Gereja yang Katolik: Arti dan Maknanya
Gereja yang Katolik: Makna, Dasar Iman, dan Panggilan Universal Gereja
Dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel, umat Katolik mengakui: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Empat sifat ini bukan sekadar sebutan yang dilekatkan kepada Gereja, melainkan mengungkapkan identitas dan perutusannya. Salah satu sifat tersebut adalah katolik. Ketika mengatakan bahwa Gereja adalah Gereja yang Katolik, umat beriman mengakui bahwa Gereja memiliki sifat universal: terbuka bagi semua bangsa, membawa kepenuhan sarana keselamatan yang dipercayakan Kristus, dan diutus untuk mewartakan Injil sampai ke seluruh dunia.
Kata “katolik” sering kali dipahami hanya sebagai nama suatu denominasi atau identitas keagamaan. Padahal maknanya jauh lebih dalam. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani katholikos, yang berarti “menyeluruh”, “universal”, atau “menurut keseluruhan”. Karena itu, kekatolikan Gereja berhubungan erat dengan kepenuhan iman dalam Kristus sekaligus universalitas misi Gereja.
Gereja tidak diperuntukkan hanya bagi satu suku, bangsa, bahasa, kebudayaan, atau kelompok sosial tertentu. Kristus mengutus para murid untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dari perintah Kristus inilah Gereja terus menjalankan misi pewartaan Injil, pelayanan kasih, perayaan sakramen, dan kesaksian iman di tengah berbagai bangsa serta kebudayaan.
Baca Juga: Gereja Katolik yang Satu: Arti dan Dasar Imannya
Apa Arti Gereja yang Katolik?
Untuk memahami arti Gereja yang Katolik, kita perlu kembali kepada makna dasar kata “katolik”. Dalam tradisi Gereja, kekatolikan mempunyai dua dimensi yang saling berhubungan. Pertama, Gereja disebut katolik karena Kristus hadir di dalamnya dan Gereja menerima kepenuhan sarana keselamatan yang dipercayakan Kristus. Kedua, Gereja disebut katolik karena diutus kepada seluruh umat manusia.
Dengan demikian, “katolik” tidak semata-mata berbicara mengenai luasnya wilayah geografis Gereja. Sebuah komunitas Gereja tidak menjadi katolik hanya karena anggotanya tersebar di banyak negara. Kekatolikan berakar terutama pada Kristus dan misi yang diberikan-Nya.
Yesus Kristus adalah pusat kehidupan Gereja. Gereja menerima Sabda Allah, sakramen-sakramen, pelayanan apostolik, dan perutusan untuk mewartakan Injil. Semua itu diarahkan kepada keselamatan manusia dan persatuan seluruh ciptaan dalam Kristus.
Karena itu, ketika umat mengakui “Gereja yang Katolik”, mereka mengakui sebuah Gereja yang memiliki dimensi universal sekaligus hidup secara nyata dalam Gereja-Gereja lokal di berbagai tempat.
Baca Juga: Gereja yang Kudus: Arti Kekudusan Gereja Katolik
Dasar Kitab Suci tentang Kekatolikan Gereja
Walaupun kata “katolik” dalam pengertian sebagai salah satu sifat Gereja tidak muncul secara eksplisit dalam Perjanjian Baru, realitas kekatolikan sudah sangat jelas dalam kehidupan dan perutusan Gereja perdana.
Amanat Kristus kepada Semua Bangsa
Salah satu dasar terpenting terdapat dalam Amanat Agung Yesus:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...”
— Matius 28:19
Perintah ini menunjukkan bahwa Injil tidak boleh dibatasi kepada satu kelompok manusia. Para rasul diutus melampaui batas geografis, etnis, budaya, dan bahasa.
Yesus tidak berkata agar para murid hanya mewartakan Injil kepada bangsa tertentu. Ia memerintahkan mereka pergi kepada semua bangsa. Di sinilah salah satu akar utama sifat katolik Gereja.
Hal serupa terlihat ketika Yesus berkata kepada para rasul bahwa mereka akan menjadi saksi-Nya “di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Gereja dimulai dalam konteks tertentu, tetapi misinya sejak awal bersifat universal.
Pentakosta dan Gereja yang Melampaui Bahasa
Peristiwa Pentakosta memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai universalitas Gereja. Ketika Roh Kudus turun atas para rasul, orang-orang dari berbagai daerah mendengar pewartaan tentang karya-karya besar Allah dalam bahasa mereka masing-masing.
