Santo Laurensius Giustiniani, Uskup – 5 September
Santo Santa 5 September: Santo Laurensius Giustiniani, Uskup dan Pengaku Iman
Setiap tanggal 5 September, kita mengenang Santo Laurensius Giustiniani, seorang uskup dan Pengaku Iman yang dikenal karena kehidupan doa, kesederhanaan, pelayanan kepada kaum miskin, serta semangatnya dalam memperbarui kehidupan Gereja. Ia juga dikenang sebagai Patriark pertama Venesia, sebuah tanggung jawab besar yang dijalaninya dengan semangat seorang gembala, bukan sebagai jalan menuju kehormatan duniawi.
Kehidupan Santo Laurensius Giustiniani memperlihatkan bahwa kekudusan tidak selalu diwujudkan melalui tindakan yang spektakuler. Kesetiaan dalam doa, kerendahan hati, pengendalian diri, kasih kepada sesama, serta keberanian menjalankan tanggung jawab sehari-hari dapat menjadi jalan menuju persatuan yang semakin mendalam dengan Allah.
Sebagai seorang uskup dan Pengaku Iman, Santo Laurensius menunjukkan bagaimana seseorang dapat memberikan kesaksian tentang Kristus melalui seluruh kehidupannya. Ia tidak wafat sebagai martir, tetapi kehidupannya menjadi kesaksian iman melalui doa, pelayanan pastoral, pengorbanan, dan kesetiaan kepada panggilan Tuhan.
Kisah Santo Laurensius Giustiniani karena itu tetap relevan bagi umat Katolik masa kini. Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan kekayaan, kedudukan, popularitas, dan pengaruh, santo ini mengingatkan kita bahwa kebesaran sejati ditemukan dalam kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santo Laurensius Giustiniani?
Santo Laurensius Giustiniani—juga dikenal sebagai Lawrence Justinian atau Lorenzo Giustiniani—lahir di Venesia pada tahun 1381 dari keluarga bangsawan Giustiniani. Ia hidup pada masa ketika Venesia merupakan salah satu pusat perdagangan dan politik yang penting di Eropa.
Latar belakang keluarganya sebenarnya dapat membuka jalan menuju kehidupan yang nyaman dan terhormat. Namun, Laurensius justru merasakan panggilan menuju kehidupan yang berpusat pada Allah.
Sejak muda ia menunjukkan kecenderungan kepada kehidupan doa dan kesalehan. Dalam perjalanan rohaninya, ia akhirnya meninggalkan berbagai kesempatan duniawi dan memilih kehidupan religius yang lebih sederhana.
Keputusannya bukan sekadar penolakan terhadap dunia, melainkan jawaban terhadap panggilan yang diyakininya berasal dari Tuhan. Ia ingin mencari Kristus dengan hati yang tidak terbagi.
Meninggalkan Kehormatan Duniawi
Bagi seorang pemuda yang berasal dari keluarga bangsawan Venesia, memilih kehidupan religius merupakan keputusan yang sangat berarti. Laurensius mempunyai kesempatan untuk memperoleh kedudukan sosial yang tinggi. Namun ia memahami bahwa kekayaan dan kehormatan dunia tidak mampu memenuhi kerinduan terdalam manusia.
Ia memilih jalan doa, kemiskinan, disiplin rohani, dan pelayanan.
Pilihan tersebut mengingatkan kita pada perkataan Kristus:
“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat. 6:21)
Santo Laurensius berusaha menjadikan Allah sebagai harta utama hidupnya.
Keputusan itu juga menunjukkan prinsip penting dalam kehidupan Kristiani: panggilan kepada kekudusan membutuhkan kebebasan batin. Bukan berarti setiap orang harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau harta benda. Namun setiap murid Kristus dipanggil untuk tidak membiarkan hal-hal duniawi menguasai hati.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Panggilan Hidup Religius Santo Laurensius Giustiniani
Laurensius bergabung dengan komunitas para kanonik di San Giorgio in Alga, dekat Venesia. Komunitas ini menekankan kehidupan bersama, doa, kesederhanaan, dan pembaruan rohani.
Di tempat inilah kehidupan rohani Laurensius berkembang semakin mendalam.
Ia dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dan disiplin. Ia tidak mencari kenyamanan atau penghormatan. Sebaliknya, ia berusaha membentuk dirinya melalui doa, pengendalian diri, dan pelayanan.
