Santo Laurensius Ruiz, Martir | 28 September
Santo Laurensius Ruiz, Martir: Santo Santa 28 September
Setiap tanggal 28 September, umat Katolik mengenang Santo Laurensius Ruiz, seorang awam, suami, ayah, dan martir asal Filipina yang menyerahkan hidupnya demi mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Kesaksiannya menjadi bukti bahwa panggilan menuju kekudusan tidak hanya diperuntukkan bagi imam, biarawan, atau biarawati. Seorang suami, ayah, pekerja, dan umat awam pun dapat mencapai kekudusan melalui kesetiaan kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Santo Laurensius Ruiz atau San Lorenzo Ruiz memiliki tempat istimewa dalam sejarah Gereja Katolik di Asia. Ia dikenal sebagai santo pertama dari Filipina dan termasuk dalam kelompok para martir yang wafat karena iman di Jepang pada abad ke-17.
Kisah hidup Santo Laurensius Ruiz memperlihatkan perjalanan yang tidak biasa. Ia tidak sejak awal berangkat menuju Jepang dengan rencana menjadi martir. Ia adalah seorang awam yang memiliki keluarga dan menjalani kehidupan sebagaimana umat biasa. Namun keadaan membawanya meninggalkan tanah kelahirannya dan akhirnya berhadapan dengan penganiayaan berat terhadap orang-orang Kristen.
Di tengah penyiksaan dan ancaman kematian, Laurensius memilih tetap setia kepada Kristus. Kesetiaannya menjadikan dirinya teladan keberanian iman bagi umat Katolik, khususnya umat awam dan keluarga Kristiani.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santo Laurensius Ruiz?
Santo Laurensius Ruiz lahir sekitar tahun 1600 di Binondo, Manila, Filipina. Pada masa itu Filipina berada di bawah pemerintahan kolonial Spanyol dan kehidupan Gereja Katolik berkembang melalui karya para misionaris.
Laurensius berasal dari keluarga Kristiani. Ayahnya disebut sebagai seorang Tionghoa, sedangkan ibunya berasal dari Filipina. Dari keluarganya, ia memperoleh pendidikan iman Katolik sejak kecil.
Ia memiliki hubungan erat dengan para Dominikan di Binondo. Sebagai seorang anak dan pemuda, Laurensius melayani Gereja dan memperoleh pendidikan yang membantunya menguasai keterampilan membaca dan menulis.
Laurensius kemudian bekerja sebagai juru tulis atau kaligrafer dan aktif membantu kehidupan gerejawi.
Hal yang sangat penting dari kehidupan Santo Laurensius Ruiz adalah statusnya sebagai seorang awam yang menikah. Ia memiliki istri dan anak-anak. Dengan demikian, kekudusan Laurensius bertumbuh bukan di dalam biara, melainkan dalam kehidupan keluarga dan pekerjaannya sehari-hari.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Kehidupan sebagai Suami dan Ayah Katolik
Kehidupan Santo Laurensius Ruiz memberikan pesan kuat mengenai panggilan kekudusan bagi keluarga Katolik.
Ia bukan tokoh yang meninggalkan dunia sejak usia muda untuk menjalani kehidupan pertapaan. Ia menjalani tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah. Ia bekerja dan berpartisipasi dalam kehidupan komunitas Gereja.
Kenyataan ini membuat teladannya terasa dekat dengan kehidupan banyak umat.
Kesucian dalam Gereja tidak berarti bahwa seseorang harus melakukan sesuatu yang selalu luar biasa. Kekudusan pertama-tama bertumbuh melalui kesetiaan kepada Allah dalam panggilan yang diterima seseorang.
Seorang ayah dapat mengejar kekudusan dengan mencintai keluarganya. Seorang ibu dapat mengejar kekudusan melalui kesetiaan kepada Tuhan dan keluarganya. Seorang pekerja dapat menguduskan pekerjaannya melalui kejujuran dan tanggung jawab.
Dalam diri Santo Laurensius Ruiz, kita melihat seorang umat awam yang pada akhirnya memberikan kesaksian iman sampai pada pengorbanan tertinggi.