Pentakosta memperlihatkan bahwa Roh Kudus tidak menghapus keberagaman manusia. Sebaliknya, Roh Kudus mempersatukan manusia dalam iman tanpa harus menjadikan mereka seragam.
Inilah salah satu karakter penting Gereja Katolik: kesatuan tidak berarti keseragaman. Umat dapat berasal dari bangsa, bahasa, tradisi, dan kebudayaan berbeda, tetapi dipersatukan dalam Kristus.
Keselamatan Ditawarkan kepada Semua
Perjalanan Gereja perdana juga memperlihatkan bagaimana komunitas Kristen secara bertahap memahami bahwa Injil ditawarkan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Pengalaman Rasul Petrus dengan Kornelius dalam Kisah Para Rasul menjadi salah satu peristiwa penting. Petrus semakin memahami bahwa Allah tidak membedakan orang berdasarkan bangsa, tetapi menerima mereka yang takut akan Dia dan melakukan kebenaran.
Rasul Paulus kemudian menjadi salah satu tokoh utama pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia menegaskan bahwa dalam Kristus perbedaan-perbedaan manusia tidak boleh menjadi penghalang bagi persatuan umat Allah.
Dengan demikian, kekatolikan bukan gagasan yang baru muncul berabad-abad setelah para rasul. Benihnya sudah terdapat dalam amanat Kristus dan perkembangan Gereja apostolik.
Baca Juga: Sejarah Gereja Katolik dari Awal hingga Modern
Asal-Usul Istilah “Gereja Katolik”
Penggunaan awal istilah “Gereja Katolik” dapat ditemukan dalam tulisan Santo Ignasius dari Antiokia pada awal abad kedua. Dalam suratnya kepada umat di Smirna, ia menggunakan ungkapan yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “Gereja Katolik”.
Penggunaan istilah tersebut menunjukkan bahwa sejak masa sangat awal dalam sejarah Kekristenan, kata “katolik” digunakan untuk menggambarkan Gereja dalam universalitas dan kepenuhannya.
Pada masa-masa berikutnya, istilah ini semakin penting ketika Gereja harus membedakan iman yang diterima dan diwariskan secara luas dari para rasul dengan berbagai kelompok yang memisahkan diri atau mengajarkan doktrin yang dipandang tidak sesuai dengan iman apostolik.
Karena itu, sejak masa awal, tiga gagasan menjadi erat berkaitan: universalitas, kesatuan, dan iman apostolik.
Baca Juga: Gereja yang Apostolik: Arti dan Dasar Iman Katolik
Mengapa Gereja Disebut Katolik?
Ada beberapa aspek penting yang membantu menjelaskan mengapa Gereja disebut katolik.
Kristus Hadir dalam Gereja
Pertama-tama, Gereja bersifat katolik karena Kristus hadir di dalamnya. Kekatolikan Gereja tidak berasal dari kekuatan manusia, jumlah anggota, pengaruh politik, atau luas wilayahnya.
Kristus adalah Kepala Gereja. Gereja hidup dari Kristus, menerima Injil-Nya, merayakan karya keselamatan-Nya dalam sakramen, dan melanjutkan perutusan yang dipercayakan-Nya kepada para rasul.
Karena Kristus adalah pusat Gereja, kekatolikan tidak dapat dipisahkan dari hubungan Gereja dengan-Nya.
Gereja Menerima Kepenuhan Sarana Keselamatan
Dalam pemahaman Katolik, Gereja menerima sarana-sarana yang dipercayakan Kristus bagi kehidupan umat beriman: Sabda Allah, sakramen-sakramen, pelayanan yang diwariskan dalam kesinambungan apostolik, kehidupan doa, serta persekutuan umat Allah.
Ekaristi mempunyai tempat yang sangat penting. Dalam Ekaristi, Gereja berkumpul di sekitar Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia.
Karena itu, sifat katolik tidak hanya menunjuk kepada “semua orang”, tetapi juga kepada kepenuhan kehidupan Gereja yang bersumber dari Kristus.
Gereja Diutus kepada Seluruh Manusia
Dimensi kedua adalah misioner. Gereja bersifat katolik karena perutusannya mencakup seluruh umat manusia.
Tidak ada bangsa yang terlalu jauh, budaya yang terlalu asing, atau kelompok sosial yang berada di luar perhatian misioner Gereja. Injil ditawarkan kepada semua orang dengan tetap menghormati kebebasan manusia.