Kehidupan religius baginya bukanlah pelarian dari dunia. Justru melalui doa dan pembentukan rohani, ia dipersiapkan untuk melayani Gereja dengan lebih baik.
Doa sebagai Dasar Kehidupan
Salah satu ciri penting spiritualitas Santo Laurensius Giustiniani adalah kehidupan doa yang mendalam.
Baginya, doa bukan sekadar kewajiban yang dilakukan pada waktu tertentu. Doa merupakan hubungan hidup dengan Allah yang menjadi sumber seluruh pelayanan.
Seorang pelayan Gereja tidak dapat memberikan Kristus kepada orang lain apabila ia sendiri tidak berusaha hidup dekat dengan Kristus.
Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi imam dan kaum religius, tetapi juga bagi seluruh umat beriman. Orang tua membutuhkan doa untuk mendidik anak-anak. Pekerja membutuhkan doa agar dapat menjalankan tanggung jawab dengan jujur. Orang muda membutuhkan doa untuk membedakan pilihan hidup.
Doa membantu kita melihat kehidupan dengan terang iman.
Baca juga: Santa Rosa dari Viterbo, Santo Santa 4 September
Hidup Sederhana dan Rendah Hati
Tradisi mengenai kehidupan Santo Laurensius menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang sangat sederhana. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, ia tidak menjadikan status sosial sebagai sumber identitas.
Ia memilih hidup dalam kerendahan hati.
Dalam spiritualitas Katolik, kerendahan hati bukan berarti merendahkan martabat diri. Kerendahan hati berarti melihat diri sendiri dengan benar di hadapan Allah: menyadari bahwa segala sesuatu yang baik merupakan anugerah-Nya.
Orang yang rendah hati tidak harus terus-menerus membuktikan dirinya kepada orang lain.
Ia dapat melayani tanpa selalu mencari pujian.
Baca juga: Beato Thomas Tzugi, Martir Jepang | 6 September
Santo Laurensius Giustiniani Menjadi Uskup
Kehidupan doa dan kesalehan Laurensius akhirnya membawa dirinya kepada tanggung jawab yang lebih besar dalam Gereja.
Pada tahun 1433, Paus Eugenius IV mengangkatnya menjadi Uskup Castello, sebuah keuskupan yang berkaitan erat dengan wilayah Venesia.
Tanggung jawab sebagai uskup bukanlah sesuatu yang dicarinya sebagai kehormatan pribadi. Namun ia menerimanya sebagai bentuk ketaatan dan pelayanan kepada Gereja.
Sebagai uskup, ia dikenal berusaha melakukan pembaruan kehidupan rohani dan pastoral.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Sabtu, 5 September 2026 Lukas 6:1-5
Gembala yang Dekat dengan Umat
Bagi Santo Laurensius, jabatan uskup bukanlah simbol kekuasaan.
Uskup dipanggil untuk menjadi gembala.
Gambaran ini berasal dari Kristus sendiri, Sang Gembala Baik, yang berkata:
“Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh. 10:11)
Laurensius berusaha menjalankan pelayanan episcopal dalam semangat tersebut.
Ia memberikan perhatian kepada kehidupan rohani umat, pembinaan klerus, disiplin Gereja, serta pelayanan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.
Ia juga dikenal karena kepeduliannya kepada kaum miskin.
Kasih kepada Orang Miskin
Pelayanan kepada orang miskin merupakan salah satu bentuk nyata iman Kristiani.
Santo Laurensius memahami bahwa kasih kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.
Kristus sendiri mengajarkan:
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40)
Karena itu, kepedulian terhadap mereka yang miskin dan menderita bukan sekadar kegiatan sosial tambahan. Bagi umat Kristiani, tindakan kasih merupakan konsekuensi dari iman.
Santo Laurensius memberikan teladan bahwa seorang pemimpin Gereja harus memiliki hati yang peka terhadap penderitaan umat.
Patriark Pertama Venesia
Salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan Santo Laurensius Giustiniani terjadi pada tahun 1451.
Pada masa itu terjadi reorganisasi struktur gerejawi di Venesia. Patriarkat Grado disatukan dengan Keuskupan Castello sehingga terbentuk Patriarkat Venesia.
Laurensius kemudian menjadi Patriark pertama Venesia.