Baca juga: Santo Wenseslaus, Raja Bohemia dan Martir 28 September
Perjalanan yang Mengubah Hidup Santo Laurensius Ruiz
Hidup Laurensius berubah ketika ia meninggalkan Filipina pada tahun 1636.
Menurut catatan sejarah mengenai kehidupannya, Laurensius menghadapi tuduhan terkait kematian seseorang. Rincian mengenai peristiwa tersebut tidak sepenuhnya jelas dalam sumber-sumber yang sampai kepada kita. Karena itu, kisah ini perlu disampaikan dengan hati-hati tanpa menyatakan hal-hal yang tidak dapat dipastikan secara historis.
Dalam situasi tersebut, Laurensius meninggalkan Manila bersama rombongan misionaris Dominikan.
Di antara mereka terdapat para imam yang bermaksud menjalankan karya misi. Laurensius ikut dalam perjalanan yang pada akhirnya membawa mereka menuju Jepang.
Keputusan tersebut mengubah seluruh perjalanan hidupnya.
Baca juga: Santa Eustakia, Perawan – Santo Santa 28 September
Jepang dan Penganiayaan terhadap Orang Kristen
Pada awal abad ke-17, keadaan umat Kristiani di Jepang sangat berbahaya.
Kekristenan sebelumnya telah berkembang melalui karya para misionaris. Namun pemerintah Jepang kemudian memandang agama Kristen dengan kecurigaan. Larangan dan penganiayaan terhadap umat Kristiani semakin keras.
Para misionaris yang memasuki Jepang menghadapi risiko besar. Demikian pula orang-orang yang diketahui sebagai pengikut Kristus dapat ditangkap, dipenjara, disiksa, bahkan dihukum mati.
Laurensius dan para sahabatnya tiba di Jepang dalam situasi seperti ini.
Mereka akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang.
Bagi Laurensius, keadaan tersebut pasti sangat berat. Ia bukan hanya menghadapi ancaman terhadap dirinya sendiri. Sebagai seorang suami dan ayah, ia juga mempunyai keluarga yang ditinggalkannya di Filipina.
Namun justru dalam keadaan inilah imannya diuji secara paling mendalam.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Senin, 28 September 2026 Lukas 9:46-50
Santo Laurensius Ruiz Menghadapi Penyiksaan
Laurensius dan rekan-rekannya mengalami interogasi dan penyiksaan dengan tujuan memaksa mereka meninggalkan iman Kristiani.
Para penguasa menghendaki mereka menyangkal Kristus.
Bagi orang yang berada dalam keadaan normal, mengaku beriman mungkin terasa mudah. Namun situasi berubah ketika pengakuan iman membawa konsekuensi berupa penderitaan fisik dan kematian.
Di sinilah kemartiran mempunyai makna yang sangat mendalam dalam tradisi Gereja.
Seorang martir bukanlah orang yang mencari kematian. Martir adalah seseorang yang memilih tetap setia kepada Kristus ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan hidupnya sendiri.
Laurensius mengalami ketakutan dan kelemahan manusiawi. Tradisi mengenai kisah kemartirannya tidak menggambarkannya sebagai manusia yang tidak mengenal rasa takut. Justru di tengah pergulatan itu, rahmat Allah memampukannya bertahan.
Kesetiaan Sampai Mati
Salah satu kesaksian yang paling dikenal berkaitan dengan Santo Laurensius Ruiz adalah pernyataan imannya menjelang kematian.
Dalam berbagai versi terjemahan, inti kesaksiannya menyatakan bahwa ia adalah seorang Kristen dan dengan sepenuh hati menerima kematian bagi Allah, serta bahwa seandainya ia mempunyai seribu nyawa, semuanya akan dipersembahkan kepada Tuhan.
Ungkapan tersebut kemudian dikenal luas sebagai gambaran spiritualitas kemartiran Santo Laurensius Ruiz.
Yang terpenting bukanlah menghafalkan setiap kata dari pernyataan tersebut, tetapi memahami keyakinan yang terkandung di dalamnya.
Bagi Laurensius, iman kepada Kristus menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada hidup duniawi.