Misi Gereja bukan sekadar memperbesar jumlah anggota. Tujuan terdalamnya adalah mewartakan Kristus, menghadirkan kasih Allah, melayani manusia, membela martabat pribadi, membangun perdamaian, dan mengundang manusia kepada persekutuan dengan Allah.
Gereja Katolik dan Keberagaman Bangsa
Salah satu tanda nyata kekatolikan adalah keberadaan Gereja di tengah begitu banyak bangsa dan kebudayaan.
Umat Katolik dapat merayakan iman yang sama di Indonesia, Italia, India, Korea, Nigeria, Brasil, Filipina, Meksiko, dan berbagai wilayah lainnya. Bahasa, musik, seni, pakaian, arsitektur, serta sejumlah ekspresi budaya dapat berbeda, tetapi iman kepada Kristus dan kehidupan sakramental mempersatukan mereka.
Katolik Tidak Berarti Seragam
Universalitas Gereja tidak menuntut semua umat mempunyai kebudayaan yang sama. Gereja justru dapat menerima unsur-unsur baik dari berbagai kebudayaan sejauh dapat dipadukan dengan iman Kristiani.
Proses ini sering disebut inkulturasi. Injil memasuki suatu kebudayaan, menerangi serta memurnikannya, sementara nilai-nilai budaya yang baik dapat memperkaya cara umat menghayati dan mengungkapkan iman.
Karena itu, Gereja Katolik di Indonesia dapat mempunyai ekspresi budaya yang berbeda dari Gereja Katolik di Afrika atau Eropa tanpa kehilangan kesatuan iman.
Keberagaman semacam ini bukan ancaman bagi kekatolikan. Bila dihayati dalam persekutuan iman, keberagaman justru memperlihatkan luasnya daya jangkau Injil.
Gereja Universal dan Gereja Lokal
Kekatolikan juga tampak dalam hubungan antara Gereja universal dan Gereja lokal.
Gereja tidak hanya hadir sebagai sebuah organisasi internasional dengan pusat administrasi. Gereja hidup secara konkret dalam komunitas-komunitas lokal. Umat berkumpul, mendengarkan Sabda Allah, merayakan sakramen, berdoa, melayani sesama, dan menjalankan karya kasih.
Keuskupan merupakan bentuk penting Gereja lokal yang dipimpin oleh seorang uskup dalam persekutuan dengan para uskup lainnya dan Uskup Roma.
Paroki-paroki kemudian menjadi tempat umat mengalami kehidupan Gereja secara dekat dalam keseharian.
Dengan demikian, kekatolikan bukan sesuatu yang abstrak. Gereja universal hadir dalam kehidupan konkret umat di berbagai daerah.
Seorang Katolik yang mengikuti Ekaristi di sebuah paroki kecil tetap berada dalam persekutuan iman yang jauh lebih luas daripada komunitas lokalnya sendiri. Ia menjadi bagian dari umat Allah yang tersebar di seluruh dunia.
Gereja yang Katolik dan Kesatuan Iman
Sifat “katolik” tidak dapat dipisahkan dari sifat Gereja yang “satu”. Universalitas tanpa kesatuan akan berubah menjadi kumpulan komunitas yang tidak mempunyai ikatan mendasar.
Sebaliknya, kesatuan Gereja bukanlah keseragaman mutlak.
Umat Katolik dipersatukan oleh iman kepada Allah Tritunggal, pengakuan akan Yesus Kristus, kehidupan sakramental, warisan apostolik, dan persekutuan Gereja.
Kesatuan ini memungkinkan keberagaman yang sah.
Dalam sejarah, Gereja mengalami berbagai perpecahan yang menyakitkan. Karena itu, doa dan usaha menuju persatuan umat Kristiani merupakan bagian penting dari kehidupan Gereja. Gerakan ekumenis berusaha membangun dialog, kerja sama, saling pengertian, dan pencarian menuju kesatuan yang dikehendaki Kristus.
Kekatolikan sejati mendorong umat untuk membangun jembatan, bukan memperbesar permusuhan.
Gereja Katolik Bersifat Misioner
Jika Gereja sungguh katolik, Gereja tidak dapat hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Sifat universal Gereja secara langsung melahirkan panggilan misioner.
Yesus memerintahkan para murid pergi dan mewartakan Injil. Perintah tersebut tidak hanya berlaku bagi para rasul pada abad pertama, tetapi menjadi tugas Gereja sepanjang zaman.