Gelar tersebut menempatkannya dalam posisi penting dalam kehidupan Gereja di wilayah tersebut. Namun semangat hidupnya tetap sama: sederhana, berdoa, dan melayani.
Kedudukan yang semakin tinggi tidak membuatnya meninggalkan kehidupan rohani yang telah dibangunnya sejak muda.
Kekuasaan sebagai Pelayanan
Teladan Santo Laurensius sangat penting bagi siapa pun yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain.
Dalam pandangan dunia, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak orang yang melayaninya.
Kristus justru mengajarkan prinsip yang berbeda:
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Mat. 20:26)
Santo Laurensius berusaha menjalankan prinsip tersebut.
Kepemimpinan Kristiani bukan terutama tentang kekuasaan, melainkan tanggung jawab.
Seorang pemimpin dipanggil untuk bertanya bukan hanya, “Apa yang dapat saya peroleh?”, tetapi terutama, “Siapa yang dapat saya layani?”
Santo Laurensius Giustiniani sebagai Pengaku Iman
Dalam tradisi Gereja, gelar Pengaku Iman diberikan kepada orang kudus yang memberikan kesaksian iman yang luar biasa melalui kehidupannya, meskipun tidak wafat sebagai martir.
Santo Laurensius termasuk dalam kelompok ini.
Ia “mengakui” Kristus melalui kehidupannya.
Kesaksian tersebut tampak melalui doa, kesederhanaan, disiplin rohani, pelayanan pastoral, kasih kepada kaum miskin, dan kesetiaan dalam menjalankan tugas sebagai gembala Gereja.
Hal ini mengingatkan kita bahwa kesaksian iman tidak selalu membutuhkan peristiwa dramatis.
Setiap umat Katolik dapat menjadi saksi Kristus melalui kehidupan sehari-hari.
Kejujuran ketika bekerja, kesetiaan dalam keluarga, kesabaran ketika menghadapi kesulitan, pengampunan kepada orang yang menyakiti kita, serta perhatian kepada orang miskin merupakan bentuk nyata kesaksian iman.
Karya Rohani Santo Laurensius Giustiniani
Selain dikenal sebagai gembala Gereja, Santo Laurensius juga meninggalkan sejumlah tulisan rohani.
Tulisan-tulisannya membahas kehidupan doa, perjalanan menuju kesempurnaan Kristiani, kerendahan hati, kasih kepada Allah, dan kehidupan batin.
Baginya, pembaruan Gereja harus dimulai dari pembaruan hati.
Struktur dan aturan memang penting, tetapi kehidupan Gereja tidak akan sungguh diperbarui apabila setiap orang tidak membuka diri terhadap pertobatan.
Pemikiran ini tetap relevan hingga sekarang.
Kita mungkin sering melihat berbagai masalah dalam masyarakat atau bahkan dalam kehidupan Gereja. Namun perubahan sejati selalu mempunyai dimensi pribadi.
Pertanyaan pertama bukan hanya, “Apa yang harus diperbaiki oleh orang lain?”
Kita juga perlu bertanya:
“Apa yang perlu Tuhan ubah dalam diri saya?”
Wafatnya Santo Laurensius Giustiniani
Santo Laurensius Giustiniani wafat pada 8 Januari 1456 di Venesia.
Reputasi kekudusannya terus hidup setelah kematiannya. Umat mengenangnya sebagai gembala yang sederhana, tekun berdoa, dan penuh kasih.
Ia kemudian dibeatifikasi pada tahun 1524 oleh Paus Klemens VII dan dikanonisasi sebagai santo pada tahun 1690 oleh Paus Aleksander VIII.
Dalam sejarah kalender liturgi, peringatannya pernah dikaitkan dengan tanggal 5 September, tanggal tahbisan episkopalnya. Karena itu, dalam berbagai kalender tradisional dan daftar santo, Santo Laurensius Giustiniani diperingati pada 5 September.
Penting dicatat bahwa kalender liturgi dan martirologi dapat mengalami perubahan sepanjang sejarah. Karena itu, tanggal peringatan seorang santo dalam sumber atau kalender tertentu tidak selalu sama dengan tanggal wafatnya.
Teladan Santo Laurensius Giustiniani bagi Umat Katolik
Kisah hidup Santo Laurensius bukan sekadar catatan sejarah Gereja. Kehidupannya menawarkan berbagai pelajaran yang tetap relevan.