Kesetiaannya mengingatkan kita pada perkataan Yesus:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Matius 16:24)
Mengikuti Kristus memang tidak selalu berarti mengalami kemartiran secara fisik. Namun setiap murid Kristus dipanggil untuk memilih Tuhan bahkan ketika pilihan tersebut menuntut pengorbanan.
Kemartiran Santo Laurensius Ruiz di Nagasaki
Setelah mengalami berbagai penyiksaan, Laurensius akhirnya menjalani penyiksaan yang dikenal sebagai tsurushi, yakni korban digantung secara terbalik di sebuah lubang.
Metode ini digunakan untuk memberikan penderitaan berkepanjangan sehingga para tahanan diharapkan menyerah dan menyangkal iman mereka.
Laurensius tetap mempertahankan imannya.
Ia wafat sebagai martir di Nagasaki, Jepang, pada tahun 1637.
Kematiannya bukanlah akhir dari kesaksiannya. Sebaliknya, kesetiaannya kemudian dikenang oleh Gereja dan menjadi sumber inspirasi bagi umat Kristiani dari generasi ke generasi.
Ia dikenang bersama para martir lain yang memberikan hidup mereka bagi Kristus dalam penganiayaan di Jepang.
Santo Laurensius Ruiz dan Para Martir Sahabatnya
Peringatan liturgis Santo Laurensius Ruiz berkaitan dengan kelompok yang dikenal sebagai Santo Laurensius Ruiz dan para sahabat martirnya.
Kelompok tersebut terdiri dari para misionaris dan umat beriman yang berasal dari latar belakang berbeda tetapi dipersatukan oleh iman kepada Kristus dan kemartiran di Jepang.
Hal ini memperlihatkan sifat universal Gereja Katolik.
Para martir tersebut berasal dari berbagai bangsa dan latar belakang kehidupan. Ada imam, religius, misionaris, dan umat awam.
Namun semuanya dipersatukan oleh satu iman:
iman kepada Yesus Kristus.
Kesaksian mereka menunjukkan bahwa Gereja benar-benar bersifat katolik, yaitu universal. Kekudusan tidak dibatasi oleh bangsa, bahasa, budaya, maupun status sosial.
Beatifikasi Santo Laurensius Ruiz
Pengakuan resmi Gereja terhadap kemartiran Laurensius mencapai tahap penting ketika Paus Yohanes Paulus II membeatifikasinya bersama para martir lainnya pada 18 Februari 1981 di Manila, Filipina.
Peristiwa tersebut memiliki arti khusus.
Beatifikasi itu berlangsung di tanah kelahiran Laurensius dan merupakan salah satu peristiwa bersejarah bagi Gereja di Filipina.
Bagi umat Katolik Filipina dan Asia, Laurensius semakin dikenal sebagai bukti bahwa tanah Asia pun telah melahirkan orang-orang kudus yang memberikan kesaksian luar biasa bagi Kristus.
Kanonisasi Santo Laurensius Ruiz
Beberapa tahun setelah beatifikasi, Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi Laurensius Ruiz dan para sahabatnya pada 18 Oktober 1987 di Roma.
Sejak saat itu Laurensius secara resmi dihormati sebagai Santo Laurensius Ruiz dalam Gereja Katolik.
Kanonisasi tersebut juga menegaskan kedudukannya sebagai santo pertama dari Filipina.
Bagi Gereja di Filipina, peristiwa ini mempunyai makna yang sangat besar. Namun penghormatan kepada Santo Laurensius Ruiz tidak terbatas pada satu bangsa.
Sebagai seorang santo Gereja Katolik, teladannya menjadi milik seluruh umat beriman.
Pesta Santo Laurensius Ruiz 28 September
Gereja memperingati Santo Laurensius Ruiz dan para sahabat martirnya pada tanggal 28 September.
Karena itu, dalam seri Santo Santa 28 September, Laurensius menjadi salah satu tokoh penting yang dapat direnungkan umat Katolik.
Hari peringatannya merupakan kesempatan untuk mengenang keberanian para martir sekaligus memeriksa kesetiaan kita sendiri kepada Kristus.
