Santa Eustakia, Perawan – Santo Santa 28 September
Santa Eustakia, Perawan – Santo Santa 28 September
Setiap tanggal 28 September, kita mengenang salah satu perempuan kudus dari masa awal Gereja yang memilih meninggalkan kemewahan dunia demi mempersembahkan hidup sepenuhnya kepada Kristus. Ia adalah Santa Eustakia, yang juga dikenal sebagai Santa Eustochium Julia, seorang perawan kudus yang hidup pada abad keempat dan awal abad kelima.
Santa Eustakia berasal dari keluarga bangsawan Romawi. Kehidupan yang terbentang di hadapannya sebenarnya menawarkan kehormatan, kekayaan, kenyamanan, dan kedudukan sosial. Namun, ia justru memilih jalan yang sangat berbeda. Ia mempersembahkan keperawanannya kepada Tuhan dan menjalani kehidupan doa, askese, pelayanan, serta pendalaman Kitab Suci.
Perjalanan rohaninya tidak dapat dilepaskan dari dua tokoh penting dalam kehidupan Gereja pada zamannya: ibunya, Santa Paula, dan pembimbing rohaninya, Santo Hieronimus. Bersama mereka, Eustakia meninggalkan Roma dan akhirnya menetap di Betlehem. Di kota kelahiran Sang Juruselamat itulah ia menjalani sebagian besar kehidupan baktinya.
Kisah Santa Eustakia, Perawan, mengingatkan umat Katolik bahwa kekudusan tidak ditentukan oleh kedudukan, kekayaan, atau popularitas. Kekudusan lahir ketika seseorang berani menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan dan setia kepada panggilan-Nya sampai akhir.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santa Eustakia?
Santa Eustakia atau Eustochium Julia lahir di Roma sekitar tahun 368. Ia merupakan putri dari Toxotius, seorang senator Romawi, dan Santa Paula, perempuan bangsawan yang kemudian meninggalkan kemewahan hidupnya untuk menjalani kehidupan asketis dan membaktikan dirinya kepada Tuhan.
Eustakia adalah salah satu dari beberapa anak dalam keluarga tersebut. Lingkungan keluarganya memberikan kepadanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan menikmati kehidupan kalangan elite Romawi. Akan tetapi, rahmat Tuhan perlahan mengarahkan hatinya kepada kekayaan yang berbeda: kekayaan rohani yang ditemukan dalam Kristus.
Setelah ayahnya meninggal sekitar tahun 380, Santa Paula dan Eustakia mulai menjalani kehidupan yang semakin sederhana dan asketis. Kehidupan mereka dipenuhi doa, pengendalian diri, pelayanan, serta pencarian akan kehendak Allah.
Pada masa itulah Eustakia semakin menyadari panggilannya. Ia tidak memilih kehidupan yang diharapkan masyarakat bangsawan Roma, melainkan memutuskan mempersembahkan dirinya kepada Kristus dalam keperawanan.
Keputusan tersebut bukan sekadar penolakan terhadap perkawinan. Dalam spiritualitas Kristen, keperawanan yang dipersembahkan kepada Allah merupakan tanda penyerahan diri secara utuh kepada Kristus dan Kerajaan Allah.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Santa Eustakia dan Santo Hieronimus
Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan rohani Santa Eustakia terjadi ketika Santo Hieronimus berada di Roma pada abad keempat.
Hieronimus dikenal sebagai salah satu cendekiawan besar Gereja. Ia memiliki kecintaan mendalam terhadap Kitab Suci dan kemudian sangat terkenal karena karya penerjemahan serta penafsirannya terhadap Alkitab.
Santa Paula dan Eustakia menempatkan diri di bawah bimbingan rohani Hieronimus. Pertemuan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan mereka.
Bagi Eustakia, kehidupan rohani tidak hanya berarti berdoa atau melakukan praktik asketis. Ia juga belajar mencintai Firman Tuhan secara serius. Pendalaman Kitab Suci menjadi bagian penting dari panggilannya.