Misi itu dilaksanakan melalui banyak bentuk: pewartaan Sabda, pendidikan, pelayanan kesehatan, karya sosial, pembelaan martabat manusia, pendampingan keluarga, perhatian kepada orang miskin, pelayanan kepada mereka yang tersingkir, serta kesaksian hidup sehari-hari.
Setiap Orang Katolik Dipanggil Menjadi Saksi
Misi bukan hanya pekerjaan imam, biarawan, biarawati, atau misionaris yang pergi ke negeri jauh. Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Kristus.
Orang tua menjalankan misi ketika mendidik anak dalam iman dan kasih. Seorang guru menjalankan misi ketika mengajar dengan kejujuran dan perhatian kepada murid. Seorang pekerja memberi kesaksian ketika menjalankan tanggung jawab dengan adil. Kaum muda menjadi saksi ketika berani mempertahankan kebenaran, kesucian hidup, kasih, dan kepedulian kepada sesama.
Dengan demikian, misi Gereja berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Katolik Berarti Terbuka bagi Semua
Salah satu konsekuensi penting dari sifat katolik adalah keterbukaan terhadap seluruh manusia.
Gereja tidak boleh berubah menjadi komunitas eksklusif yang hanya nyaman dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang tertentu. Gereja dipanggil untuk menjadi rumah yang membuka pintunya bagi manusia dari berbagai keadaan.
Kristus sendiri mendekati orang sakit, orang berdosa, orang miskin, mereka yang disingkirkan masyarakat, serta orang-orang dari latar belakang berbeda.
Karena itu, komunitas Katolik dipanggil untuk menampilkan wajah Kristus melalui keramahan, belas kasih, kesabaran, dan pelayanan.
Universalitas Injil harus tampak bukan hanya dalam ajaran, tetapi juga dalam sikap umat terhadap sesama.
Kekatolikan dan Martabat Manusia
Karena Gereja diutus kepada semua manusia, kekatolikan mempunyai konsekuensi sosial.
Setiap manusia mempunyai martabat yang harus dihormati. Perbedaan suku, warna kulit, kebangsaan, bahasa, kondisi ekonomi, atau status sosial tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan seseorang.
Iman Katolik mengajak umat melihat sesama sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah.
Karena itu, perhatian kepada kaum miskin dan mereka yang lemah bukan tambahan opsional dalam kehidupan Gereja. Pelayanan kasih merupakan salah satu wujud nyata kesaksian Injil.
Gereja yang mengaku universal harus mempunyai hati yang cukup luas untuk memperhatikan mereka yang sering tidak diperhatikan dunia.
Tantangan Menjadi Gereja yang Katolik pada Zaman Modern
Pada zaman modern, sifat katolik Gereja menghadapi berbagai tantangan.
Globalisasi membuat manusia semakin terhubung, tetapi tidak selalu semakin bersatu. Perbedaan politik, ekonomi, budaya, ras, dan agama masih dapat menimbulkan ketegangan. Media sosial bahkan dapat membentuk kelompok-kelompok tertutup yang hanya mendengarkan pandangan sendiri.
Dalam situasi seperti ini, umat Katolik dipanggil untuk menghayati universalitas iman secara nyata.
Melawan Sikap Eksklusif
Komunitas Gereja perlu menghindari sikap yang menganggap kelompok sendiri lebih berharga daripada orang lain. Identitas Katolik tidak seharusnya menghasilkan kesombongan rohani.
Semakin seseorang memahami sifat katolik Gereja, semakin ia seharusnya mempunyai hati yang luas.
Ia dapat teguh dalam iman tanpa harus membenci mereka yang berbeda.
Membangun Dialog
Hidup di tengah masyarakat majemuk menuntut kemampuan berdialog.
Dialog tidak berarti meninggalkan keyakinan sendiri. Dialog justru menuntut seseorang memahami imannya dengan baik sehingga mampu berbicara dengan jujur, tenang, dan penuh penghormatan kepada orang lain.
Bagi umat Katolik Indonesia yang hidup dalam masyarakat dengan beragam agama, budaya, dan suku, semangat ini mempunyai arti yang sangat konkret.
Umat dipanggil menjadi pembawa damai, bekerja sama dalam kebaikan bersama, menghormati kebebasan beragama, dan memberikan kesaksian iman melalui kehidupan yang penuh kasih.