Tidak semua umat akan diminta memberikan darah sebagai martir. Namun setiap orang Kristiani menghadapi bentuk-bentuk pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya adalah:
Apakah kita tetap memilih Kristus ketika iman menuntut pengorbanan?
Makna Kemartiran dalam Iman Katolik
Kata “martir” berasal dari kata Yunani martys, yang berarti saksi.
Karena itu, inti kemartiran adalah kesaksian.
Para martir menjadi saksi bahwa Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu yang dapat diberikan dunia.
Santo Laurensius Ruiz tidak dihormati karena penderitaan itu sendiri. Gereja menghormatinya karena ia mempertahankan iman kepada Kristus di tengah penderitaan dan kematian.
Kemartirannya merupakan buah kasih dan kesetiaan kepada Tuhan.
Martir Tidak Mencari Kematian
Dalam memahami kisah Santo Laurensius Ruiz, penting untuk menghindari anggapan bahwa Gereja memuliakan kematian atau penderitaan.
Kekristenan menghargai kehidupan sebagai anugerah Allah.
Para martir tidak mencari kematian demi kematian itu sendiri. Mereka menerima kematian ketika dipaksa memilih antara menyangkal Kristus atau mempertahankan iman.
Karena itu, kemartiran merupakan tindakan kesetiaan.
Mereka memilih Kristus.
Teladan Santo Laurensius Ruiz bagi Umat Katolik
Kisah Santo Laurensius Ruiz, Martir tetap relevan bagi umat Katolik zaman sekarang.
Meskipun sebagian besar umat tidak menghadapi ancaman kematian karena iman, ada banyak keadaan ketika kesetiaan kepada Injil menuntut keberanian.
1. Berani Mengakui Iman
Iman Kristiani tidak hanya untuk disimpan dalam hati.
Kita dipanggil menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatan.
Di lingkungan yang semakin sekuler, seseorang mungkin merasa malu menunjukkan identitasnya sebagai orang Katolik. Ada pula tekanan untuk mengabaikan ajaran iman demi diterima lingkungan.
Santo Laurensius mengingatkan kita agar tidak malu menjadi pengikut Kristus.
2. Setia Ketika Menghadapi Kesulitan
Kesetiaan mudah ketika semuanya berjalan baik.
Namun kualitas iman sering terlihat ketika hidup menjadi sulit.
Masalah keluarga, kesulitan ekonomi, kegagalan, kehilangan, konflik, dan berbagai pencobaan dapat membuat seseorang bertanya di mana Tuhan berada.
Teladan Santo Laurensius Ruiz mengajak kita tetap berpegang pada Kristus sekalipun jalan hidup tidak mudah.
3. Kekudusan bagi Umat Awam
Laurensius adalah contoh yang sangat kuat mengenai panggilan universal menuju kekudusan.
Ia bukan uskup atau imam.
Ia adalah seorang awam.
Ia seorang suami.
Ia seorang ayah.
Ia seorang pekerja.
Kenyataan ini menyampaikan pesan sederhana tetapi mendalam: kehidupan sehari-hari dapat menjadi jalan menuju kekudusan.
Rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, dan paroki dapat menjadi tempat seseorang bertumbuh dalam kasih kepada Allah.
4. Menjadi Teladan bagi Keluarga Katolik
Sebagai seorang ayah, Santo Laurensius Ruiz mempunyai relevansi khusus bagi keluarga Kristiani.
Orang tua mempunyai tanggung jawab bukan hanya memenuhi kebutuhan jasmani anak-anak, tetapi juga membantu mereka mengenal Tuhan.
Doa bersama keluarga, mengikuti Misa, membaca Kitab Suci, mengajarkan pengampunan, dan memberikan teladan kehidupan yang jujur merupakan bentuk pewartaan iman yang sangat nyata.
Warisan iman yang diberikan orang tua kepada anak dapat bertahan jauh lebih lama daripada kekayaan material.
5. Mempercayakan Hidup kepada Tuhan
Perjalanan hidup Laurensius berubah secara dramatis.
Ia meninggalkan Filipina tanpa mengetahui sepenuhnya apa yang akan terjadi. Perjalanannya membawanya menuju Jepang, penjara, penyiksaan, dan akhirnya kemartiran.