Hubungan antara Hieronimus dan Eustakia juga memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam perkembangan kehidupan intelektual dan spiritual Gereja pada masa awal Kekristenan.
Baca juga: Santo Hieronimus, Pujangga Gereja – 30 September
Kaul Keperawanan Santa Eustakia
Sekitar tahun 384, Santa Eustakia mengikrarkan tekad untuk menjalani keperawanan seumur hidup bagi Kristus.
Keputusan ini sangat penting, terlebih mengingat latar belakangnya sebagai perempuan dari keluarga bangsawan Roma. Dalam lingkungan sosial pada masa itu, perempuan bangsawan umumnya diharapkan menikah untuk memperkuat hubungan keluarga dan mempertahankan kedudukan sosial.
Eustakia memilih jalan berbeda.
Ia ingin menjadi milik Kristus sepenuhnya.
Santo Hieronimus kemudian menulis sebuah surat terkenal kepadanya mengenai kehidupan keperawanan dan bagaimana menjaga hati serta kehidupan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan.
Pilihan Santa Eustakia menunjukkan bahwa panggilan hidup bakti menuntut kebebasan batin. Ia tidak membiarkan kekayaan, tekanan sosial, maupun harapan keluarga menjadi penghalang untuk menjawab panggilan Allah.
Baca juga: Santo Laurensius Ruiz, Martir | 28 September
Meninggalkan Roma Demi Mengikuti Kristus
Perjalanan iman Santa Eustakia kemudian membawanya jauh dari Roma.
Ketika Santo Hieronimus meninggalkan Roma dan kembali ke Timur, Santa Paula dan Eustakia kemudian mengikuti perjalanan menuju Tanah Suci. Mereka meninggalkan lingkungan yang selama ini memberikan keamanan dan kenyamanan.
Keputusan tersebut mengandung pengorbanan besar.
Roma adalah pusat kehidupan sosial dan politik dunia pada waktu itu. Bagi keluarga bangsawan, meninggalkan Roma berarti meninggalkan jaringan sosial, kenyamanan, kekayaan, serta berbagai keistimewaan.
Namun bagi Santa Eustakia, Kristus lebih berharga daripada semuanya.
Ia menunjukkan dengan kehidupannya bahwa mengikuti Tuhan terkadang berarti berani meninggalkan sesuatu yang baik demi sesuatu yang lebih besar.
Baca juga: Santo Mikael, Gabriel dan Rafael Malaikat Agung
Perjalanan ke Mesir dan Tradisi Monastik
Sekitar tahun 386, Santa Paula dan Eustakia melakukan perjalanan bersama Santo Hieronimus ke Mesir.
Di sana mereka mengunjungi komunitas para pertapa dan rahib yang hidup di daerah gurun, termasuk tradisi monastik yang berkembang di sekitar Gurun Nitria.
Kehidupan para rahib gurun memberikan kesan mendalam kepada mereka.
Para rahib tersebut menjalani kehidupan yang sederhana, penuh doa, kerja, puasa, keheningan, dan penyangkalan diri. Tujuan semua latihan itu bukanlah penderitaan demi penderitaan, melainkan membebaskan hati agar semakin terarah kepada Allah.
Pengalaman tersebut kemudian turut memengaruhi bentuk kehidupan religius yang dijalani Santa Paula dan Santa Eustakia di Betlehem.
Baca juga: Doa untuk Sakit Jiwa/ Mental : Santa Eustochia
Kehidupan Santa Eustakia di Betlehem
Setelah perjalanan mereka, Santa Paula dan Santa Eustakia akhirnya menetap di Betlehem, kota tempat Yesus Kristus dilahirkan.
Pilihan Betlehem memiliki makna spiritual yang sangat mendalam.
Di tempat Sang Sabda menjadi manusia dan lahir dalam kesederhanaan, Eustakia belajar menjalani hidup yang sederhana bagi Kristus.