Menghayati Gereja yang Katolik dalam Kehidupan Sehari-hari
Pengakuan terhadap Gereja yang Katolik seharusnya menghasilkan perubahan dalam cara hidup.
Kekatolikan pertama-tama dapat diwujudkan dengan memperdalam hubungan dengan Kristus. Tidak mungkin seseorang menghayati universalitas Gereja tanpa berakar pada Kristus, karena Kristuslah sumber kekatolikan Gereja.
Kedua, umat perlu mencintai Sabda Allah dan kehidupan sakramental. Ekaristi khususnya mengingatkan bahwa umat dipersatukan bukan karena kesamaan sosial, tetapi karena Kristus.
Ketiga, umat dipanggil membuka hati terhadap sesama. Lingkungan keluarga, paroki, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat menjadi tempat pertama untuk mempraktikkan kekatolikan.
Keempat, umat perlu berani keluar dari zona nyaman. Ada orang sakit yang perlu dikunjungi, keluarga yang membutuhkan dukungan, kaum miskin yang membutuhkan pertolongan, orang kesepian yang membutuhkan teman, dan generasi muda yang membutuhkan pendampingan.
Kekatolikan menjadi nyata ketika kasih Kristus menjangkau mereka.
Gereja Katolik Bukan Hanya Sebuah Nama
Memahami kata “Katolik” hanya sebagai label agama akan membuat maknanya menjadi sangat sempit.
Katolik adalah identitas sekaligus panggilan.
Menjadi Katolik berarti menjadi bagian dari Gereja yang dipanggil untuk memiliki hati universal. Seorang Katolik tidak hanya memikirkan keselamatan dan kenyamanan dirinya sendiri. Ia dipanggil memperhatikan kehidupan Gereja, masyarakat, kaum miskin, perdamaian, keadilan, dan kebutuhan sesama.
Dalam pengertian ini, kata “katolik” menuntut umat untuk terus memperluas hati.
Gereja tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri. Gereja selalu diutus.
Hubungan Gereja yang Katolik dengan Gereja yang Apostolik
Sifat katolik juga tidak dapat dipisahkan dari sifat apostolik.
Mengapa?
Karena misi universal Gereja berasal dari Kristus dan dipercayakan kepada para rasul. Gereja tidak menciptakan sendiri isi Injil yang diwartakannya. Gereja menerima iman dan perutusan itu dari Kristus melalui kesaksian apostolik.
Karena itu, kekatolikan yang sejati selalu mempunyai akar apostolik.
Universalitas tidak berarti bahwa Gereja dapat mengubah inti iman mengikuti setiap perubahan zaman. Sebaliknya, Gereja membawa iman apostolik yang sama ke dalam konteks budaya dan zaman yang terus berubah.
Di sinilah terdapat keseimbangan penting: setia kepada iman yang diterima sekaligus mampu mewartakannya kepada manusia dalam berbagai kebudayaan dan generasi.
Kekatolikan sebagai Persatuan dalam Keberagaman
Salah satu gambaran indah mengenai Gereja adalah tubuh Kristus.
Tubuh mempunyai banyak anggota, tetapi tetap satu tubuh. Setiap anggota mempunyai fungsi dan kekhasannya sendiri.
Gambaran ini membantu memahami kekatolikan.
Dalam Gereja terdapat berbagai panggilan, spiritualitas, ritus, komunitas, kebudayaan, pelayanan, dan karisma. Tidak semuanya harus sama. Keberagaman dapat menjadi kekayaan ketika diarahkan kepada pembangunan tubuh Kristus.
Persoalan muncul ketika perbedaan berubah menjadi persaingan atau alasan untuk saling merendahkan.
Karena itu, Gereja yang katolik membutuhkan kerendahan hati. Setiap anggota perlu menyadari bahwa ia tidak memiliki seluruh karunia sendirian. Allah memberikan karunia yang berbeda kepada anggota-anggota umat-Nya agar mereka saling melengkapi.
Gereja yang Katolik sebagai Rumah bagi Semua Bangsa
Sepanjang sejarah, Gereja telah hadir di tengah berbagai peradaban. Bentuk-bentuk kebudayaan berubah, kerajaan muncul dan runtuh, bahasa berkembang, dan masyarakat mengalami perubahan besar. Namun perintah Kristus untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa tetap menjadi bagian mendasar dari identitas Gereja.
Karena itu, Gereja tidak dapat mengidentifikasikan dirinya secara mutlak dengan satu bangsa, ras, atau kebudayaan.