1. Utamakan Tuhan di Tengah Kesibukan
Kita hidup dalam dunia yang penuh aktivitas.
Pekerjaan, pendidikan, keluarga, media sosial, hiburan, dan berbagai tanggung jawab dapat memenuhi hampir seluruh waktu kita.
Santo Laurensius mengingatkan bahwa kehidupan rohani tidak boleh menjadi sisa dari kehidupan kita.
Tuhan harus menjadi pusat.
Kita dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana: doa pagi, membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi dengan setia, pemeriksaan batin pada malam hari, dan menyediakan waktu untuk keheningan.
2. Belajar Hidup Sederhana
Kehidupan modern terus mendorong manusia untuk memiliki lebih banyak.
Lebih banyak barang.
Lebih banyak pengakuan.
Lebih banyak perhatian.
Lebih banyak pencapaian.
Santo Laurensius mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada banyaknya hal yang kita miliki.
Kesederhanaan memberi ruang bagi kebebasan hati.
Kita dapat belajar bertanya sebelum mengejar sesuatu: “Apakah saya sungguh membutuhkan ini, atau saya hanya ingin terlihat lebih berhasil di mata orang lain?”
3. Melayani Tanpa Mencari Pujian
Santo Laurensius mencapai kedudukan tinggi dalam Gereja, tetapi ia berusaha mempertahankan semangat pelayanan.
Ini menjadi tantangan bagi kita.
Kita mungkin melakukan banyak hal baik, tetapi terkadang diam-diam mengharapkan penghargaan.
Ketika pujian tidak datang, kita kecewa.
Kristus mengundang kita menuju kasih yang lebih murni: melakukan kebaikan karena memang baik dan karena kita mengasihi Tuhan serta sesama.
4. Peduli kepada Orang yang Membutuhkan
Iman Katolik tidak berhenti di dalam gereja.
Ekaristi yang kita rayakan harus mendorong kita untuk melihat Kristus dalam diri mereka yang miskin, kesepian, sakit, tersingkir, atau membutuhkan bantuan.
Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar.
Namun setiap orang dapat melakukan sesuatu.
Kita dapat berbagi makanan, mengunjungi orang sakit, mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi masalah, membantu keluarga yang kesulitan, atau memberikan waktu dan tenaga dalam pelayanan.
5. Mulailah Pembaruan dari Diri Sendiri
Kita mudah melihat kekurangan orang lain.
Kita dapat mengkritik keluarga, masyarakat, pemerintah, komunitas, bahkan Gereja.
Kadang kritik memang diperlukan. Namun kehidupan para kudus menunjukkan bahwa pembaruan yang mendalam selalu dimulai dari pertobatan pribadi.
Sebelum menuntut dunia menjadi lebih baik, kita perlu mengizinkan Tuhan menjadikan hati kita lebih baik.
Renungan Santo Santa 5 September
Kehidupan Santo Laurensius Giustiniani, Uskup dan Pengaku Iman, mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan sederhana:
Apa yang sebenarnya paling kita cari dalam kehidupan?
Manusia sering mencari keamanan melalui kekayaan, penghargaan melalui kedudukan, dan kebahagiaan melalui kenyamanan.
Semua itu tidak selalu buruk.
Namun semuanya menjadi berbahaya apabila mengambil tempat Tuhan dalam hati kita.
Laurensius mempunyai kesempatan memperoleh kehormatan duniawi. Ia berasal dari keluarga terpandang dan kemudian bahkan memperoleh kedudukan tinggi dalam Gereja.
Tetapi yang membuatnya menjadi santo bukanlah gelar Patriark.
Yang membuat hidupnya berbuah adalah kesediaannya untuk membiarkan Kristus membentuk dirinya.
Kekudusan dimulai dari hati yang berkata:
“Tuhan, jadilah pusat hidupku.”
Mungkin kita tidak dipanggil menjadi uskup, imam, atau religius.
Namun kita semua dipanggil menjadi kudus.
Seorang ayah dapat menjadi kudus melalui kesetiaannya kepada keluarga.
Seorang ibu dapat menjadi kudus melalui kasih dan pengorbanannya.
Seorang pekerja dapat menjadi kudus melalui kejujuran.
Seorang pelajar dapat menjadi kudus melalui ketekunan dan integritas.
Orang sakit dapat menjadi saksi iman melalui pengharapan kepada Tuhan.