Santa Paula dan Eustakia kemudian terlibat dalam pembangunan komunitas monastik serta tempat untuk menerima para peziarah. Komunitas perempuan berkembang di sana, sementara Santo Hieronimus memimpin komunitas laki-laki di dekatnya.
Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi doa, mazmur, pekerjaan, pelayanan, dan pendalaman Kitab Suci.
Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Eustakia tidak menjadikan status sosial sebagai alasan untuk memperoleh perlakuan khusus. Kehidupan monastik mengajarkannya kerendahan hati dan pelayanan.
Di sinilah kita melihat perubahan besar dalam kehidupannya.
Seorang putri bangsawan Roma menjadi seorang hamba Kristus yang menjalani kehidupan sederhana di Betlehem.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Senin, 28 September 2026 Lukas 9:46-50
Santa Eustakia dan Kecintaannya pada Kitab Suci
Salah satu sisi paling menarik dari kehidupan Santa Eustakia adalah kecintaannya terhadap Kitab Suci.
Ia bukan hanya seorang perempuan yang tekun berdoa. Ia juga dikenal sebagai perempuan terpelajar yang mendalami bahasa-bahasa yang digunakan dalam studi Kitab Suci.
Tradisi sejarah menyebutkan bahwa Eustakia mampu menggunakan bahasa Latin dan Yunani serta mempelajari bahasa Ibrani. Pengetahuan tersebut membuatnya mampu terlibat secara serius dalam lingkungan studi Kitab Suci yang berkembang di sekitar Santo Hieronimus.
Sejumlah karya tafsir Hieronimus bahkan dikaitkan dengan dorongan dan dukungan dari Eustakia. Beberapa komentarnya mengenai kitab para nabi dipersembahkan kepadanya.
Hal ini memberikan pesan penting bagi umat Katolik masa kini.
Iman dan Pengetahuan Tidak Bertentangan
Kehidupan Santa Eustakia memperlihatkan bahwa iman yang mendalam dapat berjalan bersama kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Seorang beriman tidak dipanggil untuk takut menggunakan akal budinya. Sebaliknya, akal budi merupakan anugerah Tuhan yang dapat membantu manusia semakin memahami kebenaran.
Membaca Kitab Suci, mempelajari ajaran Gereja, memahami sejarah Kekristenan, dan memperdalam teologi dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kekudusan.
Santa Eustakia tidak belajar sekadar agar dianggap pintar.
Ia belajar agar semakin mengenal Tuhan.
Inilah perbedaan penting antara pengetahuan yang hanya memenuhi pikiran dan pengetahuan yang mengubah kehidupan.
Melanjutkan Karya Santa Paula
Pada tahun 404, Santa Paula meninggal dunia.
Kepergian ibunya menjadi pukulan berat bagi Eustakia. Paula bukan hanya ibunya secara biologis, tetapi juga sahabat perjalanan rohani yang selama bertahun-tahun bersama-sama meninggalkan Roma, berziarah, menjalani kehidupan asketis, dan membangun komunitas di Betlehem.
Setelah kematian Santa Paula, tanggung jawab besar jatuh kepada Eustakia.
Ia melanjutkan kepemimpinan komunitas perempuan yang telah dibangun bersama ibunya.
Tugas tersebut bukan sesuatu yang mudah.
Kondisi keuangan komunitas tidak selalu baik karena kemurahan hati Santa Paula yang luar biasa terhadap orang miskin. Eustakia harus menjaga keberlangsungan kehidupan komunitas sambil tetap mempertahankan semangat doa, kemiskinan, dan pelayanan.
Di sinilah kesetiaan Eustakia terlihat semakin matang.
Kekudusan bukan hanya tampak ketika seseorang berdoa dalam keheningan. Kekudusan juga diuji ketika seseorang harus menerima tanggung jawab, menghadapi persoalan praktis, dan tetap melayani ketika keadaan menjadi sulit.