Namun dalam semua itu, Tuhan membentuk kesaksiannya.
Kita pun tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.
Iman berarti berani berjalan bersama Tuhan bahkan ketika masa depan belum terlihat jelas.
Refleksi Santo Santa 28 September
Kisah Santo Laurensius Ruiz mengundang kita bertanya:
Seberapa berhargakah iman kepada Kristus bagi kita?
Kita mungkin dengan mudah mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan ketika kehidupan berjalan lancar. Tetapi kesetiaan sejati diuji ketika iman membawa konsekuensi.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk “kemartiran” kita biasanya bukan kematian fisik.
Kita mungkin harus mematikan ego agar dapat mengampuni.
Kita mungkin harus kehilangan keuntungan karena memilih kejujuran.
Kita mungkin harus menolak sesuatu yang populer karena bertentangan dengan iman.
Kita mungkin harus tetap mengasihi seseorang yang sulit dikasihi.
Kita mungkin harus mempertahankan nilai-nilai Injil ketika lingkungan menganggapnya tidak penting.
Semua pilihan kecil tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengatakan kepada Tuhan:
“Engkau lebih utama bagiku.”
Santo Laurensius Ruiz menunjukkan bahwa keberanian besar tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Keberanian dibentuk melalui kebiasaan setia dalam hal-hal kecil.
Karena itu, jangan meremehkan doa sederhana setiap hari, Misa yang kita ikuti dengan setia, pengampunan yang kita berikan, kejujuran dalam pekerjaan, dan kasih yang kita tunjukkan kepada keluarga.
Dari kesetiaan-kesetiaan kecil itulah hati dipersiapkan untuk tetap bersama Kristus ketika pencobaan yang lebih besar datang.
Doa melalui Perantaraan Santo Laurensius Ruiz
Ya Allah Bapa yang Mahakasih,
kami bersyukur kepada-Mu atas teladan iman Santo Laurensius Ruiz, yang Engkau kuatkan untuk tetap setia kepada Kristus hingga menyerahkan hidupnya sebagai martir.
Teguhkanlah iman kami ketika menghadapi kesulitan dan pencobaan. Berilah kami keberanian untuk mengakui Kristus melalui perkataan, pekerjaan, dan seluruh kehidupan kami.
Bimbinglah para suami, istri, orang tua, anak-anak, dan seluruh keluarga Kristiani agar rumah mereka menjadi tempat bertumbuhnya iman, kasih, pengampunan, dan kekudusan.
Semoga melalui teladan dan perantaraan Santo Laurensius Ruiz, kami semakin berani mengikuti Putra-Mu dan tidak pernah malu menjadi murid-Nya.
Santo Laurensius Ruiz,
doakanlah kami.
Santo Laurensius Ruiz dan para martir sahabatmu,
doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus sampai akhir.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Penutup
Santo Laurensius Ruiz, Martir, yang diperingati dalam kalender Santo Santa 28 September, merupakan salah satu kesaksian iman paling penting dari Gereja Katolik di Asia.
Dari seorang awam sederhana di Manila, seorang suami, ayah, dan pekerja, ia akhirnya menjadi martir yang dikenal oleh umat Katolik di seluruh dunia.
Kisahnya membuktikan bahwa kekudusan dapat tumbuh dalam kehidupan yang tampaknya biasa.
Santo Laurensius tidak memulai hidupnya dengan mengetahui bahwa suatu hari ia akan menjadi martir. Namun ketika tiba saatnya memilih, ia memilih untuk tetap bersama Kristus.
Itulah warisan rohaninya bagi kita.
Kita mungkin tidak pernah menghadapi pilihan antara menyangkal iman atau kehilangan nyawa. Namun setiap hari kita menghadapi berbagai pilihan kecil antara kehendak Tuhan dan kepentingan diri sendiri.
Semoga peringatan Santo Laurensius Ruiz pada 28 September membantu kita memperbarui keberanian untuk berkata kepada Tuhan melalui seluruh kehidupan:
“Tuhan, aku memilih tetap setia kepada-Mu.”
Demikianlah Santo Laurensius Ruiz, Martir | 28 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