Kekudusan tumbuh ketika tindakan-tindakan sederhana dilakukan dengan kasih yang besar.
Teladan Santo Laurensius juga mengingatkan kita bahwa doa dan pelayanan tidak boleh dipisahkan.
Doa tanpa kasih kepada sesama dapat menjadi kesalehan yang tertutup.
Sebaliknya, pelayanan tanpa kehidupan doa dapat kehilangan sumber kekuatannya.
Dalam kehidupan Kristiani, keduanya bertemu dalam Kristus.
Kita datang kepada Kristus dalam doa dan Ekaristi, lalu kita diutus untuk membawa kasih-Nya kepada dunia.
Pesan Rohani Santo Laurensius Giustiniani
Dari kehidupan Santo Laurensius, kita dapat merangkum sebuah pesan penting:
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar pula kerinduannya untuk melayani sesama.
Kekudusan bukan membuat seseorang menjauh dari penderitaan dunia.
Kekudusan justru membuat hati semakin peka.
Orang yang sungguh mencintai Kristus akan semakin mampu melihat wajah Kristus dalam diri sesamanya.
Karena itu, peringatan Santo Santa 5 September dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbarui kehidupan rohani.
Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya menyediakan waktu bagi Tuhan setiap hari?
Apakah saya terlalu melekat pada harta atau penghargaan manusia?
Apakah saya menggunakan tanggung jawab untuk melayani atau justru untuk mencari kehormatan?
Apakah saya cukup peka terhadap orang yang membutuhkan bantuan?
Dan yang terpenting:
Apakah Kristus sungguh menjadi pusat hidup saya?
Doa Memohon Teladan Santo Laurensius Giustiniani
Ya Allah, Bapa yang Mahabaik,
Engkau memanggil umat-Mu untuk bertumbuh dalam kekudusan dan mengikuti Putra-Mu, Yesus Kristus.
Kami bersyukur atas teladan Santo Laurensius Giustiniani, yang berusaha mencari Engkau dalam doa, hidup sederhana, dan melayani umat-Mu dengan rendah hati.
Melalui teladan hidupnya dan dengan memohon dukungan doanya, bantulah kami agar semakin setia kepada panggilan-Mu.
Ajarlah kami untuk tidak melekat pada kehormatan duniawi, tetapi mencari harta yang kekal di dalam Engkau.
Berilah kami hati yang peka terhadap mereka yang miskin, menderita, kesepian, dan membutuhkan pertolongan.
Bimbinglah para uskup, imam, diakon, kaum religius, dan seluruh umat beriman agar senantiasa menjalankan panggilan mereka dalam semangat pelayanan.
Semoga kami belajar menggunakan setiap talenta dan tanggung jawab bukan untuk meninggikan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan nama-Mu dan membawa kebaikan bagi sesama.
Santo Laurensius Giustiniani,
doakanlah kami agar semakin setia mengikuti Kristus.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Penutup
Santo Laurensius Giustiniani menunjukkan bahwa kehidupan yang sungguh besar di mata Tuhan tidak ditentukan oleh kekayaan, status, atau penghormatan manusia.
Ia lahir dalam keluarga bangsawan, tetapi memilih kesederhanaan.
Ia memperoleh kedudukan tinggi sebagai uskup dan Patriark Venesia, tetapi berusaha menjadi pelayan.
Ia mempunyai tanggung jawab besar, tetapi tetap menjadikan doa sebagai dasar kehidupannya.
Sebagai Uskup dan Pengaku Iman, Santo Laurensius menjadi saksi bahwa kekudusan dapat tumbuh melalui kesetiaan sehari-hari kepada Kristus.
Pada peringatan Santo Santa 5 September, semoga teladannya membantu kita untuk kembali melihat prioritas kehidupan.
Di tengah kesibukan dunia, mari menyediakan ruang bagi Tuhan.
Di tengah budaya yang mengejar kehormatan, mari belajar rendah hati.
Di tengah kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, mari belajar melayani.
Dan di tengah berbagai tantangan kehidupan, mari tetap percaya bahwa jalan menuju kekudusan terbuka bagi siapa saja yang dengan tulus menyerahkan dirinya kepada Allah.
Santo Laurensius Giustiniani, Uskup dan Pengaku Iman, doakanlah kami.
Demikianlah Santo Laurensius Giustiniani, Uskup – 5 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