Cobaan yang Menimpa Komunitas Betlehem
Kehidupan di Betlehem tidak selalu berlangsung damai.
Pada sekitar tahun 417, komunitas monastik di Betlehem mengalami serangan yang serius. Bangunan-bangunan diserang dan salah satu bagian kompleks dilaporkan dibakar. Beberapa penghuni komunitas juga mengalami kekerasan.
Peristiwa ini berkaitan dengan ketegangan keagamaan pada masa itu, khususnya kontroversi yang melibatkan kaum Pelagian dan lawan-lawan teologis mereka.
Dalam situasi tersebut, Eustakia tetap bertahan.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan tidak berarti terbebas dari penderitaan.
Sebaliknya, iman sering kali justru diuji melalui penderitaan.
Santa Eustakia memberikan teladan tentang ketekunan: tetap berpegang kepada Kristus ketika keadaan tidak lagi nyaman dan aman.
Wafatnya Santa Eustakia
Santa Eustakia wafat di Betlehem pada 28 September, sekitar tahun 419 atau 420.
Ia mengakhiri hidupnya di tempat yang selama bertahun-tahun menjadi rumah rohaninya.
Dari Roma menuju Betlehem, dari kehidupan bangsawan menuju kehidupan sederhana, dari kenyamanan dunia menuju penyerahan diri kepada Kristus—seluruh perjalanan hidup Eustakia merupakan kisah tentang seseorang yang terus belajar memilih Tuhan.
Setelah wafatnya, kepemimpinan komunitas kemudian diteruskan oleh kerabatnya, Paula Muda.
Gereja mengenang Santa Eustakia pada tanggal 28 September.
Keutamaan Santa Eustakia yang Dapat Kita Teladani
Kehidupan seorang kudus bukan sekadar cerita masa lalu. Para kudus diberikan kepada Gereja sebagai saksi bahwa Injil sungguh dapat dihidupi.
Ada beberapa keutamaan Santa Eustakia yang tetap relevan bagi umat Katolik masa kini.
1. Menempatkan Kristus di Atas Segalanya
Eustakia memiliki banyak hal yang dianggap berharga oleh dunia: keluarga terpandang, kekayaan, pendidikan, dan kesempatan memperoleh kedudukan sosial.
Namun ia menyadari bahwa semua itu tidak dapat menggantikan Kristus.
Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan kepada diri sendiri:
Apakah Kristus sungguh menjadi pusat kehidupan kita?
Kita tidak selalu dipanggil meninggalkan rumah atau pekerjaan. Namun setiap orang dipanggil untuk memastikan bahwa pekerjaan, uang, popularitas, dan kenyamanan tidak mengambil tempat Tuhan dalam hati.
2. Mencintai Kitab Suci
Santa Eustakia menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap Firman Tuhan.
Teladannya mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk kembali menjadikan Kitab Suci sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak harus dimulai dengan membaca banyak bab sekaligus.
Kita dapat memulainya dengan membaca Injil setiap hari, merenungkan beberapa ayat, kemudian bertanya:
Apa yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku melalui Firman ini?
Firman Tuhan bukan sekadar teks kuno. Melalui Kitab Suci, Tuhan terus berbicara kepada umat-Nya.
3. Kesetiaan pada Panggilan
Eustakia memilih mempersembahkan hidupnya kepada Kristus dan tetap setia terhadap pilihannya.
Dunia berubah, keadaan berubah, bahkan orang-orang terdekatnya meninggal. Namun panggilannya tetap dijalani.
Kesetiaan semacam ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan Kristiani.
Suami dan istri dipanggil setia pada janji perkawinan. Imam dan kaum religius dipanggil setia pada panggilan mereka. Orang tua dipanggil setia mendidik anak dalam iman. Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil setia menjadi murid Kristus.
