankan tanggung jawab secara jujur, menjaga hubungan keluarga, membantu sesama, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Injil ketika menghadapi tekanan.
Santo Yudas Tadeus, Pelindung Perkara Sulit
Dalam devosi Katolik, Santo Yudas Tadeus dikenal luas sebagai santo yang dimohon perantaraannya dalam perkara-perkara sulit dan keadaan yang tampaknya tanpa harapan. Devosi ini berkembang kuat di kalangan umat Katolik dan membuat nama Santo Yudas dikenal di berbagai negara. Banyak umat memohon perantaraannya ketika menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, relasi, atau berbagai kesulitan hidup lainnya.
Namun, devosi kepada para kudus harus selalu dipahami secara benar. Umat Katolik tidak menyembah Santo Yudas karena penyembahan hanya diberikan kepada Allah. Ketika umat memohon doa Santo Yudas, umat meminta seorang kudus yang telah hidup dalam persatuan dengan Kristus untuk mendoakan mereka kepada Tuhan. Devosi ini membantu umat mengarahkan hati kepada Allah dengan meneladani iman dan kesetiaan para kudus.
Doa Bukan Jalan Pintas
Devosi kepada Santo Yudas tidak boleh dipahami sebagai cara otomatis untuk memperoleh apa yang diinginkan. Doa Kristiani selalu berakar pada kepercayaan kepada kehendak Allah. Ketika seseorang membawa persoalannya dalam doa, ia tidak hanya meminta agar keadaan berubah, tetapi juga memohon kekuatan untuk tetap beriman ketika jawaban Tuhan berbeda dari yang diharapkan.
Di sinilah teladan Santo Yudas menjadi relevan. Iman bukan hanya percaya kepada Tuhan ketika semuanya berjalan sesuai keinginan, melainkan tetap percaya ketika jalan di depan terasa gelap. Doa membantu manusia menemukan ketenangan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk mengambil langkah yang tepat. Dalam menghadapi masalah, umat juga tetap perlu berusaha, mencari nasihat yang bijaksana, serta menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
Teladan Santo Simon bagi Umat Katolik
Santo Simon memberikan teladan mengenai semangat yang diarahkan kepada Tuhan. Jika sebutan “Zelot” dikaitkan dengan semangat yang berkobar, kehidupan Simon mengingatkan bahwa semangat manusia perlu diarahkan dan dimurnikan oleh Kristus. Semangat tanpa kasih dapat berubah menjadi kemarahan, sedangkan keyakinan tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi sikap menghakimi. Sebaliknya, ketika semangat dipersatukan dengan kasih Kristus, seseorang dapat menjadi saksi Injil yang kuat.
Umat Katolik dapat belajar dari Santo Simon untuk memiliki semangat dalam doa, pelayanan, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan menggereja. Semangat tersebut hendaknya tidak berhenti pada kata-kata atau niat baik, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Dengan bersikap jujur, memperjuangkan keadilan, membantu orang yang membutuhkan, dan menghormati martabat sesama, umat dapat menunjukkan bahwa imannya sungguh hidup.
Teladan Santo Yudas bagi Umat Katolik
Santo Yudas mengingatkan umat agar tidak kehilangan harapan. Ada saat ketika persoalan terasa begitu berat sehingga manusia tidak mengetahui lagi apa yang harus dilakukan. Pada saat seperti itu, iman mengajak manusia untuk tetap datang kepada Tuhan dan percaya bahwa hidupnya tidak pernah berada di luar jangkauan kasih Allah.
Harapan Kristiani bukan keyakinan bahwa semua masalah pasti selesai sesuai keinginan kita. Harapan Kristiani adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap hadir dan setia, bahkan di tengah penderitaan. Karena itu, devosi kepada Santo Yudas seharusnya membawa umat semakin dekat kepada Kristus, bukan sekadar menjadi sarana untuk meminta penyelesaian masalah. Melalui doa dan ketekunan, umat belajar menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan sambil tetap berusaha melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Pelajaran dari Santo Simon dan Yudas untuk Kehidupan Sehari-hari
Peringatan Santo Simon dan Yudas tanggal 28 Oktober bukan hanya kesempatan untuk mengenang tokoh Gereja masa lalu. Kehidupan mereka dapat menjadi bahan permenungan bagi umat zaman sekarang, terutama dalam menjalani iman di tengah tantangan keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan perkembangan dunia modern.