Gereja berada di tengah bangsa-bangsa, tetapi perutusannya melampaui batas bangsa.
Hal ini penting terutama dalam dunia yang sering terpecah oleh nasionalisme sempit, rasisme, konflik etnis, atau pertentangan kelompok.
Kekatolikan mengingatkan umat bahwa persaudaraan dalam Kristus melampaui berbagai batas buatan manusia.
Refleksi Iman: Apakah Hati Kita Sudah Katolik?
Mudah mengatakan bahwa kita anggota Gereja Katolik. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: apakah hati kita sungguh memiliki semangat katolik?
Apakah kita hanya mengasihi orang yang sama dengan kita?
Apakah kita bersedia menerima orang yang berbeda latar belakang?
Apakah kita memperhatikan mereka yang miskin dan tersingkir?
Apakah kita membawa damai ketika masyarakat terpecah?
Apakah kita berani menjadi saksi Kristus tanpa merendahkan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kekatolikan dari tingkat konsep menuju kehidupan nyata.
Menjadi bagian dari Gereja yang Katolik berarti belajar mempunyai hati yang semakin menyerupai hati Kristus: hati yang terbuka, penuh belas kasih, setia kepada kebenaran, dan bersedia memberikan diri bagi keselamatan manusia.
Kesimpulan: Gereja yang Katolik Diutus kepada Seluruh Dunia
Gereja yang Katolik adalah Gereja yang bersifat universal karena Kristus hadir di dalamnya, karena menerima kepenuhan sarana keselamatan yang dipercayakan Kristus, dan karena diutus kepada seluruh umat manusia.
Kekatolikan tidak sekadar berarti Gereja hadir di banyak negara. Maknanya jauh lebih mendalam. Gereja dipanggil membawa Injil Kristus kepada semua bangsa sambil merangkul keberagaman yang dapat dipersatukan dalam iman.
Dari Yerusalem hingga berbagai penjuru dunia, misi yang dipercayakan Kristus kepada para rasul terus berlangsung. Setiap generasi umat beriman menerima tugas yang sama: mengenal Kristus, hidup dalam persekutuan dengan-Nya, dan membawa kasih-Nya kepada dunia.
Karena itu, ketika dalam Syahadat kita berkata, “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik,” kita tidak hanya sedang mengucapkan sebuah rumusan iman. Kita juga sedang mengakui panggilan.
Kita dipanggil menjadi bagian dari Gereja yang tidak tertutup pada dirinya sendiri, melainkan pergi keluar; Gereja yang tidak membangun tembok permusuhan, tetapi membuka jalan perjumpaan; Gereja yang tidak kehilangan identitasnya ketika bertemu keberagaman, tetapi membawa Kristus ke tengah keberagaman tersebut.
Menjadi Katolik berarti menerima panggilan untuk memiliki hati yang semakin luas: setia kepada Kristus, bersatu dalam Gereja, menghargai keberagaman, melayani sesama, membangun perdamaian, dan menjadi saksi Injil di mana pun kita berada.
Dengan cara itulah sifat katolik bukan hanya menjadi kata dalam Syahadat, tetapi menjadi kenyataan yang hidup dalam Gereja dan dalam kehidupan setiap orang beriman.
Doa untuk Menghayati Kekatolikan Gereja
Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur karena melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Engkau memanggil kami menjadi bagian dari umat-Mu. Engkau menghimpun manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan kebudayaan menjadi satu keluarga dalam iman.
Utuslah Roh Kudus-Mu agar kami semakin mencintai Gereja-Mu dan mampu menghayati panggilan sebagai umat yang terbuka kepada semua orang. Jauhkanlah kami dari kesombongan, prasangka, kebencian, dan sikap yang memecah belah.
Ajarlah kami tetap teguh dalam kebenaran sekaligus penuh kasih kepada sesama. Bukalah mata kami agar mampu melihat mereka yang miskin, terlupakan, kesepian, dan membutuhkan pertolongan.
Semoga melalui kehidupan kami, kasih Kristus semakin dikenal. Jadikanlah kami pembawa damai, pelayan persaudaraan, dan saksi Injil di tengah keluarga, Gereja, serta masyarakat.
Bimbinglah Gereja-Mu agar senantiasa setia kepada perutusan Kristus untuk membawa Kabar Gembira kepada segala bangsa sampai seluruh umat manusia menemukan kepenuhan hidup di dalam Engkau.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Demikianlah Gereja yang Katolik: Arti dan Maknanya, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