4. Kerendahan Hati dalam Pelayanan
Eustakia berasal dari keluarga bangsawan, tetapi kehidupan monastik membawanya kepada kesederhanaan.
Ia tidak membangun identitas berdasarkan status keluarganya.
Ia ingin dikenal sebagai milik Kristus.
Kita pun dapat bertanya: apakah kita melayani supaya dipuji, atau karena mencintai Tuhan?
Pelayanan Kristiani yang sejati tidak selalu terlihat oleh banyak orang.
Sering kali pelayanan terbesar terjadi dalam hal sederhana: merawat anggota keluarga yang sakit, mengampuni orang yang menyakiti kita, membantu mereka yang membutuhkan, mendengarkan orang yang sedang menderita, atau mengerjakan tugas sehari-hari dengan penuh kasih.
5. Bertahan dalam Penderitaan
Santa Eustakia mengalami kehilangan orang-orang yang dicintainya, kesulitan dalam memimpin komunitas, masalah ekonomi, dan bahkan kekerasan terhadap komunitasnya.
Namun ia tetap bertahan.
Kesetiaan ketika semuanya berjalan lancar relatif mudah.
Kesetiaan menjadi nyata ketika kita tetap percaya kepada Tuhan saat doa seolah belum dijawab, ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana, atau ketika kita harus memikul salib yang tidak kita pilih.
Makna Keperawanan Santa Eustakia
Gelar Perawan yang diberikan kepada Santa Eustakia memiliki makna rohani yang lebih dalam daripada sekadar keadaan tidak menikah.
Dalam tradisi Gereja, keperawanan yang dipersembahkan kepada Allah merupakan tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus.
Melalui kehidupan seperti ini, Gereja mengingat bahwa tujuan akhir manusia bukanlah kekayaan, karier, kedudukan, bahkan hubungan duniawi, melainkan persatuan kekal dengan Allah.
Panggilan tersebut tentu tidak diberikan kepada semua orang dalam bentuk yang sama.
Ada yang dipanggil kepada perkawinan, ada yang kepada imamat, ada yang kepada kehidupan religius, dan ada pula yang menjalani bentuk kehidupan bakti lainnya.
Namun prinsip yang diperlihatkan Santa Eustakia berlaku bagi semua orang:
Allah harus mendapat tempat pertama dalam kehidupan.
Renungan Santo Santa 28 September: Apa yang Paling Berharga?
Kehidupan modern sering mengukur keberhasilan melalui apa yang terlihat.
Berapa banyak harta yang dimiliki?
Seberapa tinggi jabatan seseorang?
Seberapa terkenal namanya?
Seberapa besar pengaruhnya?
Santa Eustakia mengajukan ukuran yang berbeda.
Ia sebenarnya memiliki kesempatan memperoleh banyak hal yang dicari dunia. Namun ia memilih Betlehem.
Ia memilih kehidupan sederhana.
Ia memilih Kitab Suci.
Ia memilih doa.
Ia memilih pelayanan.
Ia memilih Kristus.
Pilihan tersebut mungkin tampak seperti kehilangan menurut ukuran dunia, tetapi justru di situlah Eustakia menemukan kekayaan sejati.
Yesus berkata:
“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Sabda ini menjadi pertanyaan yang sangat konkret bagi kita.
Di manakah harta hati kita berada?
Jika sebagian besar pikiran kita hanya dipenuhi uang, kedudukan, pujian, popularitas, atau kenyamanan, mungkin kita perlu kembali menata prioritas hidup.
Tuhan tidak selalu meminta kita meninggalkan segala sesuatu secara harfiah seperti Santa Eustakia.
Namun Tuhan meminta kita memiliki hati yang bebas.
Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki hati kita.
Kita boleh memiliki pekerjaan dan cita-cita, tetapi jangan sampai ambisi membuat kita melupakan Tuhan.
Kita boleh menikmati teknologi dan berbagai kenyamanan, tetapi jangan sampai semuanya membuat kita kehilangan waktu untuk berdoa.