1. Tuhan Memanggil Orang dengan Latar Belakang Berbeda
Kelompok dua belas rasul bukan kelompok yang seragam. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dan memiliki karakter yang beragam, tetapi Yesus mempersatukan mereka dalam satu perutusan. Gereja pun terdiri dari manusia dengan berbagai karakter, kemampuan, budaya, dan pengalaman. Perbedaan tidak harus menjadi penghalang untuk bekerja bersama apabila Kristus menjadi pusat kehidupan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap orang bersedia saling menghormati dan melayani.
2. Kesetiaan Lebih Penting daripada Popularitas
Santo Simon dan Yudas tidak memperoleh porsi kisah sebanyak beberapa rasul lainnya dalam Kitab Suci, tetapi hal tersebut tidak membuat panggilan mereka kurang penting. Pelajaran ini sangat relevan di zaman ketika popularitas sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Dalam kehidupan rohani, seseorang tidak harus dikenal banyak orang untuk hidup kudus. Seorang ayah atau ibu yang setia kepada keluarga, orang muda yang mempertahankan iman, pekerja yang menjalankan tugas dengan jujur, atau orang yang diam-diam membantu sesamanya dapat memberikan kesaksian yang sangat berarti.
3. Jangan Kehilangan Harapan
Santo Yudas terutama mengingatkan umat bahwa tidak ada keadaan yang membuat seseorang harus berhenti berdoa. Selama manusia masih dapat datang kepada Tuhan, harapan tetap ada. Jawaban Tuhan mungkin tidak selalu datang dengan cara yang kita bayangkan, tetapi doa membuka hati agar kita mampu melihat jalan yang tersedia dan menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Harapan membantu manusia menghadapi kesulitan tanpa menyerah pada keputusasaan.
4. Iman Harus Diwujudkan dalam Perutusan
Para rasul tidak menyimpan pengalaman bersama Yesus hanya untuk diri sendiri. Mereka pergi dan mewartakan Injil. Demikian pula, iman Katolik tidak hanya dijalani di dalam gereja, tetapi harus hadir dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, lingkungan masyarakat, dan cara seseorang memperlakukan sesama. Kesediaan untuk mendengarkan orang yang kesepian, membantu mereka yang membutuhkan, serta mengampuni orang yang bersalah merupakan beberapa bentuk nyata pewartaan kasih Kristus.
5. Berani Bersaksi tentang Kristus
Menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti berkhotbah di hadapan banyak orang. Kesaksian dapat diberikan melalui kejujuran, kesabaran, pengampunan, perhatian kepada orang miskin, kesediaan membantu orang lain, dan keberanian membela kebenaran dengan kasih. Kehidupan yang sesuai dengan Injil sering kali menjadi bentuk pewartaan yang paling mudah dilihat oleh orang lain. Melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus, umat dapat membantu sesama mengenal kebaikan Tuhan.
Makna Pesta Santo Simon dan Yudas 28 Oktober
Pesta Santo Simon dan Yudas Rasul mengajak Gereja kembali kepada fondasi apostoliknya. Iman yang kita terima hari ini tidak muncul begitu saja. Ada generasi-generasi murid Kristus yang mempertahankan, menghidupi, dan meneruskan iman tersebut. Para rasul memiliki kedudukan khusus dalam mata rantai kesaksian ini karena mereka dipanggil Kristus dan diutus menjadi saksi-Nya.
Memperingati para rasul juga berarti mengingat identitas Gereja sebagai komunitas yang diutus. Gereja tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Setiap orang yang telah menerima kabar sukacita Kristus dipanggil untuk membawa kabar sukacita itu kepada sesama. Pesta Santo Simon dan Yudas menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui komitmen dalam doa, pelayanan, dan pewartaan Injil sesuai dengan panggilan masing-masing.