Santa Eustakia mengingatkan kita bahwa kehidupan yang berhasil bukan terutama kehidupan yang memiliki banyak hal.
Kehidupan yang berhasil adalah kehidupan yang akhirnya membawa kita kepada Allah.
Santa Eustakia dan Panggilan Kekudusan Masa Kini
Kita hidup sekitar enam belas abad setelah Santa Eustakia.
Dunia yang kita hadapi tentu sangat berbeda dari Roma dan Betlehem pada abad keempat.
Namun pergumulan hati manusia ternyata tidak terlalu berbeda.
Manusia tetap berhadapan dengan godaan mengejar kekayaan secara berlebihan, mencari pengakuan, membandingkan diri dengan orang lain, atau menjadikan kenyamanan sebagai tujuan utama kehidupan.
Karena itu, teladan Santa Eustakia tetap aktual.
Kita dapat meneladaninya dengan menyediakan waktu membaca Kitab Suci setiap hari, menjaga kemurnian hati, hidup sederhana, setia pada panggilan masing-masing, membantu orang miskin, serta menjadikan doa sebagai bagian penting kehidupan.
Tidak semua orang harus pergi ke Betlehem.
Tetapi setiap orang dapat membangun “Betlehem” di dalam hatinya—tempat sederhana di mana Kristus diterima dan diberi ruang untuk tinggal.
Doa Memohon Rahmat melalui Teladan Santa Eustakia
Allah Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur kepada-Mu atas teladan hidup Santa Eustakia, perawan yang mempersembahkan hidupnya kepada Kristus dengan penuh iman dan kesetiaan.
Engkau telah menanamkan dalam hatinya kerinduan akan kehidupan yang kudus, kecintaan kepada Kitab Suci, kerendahan hati dalam pelayanan, dan keberanian untuk meninggalkan kemewahan dunia demi mengikuti Putra-Mu.
Melalui teladan dan perantaraan Santa Eustakia, bantulah kami agar semakin mencintai Sabda-Mu dan berani menempatkan Engkau di atas segala sesuatu.
Berikanlah kepada kami hati yang murni, iman yang teguh, serta kesetiaan untuk menjalani panggilan hidup kami masing-masing.
Ketika kami menghadapi kesulitan, kuatkanlah kami agar tidak meninggalkan-Mu.
Ketika kami tergoda oleh kemewahan dan pujian dunia, ingatkanlah kami bahwa harta terbesar kami adalah kehidupan bersama-Mu.
Semoga seperti Santa Eustakia, kami menggunakan seluruh hidup kami untuk mencari, mengenal, mencintai, dan melayani Engkau.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Santa Eustakia, doakanlah kami.
Penutup
Peringatan Santo Santa 28 September mengajak kita mengenal Santa Eustakia, Perawan, seorang perempuan bangsawan Roma yang memilih meninggalkan kemewahan dunia untuk mengikuti Kristus.
Perjalanan hidupnya dari Roma menuju Betlehem menunjukkan bahwa kekudusan adalah perjalanan untuk terus melepaskan apa yang menghalangi kita mencintai Allah dengan segenap hati.
Santa Eustakia meninggalkan warisan yang indah bagi Gereja: kecintaan kepada Kitab Suci, kesetiaan pada panggilan, keberanian menjalani kehidupan sederhana, ketekunan dalam penderitaan, dan penyerahan diri kepada Kristus.
Kita mungkin tidak dipanggil menjalani kehidupan yang sama dengannya. Namun kita semua dipanggil menuju tujuan yang sama: kekudusan dan persatuan dengan Allah.
Semoga melalui peringatan Santa Eustakia setiap tanggal 28 September, kita semakin terdorong untuk membaca Firman Tuhan, memperdalam iman, hidup dalam kesederhanaan, dan dengan setia menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah Santa Eustakia, Perawan – Santo Santa 28 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