Renungan Santo Simon dan Yudas
Kehidupan Santo Simon dan Santo Yudas mengajukan pertanyaan sederhana kepada kita: seberapa setiakah kita mengikuti Kristus ketika jalan menjadi sulit? Mudah untuk mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan ketika kehidupan berjalan dengan baik. Tantangan sebenarnya muncul ketika doa terasa belum dijawab, rencana gagal, orang lain mengecewakan kita, atau masa depan tampak tidak pasti. Pada saat seperti itulah iman diuji dan ketekunan kita dibentuk.
Santo Simon mengajarkan semangat dalam mengikuti Tuhan, sedangkan Santo Yudas mengingatkan kita untuk tetap memiliki harapan. Keduanya menunjukkan bahwa seorang murid dipanggil untuk terus berjalan bersama Kristus, bahkan ketika tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban segera. Kesetiaan tidak selalu terlihat dalam tindakan besar, tetapi sering kali tumbuh melalui keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Mungkin kita tidak dipanggil untuk melakukan perjalanan misioner seperti para rasul, tetapi kita mempunyai wilayah misi masing-masing. Keluarga adalah tempat misi, pekerjaan adalah tempat misi, dan lingkungan masyarakat adalah tempat misi. Bahkan dunia digital dapat menjadi tempat untuk menghadirkan nilai-nilai Injil melalui perkataan yang benar, sikap yang menghargai orang lain, dan konten yang membawa kebaikan. Dengan demikian, teladan Santo Simon dan Yudas tetap hidup dalam tindakan umat yang berusaha menjadi saksi Kristus di mana pun mereka berada.
Doa pada Pesta Santo Simon dan Yudas
Ya Tuhan, kami bersyukur atas teladan Santo Simon dan Santo Yudas, para rasul-Mu yang setia. Melalui teladan mereka, ajarlah kami untuk mengikuti Kristus dengan hati yang teguh, tetap berharap dalam kesulitan, dan berani menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kami tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, tetapi selalu mengandalkan kasih dan penyertaan-Mu.
Tumbuhkanlah dalam diri kami semangat untuk mengasihi-Mu, melayani sesama, dan menjalankan panggilan kami dengan setia. Bimbinglah kami agar mampu menghadapi persoalan hidup dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan pengharapan yang teguh. Santo Simon dan Santo Yudas, doakanlah kami agar semakin dekat kepada Kristus dan tetap setia kepada-Nya sepanjang hidup kami. Amin.
Penutup
Peringatan Santo Simon dan Yudas, Rasul pada 28 Oktober merupakan kesempatan bagi umat Katolik untuk merenungkan arti panggilan, kesetiaan, pengharapan, dan perutusan. Santo Simon menunjukkan bagaimana semangat manusia dapat diarahkan sepenuhnya kepada pelayanan Tuhan, sedangkan Santo Yudas mengingatkan umat untuk tidak kehilangan harapan bahkan ketika menghadapi keadaan yang tampaknya sangat sulit. Keduanya adalah bagian dari dua belas rasul yang dipilih Kristus untuk menjadi saksi dan pembawa kabar keselamatan.
Walaupun tidak banyak rincian kehidupan mereka yang tercatat dalam Kitab Suci, kesaksian mereka terus dikenang Gereja selama berabad-abad. Pada pesta Santo Simon dan Yudas tanggal 28 Oktober, kita pun diajak bertanya kepada diri sendiri: apakah iman kita hanya menjadi sesuatu yang kita simpan untuk diri sendiri, atau sudah menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita? Semoga melalui perantaraan Santo Simon dan Santo Yudas, kita memperoleh keberanian untuk mengikuti Kristus dengan setia, mempertahankan harapan dalam kesulitan, dan menjadi pembawa kasih Tuhan di mana pun kita berada.
Demikianlah Santo Simon dan Yudas, Rasul – 28 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
